JATENG.NASDEM.ID – Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan NasDem Temanggung Eko Budi Hartono menilai salah satu cara paling efektif untuk mendulang perolehan e-KTA adalah pembentukan pengurus di tingkat ranting atau DPRt.
Ia mengatakan jika pengurus DPD, DPC atau anggota dewan memetik sendiri di lapangan, akan cepat mendapatkan jalan buntu karena keterbatasan jaringan sosial dari masing-masing pengurus atau anggota Dewan.
Hal itu disampaikan Eko Budi Hartono, suami dari Kakak Umi Fadilah anggota DPRD Temanggung dari NasDem. Ia menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk mendapatkan e-KTA. Kiat itu berdasar pengalaman dan pengamatan selama ini.
Pertama, memetik langsung dari warga yang memiliki KTP. ‘’Umumnya sistem rekrutmen ini bertumpu pada relasi kekerabatan dan sosial keagamaan. Entah itu saudara, anak, istri, orang tua maupun hubungan kekerabatan lainnya. Namun juga bisa menyentuh pada relasi sosial, seperti tetangga, teman satu hoby atau profesi, rekan alumni sekolah atau paguyuban seni, kelompok kajian agama dan yang lain,’’ katanya.
Kedua adalah mengandalkan pada pemberian bantuan atau kegiatan adhoc lainnya. ‘’Umumnya cara ini dilakukan oleh anggota dewan atau kader yang iingin membagikan sumbangan atau bantuan bagi kelompok tertentu, sebelum mereka menerima manfaat, maka terlebih dahulu didata sekaligus mengumpulkan KTP-nya,’’ ujarnya.
Sementara itu, ia menjelaskan cara ketiga yaitu pembentukan struktur. ‘’Jadi kegiatannya dimulai dengan membentuk struktur dulu baik di tingkat cabang maupun ranting. Untuk tingkat cabang biasanya tidak signifikan karena berkisar di delapan anggota untuk setiap kecamatan, sedangkan yang paling potensial adalah tingkat ranting atau desa/kelurahan dengan 55 anggota,’’ ujarnya.
Menurut Eko Budi Hartono atau sering dipanggil Kakak Tony, dari ketiga cara tersebut yang paling potensial untuk digarap lebih lanjut adalah yang ketiga.
‘’Model rekrutmen pertama dan kedua, umumnya haya memberikan pengaruh pada makin banyaknya jumlah capaian dari setiap kader. Namun pada umumnya tidak berkembang, tidak beranak pinak, karena yang bersangkutan hanya sebatas memberikan KTP dan foto diri, selanjutnya yang melakukan input adalah tim admin yang telah kita siapkan,’’ katanya.
‘’Namun kalau hanya sebatas untuk berbura e-KTA guna mencapai target baik sebagai anggota dewan atau pengurus daerah, model pertama dan kedua ini efektif,” ujarnya.
Menurut Kakak Tony, rekrutmen model ketiga yaitu terlebih dahulu membentuk sebuah kepengurusan baru kemudian diberikan e-KTAnya, akan memberikan kemanfaatan yang lebih besar.
‘’Cara ini memang membutuhkan energi yang lebih banyak. Karena prosesnya agak panjang, yaitu harus membentuk kepengurusan dulu misalnya ditingkat ranting. Kita harus punya relasi dengan tokoh yang ada di desa/kelurahan tersebut, baru kemudian mendiskusikan pembentukan 55 pengurus lainnya,’’ ujarnya.
Namun cara ini dinilainya sangat efekif dan potensial untuk memberikan manfaat jangka panjang, misalnya untuk kepentingan Pileg 2024. ‘’Umumnya, orang yang bersedia bergabung menjadi pengurus di tingkat kelurahan/desa itu tidak hanya mempertimbangkan aspek praktis/pragmatis karena mendapatkan bantuan atau imbalan tertentu tetapi lebih karena didorong oleh faktor ideologis,’’ ujarnya menjelaskan.


