Semarang – Siapa yang tak gembira menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tak hanya diisi dengan beribadah, namun setiap bulan Ramadan di Jawa Tengah juga sarat dengan tradisi yang masih dipertahankan turun temurun.
Nasdemjateng.id merangkum beberapa tradisi Ramadan di Jawa Tengah yang tidak boleh terlewatkan.
1. Padusan

Padusan yang berasal dari kata padus atau mandi bermakna membersihkan jiwa dan raga sehari sebelum puasa agar siap menghadapi bulan suci Ramadan.
Tradisi ini ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang tinggal dekat dengan sumber air yang disebut dengan umbul.
Di Kabupaten Semarang, padusan bisa disaksikan di Yatnyono, Ungaran.
2. Dandangan

Dandangan diyakini sebagai salah satu tradisi peninggalan Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu. Berupa tradisi peninggalan Jakfar Shodiq (Sunan Kudus) untuk mengumumkan hari pertama Ramadan.
Bunyi bedug “dang dang dang” yang mengiringi prosesi ini membuat tradisi ini disebut dandangan.
Di Kudus, kini perayaan ini dibarengi dengan pasar rakyat dengan berbagai penampilan seni yang berlangsung selama beberapa hari. Seru banget ya!
3. Dugderan

Dugderan merupakan tradisi asli kota ATLAS, Semarang. Dug Der berasal dari gabungan suara ‘dug’ bedug dan ‘der’ petasan yang semarak diperdengarkan menjelang puasa.
Tradisi ini biasanya dilakukan dengan mengarak warak ngendok, hewan mitologi yang melambangkan semangat warga Kota Semarang.
Dugderan biasanya dipusatkan di Masjid Kauman Semarang. Sebelumnya acara itu, disemarakkan dengan berbagai agenda pengajian hingga puncaknya yaitu pembagian roti gandjel rel.
4. Nyadran

Menjelang Ramadan, warga Jawa Tengah lazim melakukan tradisi nyadran. Tradisi yang dilakukan kolektif sekampung diawali dengan mengunjungi makam desa untuk mengirim doa secara bersama-sama.
Selepas dari makam, warga akan berduyun-duyun datang ke lapangan atau masjid untuk berdoa bersama dan menutup acara dengan makan bersama.
Dalam makan bersama, masyaarakat biasanya akan membawa nasi lengkap dengan lauk pauk sendiri dari rumah.
5. Arwah Jamak

Masyarakat Jawa yang dikenal kental dengan agama Islam rutin melakukan arwah jamak. Tradisi yang dilakukan turun temurun sejak masa Sunan Kalijaga ini masih lestari hingga sekarang.
Arwah jamak merupakan pembacaan doa untuk orang tua maupun sanak saudara dan leluhur yang sudah meninggal. Tradisi ini akan dilakukan menjelang bulan Ramadan maupun sepuluh hari terakhir pada malam ganjil bulan Ramadan.
Jawa Tengah memang kaya akan tradisinya. Namun kondisi pandemi akibat Covid-19 membuat berbagai tradisi ini terpaksa libur selama dua kali Ramadan belakangan ini.
Semoga tahun depan kita bisa kembali merayakan berbagai tradisi luhur ini ya… (Nasdemjateng.id)

