JATENG.NASDEM.ID – Sebagai upaya meningkatkan kinerja organisasi, NasDem Temanggung melakukan revitalisasi terhadap sejumlah pengurus cabang, salah satunya DPC Kecamatan Bansari. Kendati untuk jabatan ketua masih dipercayakan kepada Kakak Nasrodin, tetapi dilakukan pembaruan untuk posisi ketua bappilu dan bendahara.
Menurut Wakil Kepala Bidang Oraganisasi dan Keanggotaan Eko Budi Hartono, upaya revitalisasi terbatas itu dilakukan untuk mendapatkan kinerja organisasi dalam rangka menyongsong Pemilu Februari 2024.
‘’Saya kira revitalisasi itu merupakan sebuah kebutuhan organisasi, di manapun itu berada. Jadi sebenarnya bukan sesuatu yang sangat luar biasa,’’ ujarnya, Minggu (1/8).
Kak Toni demikan Eko Budi Hartono sering disapa, mengatakan NasDem Temanggung telah mencanangkan untuk mencapai kemenangan besar di Pemilu 2024. ‘’DPRD Temanggung itu menyiapkan 45 kursi anggota, pada 2014 NasDem kebagian empat kursi, tetapi mengempis pada 2019 tinggal separuhnya saja. Karena itu, harga mati untuk 2024 adalah kembalinya seluruh kursi yang berhasil diraup pada 2014, sedangkan target kita adalah sedikitnya mendulang satu kursi di setiap dapil, karena ada enam dapil, maka minimal 6 kursi,’’ katanya menjelaskan.
Terkait dengan target tersebut, NasDem Temanggung terus melakukan pembenahan secara internal, salah satunya adalah dengan melakukan revitalitasi struktur seperti yang dilakukan di DPC Bansari tersebut.
Selain penyegaran kepengurusan, lanjut suami dari anggota DPRD Temanggung dari NasDem Kakak Umi Fadhilah itu, NasDem Temanggung juga sedang mefokuskan diri untuk mempersiapakan pembentukan DPRt di sejumlah kelurahan dan desa.
‘’Saat ini kondisinya memang sedang tidak memungkinkan kita untuk banyak melakukan kegiatan tatap muka dengan banyak orang, karena itu, strategi kita adalah menemui tokoh-tokoh kunci di suatu wilayah, untuk kemudian nanti bila suasananya sudah memungkinkan maka akan dilanjutkan dengan pertemuan terbuka dengan melibatkan banyak orang,’’ katanya.
Pertemuan terakhir, ia menjelaskan, dillakukan Sabtu kemarin di Kecamatan Kranggan yang melibatkan tokoh-tokoh dari lima desa di kecamatan tersebut. ‘’Dalam pertemuan tersebut memang tidak dibicarakan secara detail tentang keterlibatan mereka, namun sebenarnya para tokoh-tokoh yang rawuh itu sudah paham maksud dan tujuan pertemuan yang kami adakan,’’ ujarnya.
Menurut Kakak Toni, membangun struktur di tingkat grassroot harus dilakukan dengan model pendekatan pribadi, hal ini karena terkait dengan soal keyakinan. ‘’Memang diperlukan waktu lebih lama untuk bisa meyakinkan warga terhadap sebuah partai politik, sehingga mereka bersedia bergabung,’’ katanya.
‘’Dalam proses peyakinan itu, akan lebih mudah dilakukan apabila kita menggandeng dengan orang-orang yang memiliki pengaruh di kampung tersebut, sehingga sang tokoh bisa memberikan endorsement kepada warga,” katanya menambahkan.
Beruntunglah karena Kakak Toni yang saat ini sudah masuk masa usia pensiun dari aparat sipil negara (ASN) pernah beberapa kali menjabat sebagai camat di tempat yang berbeda-beda di wilayah Temanggung ini. ‘’Latar belakang saya sebagai camat sangat membantu dalam pengembangan NasDem. Alhamdulillah, warga mengenal saya dengan tanpa ada catatan negatif, sehingga mereka bisa menerima silaturahmi yang sedang kami kembangkan,’’ katanya.
Sudah barang tentu meskipun dirinya mantan camat, lanjut Kak Toni, tidak semua warga mengenalnya, ‘’Tetapi minimal saya mengenal sejumlah tokoh di setiap kelurahan, dan mereka bersedia membantu saya. Alhasil, kenalan-kenalan lama tersebut berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan NasDem dengan warga,” katanya.
Model live ini di sebuah desa, kata Kak Toni, juga efektif untuk menjaring warga agar bersedia bergabung dengan Partai NasDem. ‘’Inilah makanya, membentuk jaringan di tingkat bawah itu tidak bisa dilakukan dengan gemebyar, tapi dengan teknik perang gerilya, operasi senyap, tetiba satu kampung yang dulunya didominasi oleh warna politik lain, berubah menjadi lautan biru,” katanya berbagi strategi.


