JATENG.MEDIA.ID – Di tengah pandemi Covid–19 dan penerapan pembatasan pergerakan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang mengharuskan warga tinggal di rumah, NasDem Temanggung terus bergerak menjaring kader-kader baru. Kendati tidak lewat tatap muka, tetapi secara daring proses rekrutmen dalam rangka menambah pundi-pundi e-KTA dan penguatan struktur di tingkat DPRt terus berlangsung. ‘’Kami tidak tidur,’’ ujar Wakabid Organisasi dan Keanggotaan NasDem Temanggung Eko Budi Hartono.
Menurut Kak Toni sapaan akrab Eko Budi Hartono, NasDem Temanggung terus berupaya untuk meluaskan jaringan.
‘’Kami tidak meliburkan diri. Nasdem Temanggung terus bekerja. Hanya saja, kami tidak turun ke lapangan bertemu dengan warga, tetapi menggunakan jaringan secara daring,’’ katanya.
Minggu lalu, lanjut mantan camat di Kabupaten Temanggung ini, pihaknya menggarap jaringan pemasaran rokok herbal yang tidak hanya terbatas di Temanggung, tetapi juga merambah Wonosobo, Purworejo, dan Magelang.
‘’Seirama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, maka permintan rokok herbal ini kian hari semakin tinggi. Karena itu dibutuhkan tambahan tenaga-tenaga marketing sebagai konsekuansi melebarnya pasar. Dengan demikian, jumlah konsumen bertambah dan tenaga pemasaran juga naik,’’ katanya.
Segmen penghisap rokoh herbal ini tergolong baru, ujar suami Kakak Umi Fadhilah anggota DPRD Temanggung dari NasDem itu. ‘’Belum ada partai politik yang menggarap sektor rokok herbal ini,” katanya menambahkan.
Tentu saja, lanjut dia, jaringan ini dibangun secara diam-diam bahkan di antara sesama penggiat di bidang usaha ini tidak saling tahu. ‘’Mereka itu pasukan gorong-gorong,’’ ujarnya. Namun demikian, potensinya sangat besar ‘’Sampai saat ini kami sudah bisaa merekrut 46 penggiat rokok herbal,’’ ujarnya.
Sebagai upaya untuk menajamkan gerakan di sektor rokok herbal ini, minggu lalu, Kakak Toni bertemu dengan penggerak rokok herbal Bapak Nur Sodikin dan Bapak Paring. ‘’Bahkan Pak Nur Sodikin bersedia untuk maju dalam Pileg Februari 2024 untuk DPRD Provinsi,’’ katanya.
‘’Membujuk Pak Nur Sodikin untuk bergabung ke NasDem tidak bisa dilakukan secara terbuka, tetapi nanti jika saatnya sudah tiba, maka akan diadakan acara deklarasi bagi kader-kader baru yang bergabung secara diam-diam ini. Mereka bergabung karena kami melakukan pendekatan pribadi baru kemudian dilanjutkan secara kelembagaan,” katanya menjelaskan.
Menurut Kakak Toni, membangun struktur di tingkat grassroot harus dilakukan dengan model pendekatan pribadi, hal ini karena terkait dengan soal keyakinan. ‘’Memang diperlukan waktu lebih lama untuk bisa meyakinkan warga terhadap sebuah partai politik, sehingga mereka bersedia bergabung,’’ katanya.
Ia menambahkan, ‘’Dalam proses peyakinan itu, akan lebih mudah dilakukan apabila kita menggandeng dengan orang-orang yang memiliki pengaruh di kampung tersebu, sehingga sang tokoh bisa memberikan endorsemen kepada warga.’’
Beruntunglah karena Kakak Toni yang saat ini sudah masuk alam usia pensiun dari aparat sipil negara (ASN) pernah beberapa kali menjabat sebagai camat di tempat yang berbeda-beda pada wilayah Temanggung ini. ‘’Latarbelakang saya sebagai camat sangat membantu dalam pengembangan NasDem. Alhamdulillah, warga mengenal saya dengan tanpa ada catatan negatif, sehingga mereka bisa menerima silaturahmi yang sedang kami kembangkan,’’ katanya.
Sudah barang tentu meskipun sebagai mantan camat, lanjut Kak Toni, tidak semua warga mengenalnya, ‘’Tetapi minimal saya mengenal sejumlah tokoh di setiap kelurahan, dan mereka bersedia membantu saya. Al hasil, kenalan-kenalan lama tersebut berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan NasDem dengan warga,” ujarnya.
Model live in di sebuah desa, kata Kak Toni, juga efektif untuk menjaring warga agar bersedia bergabung dengan partai NasDem. ‘’Inilah makanya, membentuk jaringan di tingkat bawah itu tidak bisa dilakukan dengan gemebyar, tapi dengan teknis perang gerilya, operasi senyap, tetiba satu kampung yang dulunya didominasi oleh warna politik lain, berubah menjadi lautan biru,” katanya berbagi kiat.


