JATENG.NASDEM.ID – Kisah Suryanto meraih kursi sebagai anggota DPRD Kota Semarang melalui proses panjang. Siapa menyangka, Suryanto pernah menjadi kernet angkutan umum di Kota Semarang.
Tidak hanya itu, pria asal Wonogiri itu juga menjadi kuli bangunan. “Saya masuk Semarang jadi kenek angkot selama 10 tahun. Setelah angkot menurun saya beralih jadi kuli bangunan selama 3 tahun,” ujar Suryanto mengawali perbincangan, Senin (4/5)
Lepas kerja sebagai kuli bangunan, Suryanto kembali ke jalanan, berjualan balon keliling hingga tahun 2012. Pra berpostur tegap ini pun dikenal sebagai penjual balon, di kalangan teman-temannya.
Namun, kerja non formal itu tak menyurutkan semangatnya untuk terjun ke politik. Ia pernah tercatat bergabung di PKB dan sebagai pengurus MWC NU Kecamatan Tembalang.
Namun, ia memilih keluar dari partai yang kental dengan santri dan ulama itu karena tidak mendapat peluang sebagai calon anggota legislatif.
Keputusannya untuk berpindah dari PKB karena Partai NasDem adalah partai nasionalis yang dapat diterima oleh semua kalangan.
“Di NasDem, tiap kalangan masyarakat bisa menerima. Sementara di PKB partai agamis. Di NasDem adalah nasionalisme yang terbuka, bisa menerima dari seluruh agama dan budaya. saya sebagai orang pesantren tak ada salahnya juga menempatkan diri di partai nasionalis,” ujarnya.
Sejak mendengar ada ormas Nasional Demokrat pada 2010, Suryanto memutuskan bergabung hingga ormas ini bertransformasi menjadi partai politik pada 11 November 2011.
Berproses selama beberapa tahun, ia kemudian memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai caleg dari Partai NasDem. “Pada 2014, saya berkompetisi di dapil IV. Mestinya sudah jadi jika ada kuota kursinya,” kenangnya tanpa penyesalan.
Suryanto kembali mencoba peruntungannya pada Pemilu 2019. Ia berhasil meraih lebih dari 4.800 suara, sehingga terpilih sebagai wakil rakyat di kursi DPRD Kota Semarang.
“Pada 2019 kemarin saya berkompetisi kembali dengan suara 4.800 sekian,” ujarnya.
Lelaki lulusan pesantren di Ponorogo ini mengaku tak segan untuk membawa semangat NU yang sudah melekat dalam dirinya. Menurutnya sudah saatnya orang-orang dengan wawasan agama yang luas harus masuk ke dalam partai politik.
“Saya NU tulen, NU haru di mana-mana jika pengen kuat. Maka harus ada orang-orang agamis termasuk di partai politik,” ia menegaskan.
Kini, meski sudah masuk di jajaran elit Balaikota Semarang, Suryanto tak meninggalkan gayanya yang merakyat. Bahkan, istrinya juga masih berjualan pecel khas Magetan di sekitar rumahnya, Sikuwung Asri, Tandang, Tembalang.





