Ditulis oleh Ono Sarwono (kader NasDem)
KITA sering mendengar kata-kata ‘tidak tahu diri’, ‘kacang lupa kulitnya’, ‘air susu dibalas dengan air tuba’. Ungkapan itu kurang lebih untuk menggambarkan sikap dan perilaku tidak bijak seseorang terhadap pihak lain yang telah berbuat baik kepadanya.
Seperti yang dipertontonkan seorang politikus terhadap pemimpin sebuah parpol baru-baru ini. Kenapa dunia ini mesti ada orang model demikian. Barangkali itu memang sudah menjadi kodrat wataknya. Watak tentu sulit diubah, berbeda dengan watuk (batuk) yang bisa disembuhkan.
Menilik dunia wayang, titah berwatak asor (buruk) seperti itu dipersonifikasikan pada diri Suman alias Sengkuni. Ia menyadari bahwa pribadinya itu tidak baik, tapi bagi dirinya justru anugerah. Modal untuk mengeksekusi ambisi-ambisi politiknya.
Sayembara Kunti
Suman, yang juga bernama Trigantalpati, bukan anak gelandangan dan juga bukan anaknya orang sudra sampali (rakyat kecil). Ia putra ketiga Raja Negara Plasajenar Prabu Suwala dengan permaisuri Dewi Gandini. Kakaknya Gendara dan Gendari, sedangkan adiknya, Gajaksa dan Sarabasanta.
Dibandingkan dengan saudaranya, Suman paling pintar. Bila bicara tidak ada yang bisa mengalahkan, pandai berargumen, tepatnya mahir bersilat lidah. Maka, jika berdebat selalu menang, tidak peduli omongannya benar atau salah.
Setelah ayahnya mangkat, tampuk kekuasaan Plasajenar jatuh ke tangan Gendara. Untuk melengkapi peryaratan sebagai raja, dicarilah permaisuri. Wanita impiannya Kunti alias Prita, putri kedaton Negara Mandura.
Kebetulan saat itu Istana Mandura menggelar sayembara perang. Siapa yang unggul dalam adu kesaktian berhak memboyong Kunti. Tidak ada pilihan lain, Gendara mengikuti perlombaan tersebut. Gendari dan Suman menyertainya.
Motivasi Gendari ikut sekadar ingin melihat sambil berharap siapa tahu bisa bertemu jodoh. Sementara itu, Sengkuni yang mengaku juga hanya ingin menonton, tapi sesungguhnya hatinya kepincut dan juga ingin memiliki Kunti.
Gendara dan kedua adiknya telat tiba di alun-alun Mandura. Sayembara telah usai dan pemenangnya Pandu dari Astina. Sebelumnya, sebenarnya Pandu juga terlambat. Beruntung, juaranya, Narasoma, memberi kesempatan adu kesaktian.
Pandu unggul dalam peperangan. Kemenangannya atas putra mahkota Mandaraka itu bukan hanya mendapatkan Kunti tetapi juga memperoleh ‘bonus’ Madrim. Narasoma menyerahkan adiknya itu atas kekagumannya kepada Pandu.
Demi fairness (keadilan), Pandu pun memberi peluang kepada Gendara. Namun, Gendara terlalu ‘kencur’ sehingga dengan mudah mati di tangan putra Raja Astina Prabu Kresnadwipayana itu.
Mengadu domba
Setelah kakaknya sirna, Suman mencoba menantang Pandu dan beharap menang dan meminang pujaan hati. Tapi memang bukan tandingannya pula. Suman angkat tangan sebelum nyawanya tercerabut dari tubuhnya.
Selain memohon ampun, Suman mengemis kepada Pandu agar diperkenankan ikut mengabdi di Astina bersama Gendari. Dianggap ada ketulusan, Pandu menerima dan pulang dengan memboyong Kunti, Madrim, dan Gendari.
Seiring dengan berjalannya waktu, atas kebaikan Pandu pula yang kala itu menjadi raja menggantikan ayahanda, Suman selalu berada dalam lingkaran istana. Meski tidak menjabat dalam pemerintahan, Suman dipercaya dalam berbagai urusan.
Keberadaannya dalam jajaran elite, dimanfaatkan untuk menggapai posisi strategis. Ambisinya ini juga dilatarbelakangi kekecewaan Gendari yang merasa diemohi Pandu. Gendari diperistri kakaknya Pandu, Drestarastra, yang cacat mata.
Suman berangan-angan jika ambisinya berhasil, menjadi jalan Kurawa, putra-putri Drestarastra-Gendari, merampas takhta Astina. Strateginya dengan menggulingkan Gandamana dari kursi patih dan menjatuhkan Pandu dari singgasana raja.
Momentumnya didapat ketika Pandu mempertanyakan absennya Tremboko dalam beberapa kali pisowanan agung Astina. Tremboko adalah Raja Pringgondani yang bersahabat dekat dengan Pandu dan menganggapnya sebagai guru.
Tremboko mengirim surat permintaan maaf tidak bisa sowan ke Astina karena banyak tugas negara. Tapi, Suman yang menyeleksi surat-surat masuk ke istana, mengubah isi surat menjadi pembangkangan. Pandu tidak langsung percaya dan mengutus Gandamana untuk mengonfirmasi.
Diam-diam Suman mendahului Gandamana datang di Pringgondani. Ia membalikan fakta dengan menginformasikan kepada Tremboko bahwa Astina mengirim senapati untuk menghukum karena dianggap membangkang.
Maka, ketika baru beberapa jengkal memasuki wilayah Pringgondani, Gandamana dikeroyok prajurit Tremboko. Atas perintah Suman, utusan Pandu itu kemudian diikat lalu dimasukkan ke sumur dan ditimbun dengan batu serta tanah.
Buru-buru Suman lapor kepada Pandu bahwa Gandamana dikatakan berkhianat, bergabung dengan musuh. Kali ini Pandu percaya setelah berhari-hari tidak ada kabar dari orang kepercayaannya itu. Suman lalu diangkat menjadi patih.
Tiba-tiba Gandamana muncul di istana Astina. Tanpa banyak bicara Suman digelandang dan digebuki hingga babak belur. Sejak saat itu nama Sengkuni, yang berarti semua berawal dari ucapannya, melekat padanya.
Pandu gusar. Gandamana dianggap gegabah dan diusir. Mantan putra mahkota Pancala itu lalu pamit tanpa menyimpan dendam kepada raja yang dihormatinya.
Berhati-hatilah
Telanjur termakan fitnah Suman, Pandu datang sendiri ke Pringgondani. Singkat cerita terjadilah peperangan antara guru dan murid yang dikenal dengan sebutan Perang Pamuksa. Pandu dan Tremboko sama-sama gugur.
Begitulah Sengkuni, yang tak tahu balas budi. Menghancurkan orang yang telah memberi segalanya. Bahkan, petualangannya tidak sampai di situ. Sengkuni terus berinisiatif membasmi keturunan Pandu meski tidak berhasil.
Hikmahnya, jangan terlena karena ketidakwaspadaan ada Sengkuni di sekitar Anda.


