JATENG.NASDEM.ID – Maraknya penderita Covid-19 di Kabupaten Wonogiri menggugah rasa kemanusiaan kader NasDem Wonogiri. Minggu sore (11/7), sebanyak 12 kader NasDem berkolaborasi dengan anggota karang taruna melakukan penyemprotan disinfektan di Dusun Bulusari, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) NasDem Wonogiri Tri Wahyudi memfasilitasi kegiatan tersebut. Kak TW, sapaan Tri Wahyudi, mengatakan kader NasDem bersama 12 personel Karangtaruna RT 02/RW 05 Dusun Bulusari, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri bergotong-royong secara mandiri melakukan penyemprotan disinfektan. Menurutnya, penyemprotan disinfektan bertujuan memberikan rasa nyaman bagi warga lingkungan setelah banyak warga terkonfirmasi.
“DPD NasDem Wonogiri memfasilitasi dengan meminjamkan mobil pikap yang dimiliki untuk mengangkut bahan disinfektan dan keliling kampung,” ujarnya.
Dijelaskan oleh Kak TW, lokasi penyemprotan di wilayah dua rukun warga. “Langkah penyemprotan disinfektan bertujuan memberikan rasa optimistis bagi warga dalam menghadapi pandemi Covid-19. Di satu rukun tetangga ada 10 KK terkonfirmasi positif. Jika satu KK terdapat dua jiwa maka ada 20-an orang. Karenanya perlu edukasi, salah satunya langkah penyemprotan disinfektan secara mandiri,” katanya.
Lebih lanjut Kak TW, menjelaskan situasi kampung sejak muncul kabar isolasi mandiri (isoman) bagi warga terkonfirmasi pertengahan Juni lalu menjadi sepi. Aktifitas warga terbatas dan tidak ramai seperti hari biasa. Jalan kampung yang hari biasa ramai lalu lalang kendaraan dan orang berjalan menjadi lengang.
“Sebagian warga isoman sudah selesai dan beraktifitas kembali namun tetap disiplin protokol kesehatan 5 M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan),” jelasnya.
Dia berharap pemerintah hadir sehingga masyarakat tidak terbebani secara ekonomi. Diakuinya, selama pandemi, sejak Maret 2020, ekonomi masyarakat menurun. “Banyak PHK dan banyak usaha mandeg. Kehadiran pemerintah harus ada, salah satunya dengan membebaskan beaya rapid antigen. Paling tidak pemilik Kartu Indonesia Sehat bisa ter-cover tes antigen mandiri yang selama ini dibeayai sendiri,” ujarnya.
Kak TW menyarankan anggaran rapid antigen bisa dialokasikan untuk membeli kebutuhan pangan sebab selama ini tidak semua warga mendapat bansos. Padahal semua warga terdampak pandemi covid-19. (NJ13)


