JATENG.NASDEM.ID – Memanfaatkan masa reses, anggota DPRD Kabupaten Klaten dari NasDem Willy Paul Rindorindo menyerap aspirasi masyarakat di Padukuhan Bogor, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, Sabtu malam (26/6).
‘’Kami berupaya mendapatkan masukan dari warga tentang apa yang harus dillakukan baik oleh pemerintah maupun anggota dewan demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera,’’ ujar Willly Paul Rindorindo yang juga Sekretaris DPW NasDem Klaten itu.
Acara penyerapan aspirasi publik itu dipimpin oleh Kordapill I Klaten Kakak Wisnu yang juga dihadiri Ketua DPC NasDem Kecamatan Wedi Aris Nanang Nugroho, para ketua RW, RT dan tokoh masyarakat setempat itu berlangsung dalam tata cara prokes yang ketat.
‘’Ini demi menjaga kesehatan kita bersama, kendati saat ini Covid–19 sedang membabi-buta. Kita tidak mau kalah, juga tidak mau mati konyol, karena itu prosedur kesehatan harus kita terapkan sangat ketat,’’ kata Kakak Wisnu.
Menurut Wisnu, sangat banyak ide-ide dan pengetahuan baru yang digali dari masyarakat selama mereka berdialog dengan Kakak Willy Paull Rindorindo.
‘’Sebenarnya dan pada dasarnya masyarakat itu tidak pernah berfikir dan berkeinginan yang muluk-muluk, mereka hanya berfikir tentang bagaimana mendapatkan pupuk bersubsidi secara murah dan cepat. Bagaimana agar harga-harga komoditas pangan bisa stabil,’’ ujarnya.
Wisnu menambahkan, setelah sesi bincang-bincang, sejumlah pemuda yang hadir menyatakan kesiapannya untuk menjadi bagian dari NasDem yang ditandai dengan pembuatan e-KTA. ‘’Kesamaan perasaan kami dalam menatap persoalan bangsa ini serta mencarikan solusi terhadap sejumlah persoalan yang dihadapi negeri ini berujung pada keputusan untuk membesarkan NasDem Klaten,’’ ujarnya.
Klaten menyediakan 50 kursi DPRD kabupaten yang tersebar di lima daerah pemilihan. Pada Pileg 2019 lalu, NasDem berhasil mempertahankan satu kursi dari yang sudah diraih pada Pileg 2014. Secara wilayah adminstrasi, Kabupaten Klaten terbagi dalam 26 kecamatan dan 401 desa/kecamatan.
Pilkada 2020 lalu, jumlah pemilih di Klaten sebesar 961.070 jiwa. Sedangkan pada Pileg 2019 lalu, dari 50 kuri yang disediakan DPRD Klaten, NasDem hanya kebagian satu kursi dari Dapil I atas nama Willy Paul Rindorino. Anggota termuda di DPRD Klaten itulah juga yang memberikan support atas kegiatan-kegiatan yang dijalankan Kordapil I Klaten Wisnu
Di Dapil I Klaten mencakup enam kecamatan yang terwakili oleh sebelas kursi DPRD kabupaten. Enam kecamatan itu adalah Kalikotes ( 7 desa ), Kebonarum (7), Klaten Selatan (12), Klaten Tengah (9), Klaten Utara (8), Ngawen (13), dan Wedi (19).
Sementara itu, Kordapil VII Jateng Fauzi Bayu mengatakan, di Kecamatan Wedi terdapat 19 desa dari 73 desa yang ada di Dapil I Klaten dengan enam kecamatan. ‘’Ini artinya, kami harus membentuk enam kepengurusan DPC dan 73 DPRt atau setara dengan 4.057 kader,’’ ujarnya.
Sebab menurut dia, berdasarkan aturan partai, jumlah pengurus di setiap cabang sediktnya terdiri atas tujuh orang, sedangkan untuk tingkat DPRt sebanyak 55 orang. ‘’Melengkapi struktur di Dapil I Klaten ini juga merupakan tantangan tersendiri, karena Klaten apalagi wilayah kota, sangat didominasi oleh satu partai politik tertentu. Warna merah di sini sangat kental sekali. Namun bukan hal yang tidak mungkin jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dibingkai oleh strategi yang jitu,’’ katanya.
Fauzi Bayu menjelaskan dalam konsolidasi tersebut telah dirumuskan arah dasar yang akan ditempuh oleh kader NasDem di Dapil I Klaten dalam melakukan percepatan pembentukan pengurus cabang dan DPRt. ‘’Tadi sudah dirembug juga, personil-personil yang akan ngayahi masing-masing kecamatan. Setelah membentuk pengurus cabang, secara bersamaan juga dibentuk pengurus DPRt. Para PAC di setiap kecamatan itu bisa sekaligus ikut dalam kepengurusan tetapi juga berada di luar. Namun yang pasti, para koordinator tingkat kecamatan itu adalah kader NasDem yang memiliki penguasaan mendetail baik peta politik maupun para panutan masyarakat,’’ katanya.
Karena dengan menguasai peta wilayah tersebut, memudahkan NasDem untuk bergerak mencari orang-oang yang memiliki popularitas dan aseptabilitas. ‘’Memang kedengarannya agak sombong, untuk wilayah kering-kerontang seperti di Klaten ini, kita masih mempertimbangkan aspek popularitas dan aseptabilitas dalam merekrut kader. Tetapi, hal ini harus dilakukan agar fungsionaris kita bukan orang yang sambang ndalan, atau orang-orang yang hanya dipungut dari jalan-jalan,’’ ujarnya.
Menurut Fauzi Bayu, wilayah Klaten terutama di dapil satu, sebenarnya menyimpan orang-orang yang sangat potensial. ‘’Umumnya mereka berpendidikan tinggi atau tamat SLTA. Mereka juga memiliki budaya baca yang tinggi sehingga kalau kita ajak ngobrol, bisa nyambung. Hanya saja, umumnya mereka, akan menjadi pendiam bila bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal,’’ ujarnya.
Menghadapi karakter orang Klaten yang sangat berhati-hati dalam menerima pemikiran atau orang-orang baru di lingkungannya. Untuk itu, menjadikan tokoh-tokoh setempat sebagai endoser sangatlah penting.


