JATENG.NASDEM.ID – ‘’Silakan Kakak Muna untuk memimpin doa,’’ ujar Ketua DPW NasDem Jateng Setyo Maharso sembari membentangkan tangan penuh hormat. Dalam hitungan detik Drs. KH. Choirul Muna atau yang akrab disapa Kakak Muna atau Gus Muna naik ke panggung, melantunkan doa penuh khusyuk.
Sejak Februari hingga Juli 2021, JATENG.NASDEM.ID berkesempatan jalan bareng dengan Pak Maharso, baik dalam rangka konsolidasi di DPD maupun pertemuan-pertemuan di DPW. Terhitung setidaknya lima kali, Pak Maharso secara khusus meminta Gus Muna untuk memimpin doa.
Misalnya, ketika peletakan batu pertama pembangunan gedung DPD Wonosobo, kemudian rapat konsolidasi di Wonosobo, Temangung, Magelang, dan Purworejo. Demikian pula, ketika pimpinan teras PKS Jateng silaturahmi ke kantor NasDem di Jalan Madukoro, Semarang.
‘’Mohon kepada Kakak Muna untuk memimpin doa, tapi jangan panjang-panjang karena hari sudah menjelang sore,’’ ujar Kak Maharso dalam nada canda yang memancing tawa peserta silaturahmi.
Bukan hanya Kak Maharso saja yang kepincut menjadikan Gus Muna sebagai pendoa, bahkan lembaga tinggi negera seperti MPR, pernah memberikan mandat kepada anggota DPR RI periode 2014–2019 untuk memimpin doa.
Dan, doa sang ustaz membuat geger seanterio negeri:
Ya Allah ya Malikul Mulk, Tuhan yang Merajai segala raja, jangan biarkan kami terpecah belah dan saling memusuhi karena tanpa disadari telah menjadi alat segelintir manusia yang tak ingin melihat bangsa kami bersatu padu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, hidup rukun dan memiliki rasa toleransi serta mampu memaafkan sesamanya di tengah Bhinneka Tunggal Ika…
Itulah petikan doa yang dilantukan Gus Muna dalam penutupan Sidang Tahunan MPR, 14 Agustuss 2015, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan seluruh pejabat tinggi Indonesia.
Keampuhan doa Gus Muna yang terlahir di Magelang, 15 Oktober 1961, bukan terletak pada panjang atau ndakik-ndakiknya kata-kata, tetapi lebih karena dilandasi hati yang tulus, iklas, dan jujur. Doa yang dipanjatkan merupakan buah atas perjalanan hidup Gus Muna, yang merupakan pemimpin pondok pesantren, politisi, dan intelektual yang bersinggungan langsung dengan ulama pejuang.
Gus Muna merupakan ayah bagi tiga anak dari pernikahannya dengan Hj. Hasyimah yang merupakan putri dari ulama kharismatik di Jawa Tengah, Alhmaghfurlah KH Muhammad Abdul Haq yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Mad Watu Congol Muntilan.
Semasa hidupnya, Mbah Mad dikenal sebagai penasihat banyak ulama, mulai dari mantan presiden Soeharto, hingga Megawati Soekarnoputri.
Di sisi lain, Mbah Mad Watu Congol merupakan putra dari seorang Waliyullah KH Dalhar yang biasa dipanggil Mbah Dalhar.
Mbah Dalhar anak dari seorang ayah yang bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo adalah cucu dari Kyai Abdurrauf. Kekeknya Mbah Dalhar dikenal sebagai salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Adapun nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III seorang tokoh pada jaman Majapahit.
Sosok Gus Muna dikenal sebagai seorang tokoh yang jujur, tegas, dan amanah. Hal ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai seorang ulama Pengasuh Pondok Pesantren Putra putri Mambaul Hisan Jalan KH Maksun RT 02 RW 05 Desa Sidoagung Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang Jawa Tengah.
Sebagai seorang Ulama yang mengasuh 500 lebih santri sejak tahun 1991 hingga saat ini, jiwa mengayomi, jujur, dan amanah senantiasa melekat dalam diri Gus Muna. Hal itu tampak nyata di dunia politik termasuk ketika menjadi anggota DPR/MPR RI Fraksi Nasdem di komisi VIII pada periode 2014–2019.
Ketegasan Gus Muna demi membela kepentingan masyarakat dan umat Islam senantiasa terlihat saat rapat komisi di Komisi VIII yang membidangi Agama, Sosial dan Pemberdayaan Perempuan.
Selain dikenal sebagai seorang ulama dan politikus, Gus Muna juga dikenal sebagai salah seorang tokoh intelektual. Berawal dari bangku SD Negeri Sidoagung 2 lulus tahun 1973 dilanjutkan SMP Kusuma Salaman lulus tahun 1976. Kemudian tahun 1980 lulus dari SMA Negeri 1 Magelang, ditambah dengan belajar di Ponpes Al Munawir sampai tahun 1984. Ia meraih gelar sarjana di Universitas Islam Indonesia. Perjalanan pendiikan itu menempanya menjadi sosok intelektual.
Gus Muna sebagai seorang politikus NasDem dan tokoh NU terus menggaungkan upaya memerangi faham radikalisme dan gerakan terorisme yang anti Pancasila. Ia menilai faham itu mengancam negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sosialisasi kebangsaan demi tegaknya NKRI yang berbingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika terus ia gemakan tanpa lelah.
“Kita harus mewaspadai pengaruh masuknya paham-paham radikal. Kita harus lebih hati-hati jangan mudah menerima informasi yang ujungnya menjauhkan Pancasila dan NKRI,” pesan Gus Muna kepada masyarakat dalam setiap sosialisasi empat pilar kebangsaan.
Meski sekarang ini tidak lagi duduk sebagai seorang anggota DPR tetapi Gus Muna akan tetap melanjutkan perjuangannya demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa, sembari mempersiapkan diri untuk bertarung kembali dalam ajang pemilu legislatif Februari 2024.





