JATENG.NASDEM.ID – Umat Buddha menyambut hari Raya Waisak penuh suka cita yang dirayakan Rabu (26/5). Perayaan yang selalu bertepatan dengan datangnya bulan purnama ini merupakan peringatan kelahiran Siddharta Gautama pendiri agama Budha.
Selain waisak, umat Budha juga memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Budha, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan yang sempurna, serta kematiannya.
Di Indonesia, para pemeluk Budha memiliki tradisi dan cara tersendiri dalam merayakan Waisak. Apa saja?
Kirab Agung Amisa
Di Yogyakarta Waisak dirayakan dengan mengarak replika Sang Budha dalam Kirab Agung Amisa. Berbagai sajen persembahan berupa nasi tumpeng, air Waisak, dan api akan diarak dalam kirab menuju Vihara Giriloka.
Selama proses arak-arakan, peserta akan mengenakan pakaian khas jawa sambil melantunkan doa-doa. Selepas kirab, umat Buddha akan melaksanakan puja bakti (sembahyang) dan pembacaan paritta suci Waisak (buku suci) hingga menjelang Waisak.
Tri Suci Waisak
Pusat perayaan Tri Suci Waisak biasanya digelar di Magelang. Saat puncak Waisak, peserta Tri Suci Waisak akan mengikuti kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sejauh 3 kilometer.
Para rombongan akan membawa berbagai perlengkapan puja bhakti. Mereka kemudian akan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam atau Pradaksina sambil membawa bunga teratai.
Festival Candi Muaro
Di kompleks Candi Muaro Jambi ratusan umat Budha akan datang menjalankan ibadah. Ritual akan dimulai dengan mengitari kompleks candi, sembahyang, hingga semedi.
Perayaan Waisak ini akan diakhiri dengan pelepasan pada dini hari di Candi Muaro. Tak hanya umat Budha, warga umum juga bisa datang untuk menyaksikan tradisi ini secara langsung lho!
Pawai Waisak
Umat Buddha di Pekanbaru biasanya akan memadati sejumlah jalan protokol untuk melaksananan pawai Waisak. Tak hanya diikuti oleh umat Budha, pawai ini layak disebut pawai toleransi karena diikuti oleh berbagai unsur agama.
Dalam pawai tersebut biasanya akan dimeriahkan dengan berbagai hiburan seperti barongsai, mobil hias, hingga naga. Arak-arakan akan dilakukan sambil melantunkan doa dan pujian untuk NKRI.
Keempat perayaan Waisak tentu menarik untuk diikuti. Namun sayangnya masa pandemi memaksa seluruh masyarakat untuk melaksanakan perayaan keagamaan dilakukan secara terbatas dan sederhana.
Semoga tahun depan kita bisa merayakan Waisak seperti sedia kala ya Kak!

