JATENG.NASDEM.ID – Beberapa wilayah Jawa, khususnya Jawa Tengah kerap merayakan bodo kupat atau Lebaran ketupat. Tradisi ini, biasanya dirayakan tujuh hari setelah Idulfitri atau tanggal 8 Syawal.
Disebut bodo kupat karena dalam perayaan ini, masyarakat akan memasak ketupat sebagai bagian dari tradisi. Beberapa wilayah di Jawa Tengah yang masih rutin merayakan Bodo Kupat adalah Semarang, Kudus, Demak, dan Jepara.
Biasanya masyarakat akan memasak ketupat di hari ke-tujuh bulan Syawal untuk dinikmati bersama di hari ke-delapan Lebaran. Di Kudus, biasanya tak akan ditemukan ketupat di hari awal-awal Lebaran karena ketupat baru akan dimasak menjelang perayaan yang juga disebut sebagai bodo cilik ini.
Konon, istilah bodo atau bakdo ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Biasaya masyarakat disunahkan berpuasa dari tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Itulah mengapa perayaan bodo kupat juga disebut sebagai bodo cilik.
Selain untuk disantap sendiri, ketupat yang sudah dibuat biasanya juga akan dibagaikan ke sanak saudara.
Sementara ketupat yang menjadi hidangan utama memiliki makna ngaku lepat (mengaku salah).
Hidangan khas ini juga bermakna laku papat atau empat tindakan yaitu lebaran, luberan, leburan, laburan. Di beberapa daerah, Bodo Kupat biasanya digelar secara besar-besaran. Di Kudus, masyarakat akan mengarak gunungan yang terbuat dari 1.000 ketupat. Sementara di Kota Semarang, beberapa desa wisata juga mengadopsi tradisi yang sama.
Menanggapi perayaan ini, Wakil Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah Tri Wahyu Hapsari mengimbau agar masyarakat Jawa Tengah tak lupa tetap menerapkan protokol kesehatan.
“Hari ini saya lihat masyarakat juga sudah disiplin menerapkan protokol kesehatan berupa mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Hal ini baiknya terus diterapkan di berbagai kesempatan saat berwisata maupun memperingati tradisi,” ujarnya.
Ia mengimbau pada seluruh kader NasDem untuk mengetatkan protokol kesehatan di masa-masa rawan lonjakan kasus Covid-19 pasca Idul Fitri.
Akibat pandemi, perayaan kupatan di berbagai daerah dilaksanakan secara sederhana tanpa melibatkan banyak orang. Meski begitu, semangat untuk melanggengkan tradisi tak luntur meski diterjang pandemi.
Kakak-kakak sudah habis berapa ketupat Lebaran ini?
