18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Minimnya Aksi Jadi Sumber Distorsi atas Parpol

JATENG.NASDEM.ID – Terbatasnya aksi nyata antara konsituen dan politikus, menjadi sumber distorsi pemahaman masyarakat terhadap partai politik. Bahkan sebagian kalangan menjadikan kehadiran orang-orang politik di tengah-tengah masyarakat sekadar penanda pilkada atau pemilihan umum akan segera tiba.

Demikian benang merah dari serangkaian Focus Group Discusion (FGD) di sepuluh daerah pemilihan DDPR RI Jawa Tengah akhir tahun lalu. FGD yang digelar oleh Research Center Media Group (RCMG) sebuah lembaga riset yang bernaung di bawah Media Group tersebut dilakukan secara pararel dengan melibatkan sedikitnya 30 peserta di setiap kegiatan. Menurut Senior Research RCMG Agung Prihatna, FGD itu bertujuan untuk mendapatkan persepsi publik atas citra partai politik.

Menurut Agung Prihatna, sikap sekeptis masyarakat atas partai politik itu terbangun dari pergulatannya selama mereka berinteraksi dengan parpol.

‘’Persepsi itu kan terbangun lewat serangkaian pengalaman yang mereka alami. Jadi sikap skeptis itu, bisa jadi terbangun sejak masyarakat mulai bersentuhan dengan politik, jadi tidak selalu harus diartikan hanya menunjuk pada kondisi saat survei atau FGD dilakukan. Dan persepsi itu berlaku untuk seluruh partai politik, tidak menunjuk pada salah satu dari peserta Pemilu 2019. ’’ ujar peneliti yang sudah hampir 30 tahun berkecimpung di dunia riset tersebut.

Dari pengalamannya sebagaimana terungkap dalam FGD, lanjut Agung, masyarakat menilai, partai politik hanya menyibukkan diri untuk bergerak di elite politik dengan mendebatkan permasalahan seperti di televisi tetapi tidak pernah menetas pada perbuatan di daerah. ‘’Grasroot sama sekali tidak tersentuh,’’ katanya.

Agung menjelaskan peserta FGD mengakui mendengar bahkan melihat aktivitas politikus yang duduk di DPR RI dan DPRD melakukan kegiatan di daerahnya. ‘’Tetapi hanya cukup dihitung dengan lima jari, ‘’ katanya menirukan ucapan peserta diskusi.

Bahkan menurut peserta FGD, Agung menambahkan politisi terjebak dengan jargon besar, tidak bisa menjelaskan visi dan misi serta program dengan mudah. Selain itu sikap politik partai politik seringkali bertentangan dengan ideologi dan tujuan partai itu sendiri. Program partai politik belum menyentuh kebutuhan masyarakat seperti kaum buruh dan pekerja. 

‘’Muncul kecenderungan jika caleg sudah mendapatkan kekuasaan, maka mereka cenderung menyejahterakan kelompoknya sendiri,’’  lebih parah lagi, kata Agung,  ‘’Parpol saling bermusuhan bahkan saling menjatuhkan padahal pada awalnya mereka saling mendukung.’’

Agung mengatakan, masyarakat cenderung mempersepsikan orang-orang politik seperti sepur klutuk nyemplung  kali, negarane ambruk elite lali. ‘’Partai politik banyak jeleknya atau terlalu banyak janjinya sehingga  menimbulkan antipati masyarakat. Karena itu banyak yang memilih golput, karena jika mereka menggunakan hak pilih,  maka rakyat merasa ikut menanggung dosa atas minimnya kinerja orang-orang politik,’’ ujarnya.

Sisi lain dari rangkaian diskusi itu juga tergali pendapat publik bahwa orang politik itu saling menguntungkan kelompoknya sendiri dan cari kehormatan serta  uang. ‘Partai politik itu hanya banyak janji tapi tidak ditepati, ketika kampanye janji-janji kalau sudah jadi sibuk sendiri-sendiri,’’ kata Agung.

Menurut Agung, penilaian publik sebagaimana terekam dalam FGD itu, bisa dijadikan sebagai bahan masukan bagi para politisi agar tidak keliru ketika harus bersentuhan dengan rakyat. ‘’Kalau kita paham dengan sejatinya pola pikir masyarakat, maka kegiatan-kegiatan yang akan dirumuskan oleh politisi, menjadi lebih mudah,’’ katanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top