18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Kisah Djadjat Sudradjat, Memulai Karier di Bidang Jurnalistik Hingga ‘Nyemplung’ ke Politik

Memulai kariernya di dunia jurnalistik, Djadjat Sudradjat tak pernah menyangka dirinya akan nyemplung di dunia politik seperti saat ini. Lelaki asli Banyumas ini kini menduduki jabatan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari Partai NasDem periode 2019-2024.

Berkarier sebagai wartawan hampir 30 tahun di Media Group Jakarta, Djadjat mengaku dunia politik praktis di tingkat lokal tidak semudah yang ia bayangkan. Masa SMA, kuliah, hingga bekerja yang ia habiskan di Jakarta membuatnya semula agak sedikit berjarak dengan problem riil masyarakat di kampung halamannya. Artinya pengalamannya yang panjang sebagai wartawan bukan jaminan bisa terpilih dengan mudah menjadi anggota dewan.

Di tingkat lokal, dalam sistem pemilihan terbuka, persaingan politik ketika kampanye sangat keras. Termasuk teman satu partai. Sebab, calon legislatifnya jauh lebih banyak. Ada teman, saudara, kerabat bertumpuk di situ.

Banyumas pun sering disebut “dapil neraka”. Terlebih lagi bagi NasDem yang baru ikut pemilu pada 2014. Tapi, kata Djadjat, pada Pemilu 2019 suara NasDem di dapil Banyumas naik signifikan. Kursi DPRD kabupaten yang semula 1 jadi 2. Kursi DPRD provinsi dan DPR RI yang sebelumnya tak ada punmasing-masing punya satu kursi.

Menurut Djadjat dirinya menikmati ketika musim kampanye tiba. Sebab, pada dasarnya jiwa wartawan itu suka tantangan. Baginya, berinteraksi dengan masyarakat selalu menarik karena sangat dinamis. Ada hal yang selalu menarik.

Memang, sebagai jurnalis di Jakarta, ia kerap melakukan tugas ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Itu semua membentuk cara pandangnya, yakni perpektif nasional bahkan global. Ketika terjun ke politik lokal, mau tidak mau Djadjat harus menyesuaikan dengan skala daerah kabupaten. Ketika terpilih, artinya cara ia berkomunikasi dan pesannya diterima masyarakat.

“Intinya kita memang harus punya daya adabtasi yang tinggi. Berkomunikasi dengan bahasa rakyat. Kini setelah terpilih, dan duduk sebagai anggota Komisi I DPRD Banyumas, seluruh tugas saya lakukan dengan penuh tanggung jawab, dengan serius. Saya nikmati seluruh proses ini,” tuturnya

Bekerja dengan Cara Wartawan

Menurutnya, secara substansi baik kerja jurnalistik maupun politik adalah bekerja untuk kepentingan publik. Ujung dari kerja politik, katanya, mesti untuk memuliakan publik. Karena itu, kedua bidang sama-sama disebut sebagai pilar demokrasi karena sama-sama punya tugas mengontrol kekuasaan. Selain tugas dewan mengawasi/mengontrol pemerintah, lembaga legislatif juga diawasi oleh pers. Ini tujuannya agar publik tak dirugikan.

Kini dengan menjadi anggota legislatif, lebih mudah baginya untuk mengkritik dan mengevaluasi kinerja pemerintah meski masih dalam lingkup kabupaten. Bahkan, lelaki tiga orang anak ini mengaku pengalamannya sebagai wartawan membantunya dalam kerja-kerja parlemen. Kerja parlemen juga sama-sama butuh wawasan dan kemampuan berkomunikasi seperti juga wartawan.

“Sama dengan kerja wartawan, meski ada beberapa perbedaan. Sebagai wartawan berhubungan dengan siapa saja akan lebih mudah. Mental menjadi wartawan juga membantu sekali dalam bertugas menjadi anggota dewan,” tuturnya.

Kini Djadjat juga rutin menyalurkan aktivitasnya lewat tulisan di akun Facebooknya. Dengan begitu masyarakat juga bisa tahu dan memantau kerja-kerja politiknya. Selain itu, hingga kini Djadjat masih kerap diminta mengisi berbagai pelatihan menulis dan literasi oleh berbagai lembaga.

“Ketika di Jakarta kerap mengisi pelatihan penulisan untuk media massa bagi para peneliti muda LIPI, Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dan kelas menulis untuk masyarakat umum. Kini di Banyumas kerap mengisi pelatihan menulis bagi guru-guru,” tambahnya.

Membumikan Politik Edukatif

Di tengah kesibukannya menjadi anggota dewan, Djadjat mengaku harus membagi waktu agar tetap memberikan manfaat pada masyarakat lewat berbagai pelatihan. Hal ini dia lakukan atas dasar tujuan politiknya yang ingin mewujudkan politik yang edukatif.

“Politik itu jangan hanya bicara rebutan kekuasaan. Saat kita dengan masyarakat kita harus melakukan edukasi atau pendidikan secara umum. Misalnya memberi pemahaman kepada para orangtua harus memberikan prioritas pendidikan bagi anak-anaknya. Pentingnya menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Pentingnya hidup sehat. Sebab, ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia,” kata lulusan Magister Hukum Universtas Tarumanagara Jakarta ini.

Apa yang ia lakukan itu, imbuh Djadjat, agar percepatan kemajuan masyarakat di dapilnya segera terwujud. Sebab, ia meyakini Indonesia maju itu kalau provinsi-provinsi maju. Provinsi-provinsi maju kalau kabupaten/kota juga maju. Kabupaten/Kota maju kalau kecamatan-kecamatan maju. Kecamatan maju kalau desa-desa dan kelurahan maju. Desa dan kelurahan maju kalau ada pemimpin yang visioner dan bisa mewujudkannya dalam kerja nyata. Karena itu, kata mantan Pemred Media Indonesia ini, di setiap tingkatan harus diisi figur-figur yang punya kompetensi.

Menurutnya, memberikan pendidikan politik serta kerapnya diminta bicara jurnalistik dan literasi, juga menjadi cara elegan mensosialisasikan Partai NasDem tanpa harus teriak-teriak tentang partai. Karena bagaimanapun ketika ia hadir di berbagai kesempatan, sedikitnya ia sebagai representasi partai dan institusi DPRD.

Tak jarang Djadjat juga diminta untuk menjadi pemateri di luar daerah pemilihan (dapil) lain. Namun, hal itu bukan soal, malah lagi-lagi menjadi peluang untuknya mensosialisaikan Partai NasDem secara elegan. Ruang edar Djadjat pun jadi lebih luas.

“Kalau di luar dapil kan malah tak berkait kepentingan suara pribadi saya. Tetapi, institusi partai dan DPRD. Sebab, masyarakat kan umumnya tahu saya anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari Partai NasDem,” pungkas Djadjat.

Ia menambahkan pihaknya telah mendirikan yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan untuk membantu masyarakat. Termasuk akan mendirikan perpustakaan. Yayasan ini dambil dari nama almarhumah ibunya, Ny. Madinatoen Munawaroh. Perempuan yang hidup di desa, dengan segala keterbatasan, tapi berwawasan luas dan sangat peduli pendidikan.

Djadjat mengenang, suara sang ibu sangat merdu ketika mengaji, tapi juga sangat kuat ketika membaca buku. Inilah Ibu yang menjadi sumber motivasi dan inspirasi Djadjat dalam menapaki kehidupan. Termasuk dunia berkarier di bidang jurnalistik dan kini dunia politik. (Nasdemjateng.id)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top