Ono Sarwono
Kader NasDem
TABIAT politisi negeri ini yang hingga kini belum luntur adalah bertingkah kutu loncat. Berpindah-pindah dari partai politik satu ke ke parpol lain. Alasannya juga masih seperti dulu, pragmatisme, yaitu untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Memang tak ada aturan yang melarang. Perilaku demikian itu hanya terkait dengan moral dan etika. Tapi dalam perspektif ideologis, politisi model demikian itu tentu bukan kader ideal. Mereka hanya seperti job seeker yang takut kehilangan nafkah.
Bila hal demikian itu masih terus berlanjut maka bukan hanya demokrasi kita yang tidak beranjak mapan tapi bangsa ini rugi. Politik sebagai medan pengabdian demi mencapai kemajuan bangsa serta kemakmuran rakyat menjadi kehilangan orientasi.
Integritas dan dedikasi kader dalam berpolitik itu penting. Salah satu ukurannya setia pada garis perjuangan partai dan berwatak rela berkorban. Tidak miar-miur atau gampang tergoda iming-iming partai lain yang sifatnya kemewahan personal.
Mengabdi Kresna
Bicara kader berkualitas, ada kisah seorang kesatria dalam dunia wayang yang bisa diambil nilainya sebagai contoh atau renungan. Ia tidak silau jabatan atau tergiur kedudukan. Pengabdian semata demi tegaknya keadilan dan ketenteraman jagat.
Sosok eksklusif yang dimaksud bernama Setyaki, cucu mendiang Raja Mandura Prabu Basukunti. Bapaknya penguasa Lesanpura, Prabu Setiajid (Ugrasena), adapun ibunya, Dewi Wersini. Punya satu kakak perempuan bernama Setyaboma.
Setyaki berhak menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, sejak awal tak tertarik menjadi penguasa dan ia tinggalkan warisan itu. Minatnya ingin menjadi kesatria dan mengabdikan diri bagi terciptanya tatanan dunia yang adil dan beradab.
Untuk mewujudkan impian, Setyaki gentur menggeladi diri dengan berbagai ilmu kanuragan (kesaktian). Ia menjelma menjadi lelaki tangguh. Tubuhnya tidak tinggi dan besar tapi berotot dan kuat. Wataknya jujur, pemberani, tidak kenal menyerah.
Ketika merasa modal ‘politiknya’ sudah cukup, Setyaki butuh ‘parpol’ yang bisa menjadi wadah api perjuangannya. Pilihan jatuh kepada ‘parpol’ Dwarawati yang dipimpin Prabu Sri Bathara Kresna, tokoh berbobot yang kebetulan kakak sepupunya.
Keputusan mengabdi kepada raja Dwarawati itu bukan karena hubungan darah tetapi Kresna adalah titah terpilih sebagai titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan dan ketenteraman. Dengan kata lain ‘ideologinya’ sesuai dengan nafas jiwanya.
Pada sisi kualitas, Setyaki pantas mendapat jabatan dalam struktur pemerintahan Dwarawati. Tetapi ia tidak pernah berharap itu. Satu hal yang diminta hanyalah mendapat kesempatan mendampingi Kresna sebagai pemegang amanah dewa.
Kenyataannya Kresna tidak memberi jabatan formal. Tapi Setyaki dipercaya untuk menyertai setiap langkahnya. Termasuk ketika membotohi Pandawa menegakkan keadilan, yaitu menghancurkan angkara murka yang menjelma pada diri Kurawa.
Tupoksi Setyaki bukan sebagai teman berdiskusi melainkan mengeksekusi setiap perintah ‘bos’ dengan sebaik-baiknya. Di sisi lain, ia memosisikan diri sebagai ‘bodyguard’. Ia bermaksud menjaga martabat Kresna sebagai titah linuwih.
Dengan ‘jabatan fungsional’ seperti itu membuat Setyaki tidak pernah jauh dengan ‘tuannya’. Ke mana saja Kresna pergi, ia menyertai. Itulah tugas yang diidamkan dan di situlah Setyaki merasa nyaman dan tidak pernah ada keraguan bertindak.
Dedikasi Setyaki di antaranya terceritakan ketika Raja Dwarawati itu bertapa di Jalatunda. Tugasnya menjaga Kresna dari gangguan siapa pun dan apa pun hingga tuntas bersemedi. Di sinilah ia membuktikan integritas dan tanggung jawabnya.
Pada saat itu memang bukan hanya Setyaki yang menjaga Kresna. Anoman dan para putra Pandawa juga ikut bersama-sama mengamankan Jalatunda. Tapi semua di bawah kepemimpinan Setyaki. Artinya, ia sebagai komandannya.
Belum genap sepekan, datanglah Baladewa ke Jalatunda ingin menemui Kresna. Kedatangan Raja Mandura itu sebagai utusan Raja Astina Prabu Duryudana yang ingin memboyong Kresna ke Astina yang akan diangkat sebagai paranpara negara.
Namun, Setyaki tidak mengizinkan Baladewa memasuki area Jalatunda. Kakak sepupunya itu diminta menunggu hingga Kresna usai bertapa yang ketika itu seperti sedang tidur. Sikap keras Setyaki itu membuat Baladewa marah besar.
Akhirnya terjadilah cekcok yang berujung pada perkelahian. Namun tidak lama kemudian Baladewa menyadari bahwa apa yang dilakukan memang tidak pantas dan semena-mena. Tidak menghormati Kresna yang sedang menjalani laku suci.
Keberanian Setyaki menghadapi Baladewa itu sebuah tanggung jawab yang berisiko. Itu sikap melawan saudara yang lebih tua. Selain itu, Baladewa memiliki pusaka kahyangan yang maha ampuh, alugara dan nenggala.
Jadi, Setyaki tidak takut dicap tidak menghormati kakak dan juga tidak takut mati karena menjalankan tugas. Bisa dibayangkan, bila Baladewa sampai lupa daratan dan kemudian menggunakan dua pusakanya itu, Setyaki pasti lebur jadi debu.
Menjadi kusir
Kisah lain tentang dedikasinya sebagai ‘kader’ ketika dipercaya jadi kusir Jaladara saat Kresna ke Astina sebagai duta Pandawa. Amanah tersebut dijalankan dengan sebaik-baiknya meskipun sebelumnya tidak pernah menjadi sais kereta.
Padahal, Jaladara yang ditarik empat kuda yang berlainan warna itu bukan kereta biasa. Itu kendaraan pusaka pemberian dewa. Tidak setiap orang bisa mengendalikannya, bahkan kusir sangat berpengalaman sekali pun.
Jadi, kasat mata Setyaki memang yang menjadi kusir tapi sesungguhnya Jaladara berjalan secara otomatis dengan kendali batin Kresna. Dengan kata lain Jaladara lebih dulu diprogram terkait dengan jalan yang akan dilalui hingga tempat tujuan.
Saat duta agung itu menaiki Jaladara, kereta tidak berjalan seperti pada umumnya yang menapaki tanah. Tapi Jaladara yang indah itu melayang dan terbang dengan kecepatan tinggi. Setyaki pun terperangah dengan apa yang terjadi.
Demikianlah cuplikan kisah Setyaki sebagai ‘kader’ mumpuni yang setia dan loyal terhadap tempat di mana berjuang dan mengabdikan diri. Tak sekalipun berpaling. Dedikasi serta integritasnya dipertahankan hingga kodrat hidupnya berakhir. (*).

