Ono Sarwono (Kader NasDem)
SEJAK Negara Astina diproklamasikan dan dipimpin oleh Prabu Nahusta hingga pemerintahan Prabu Kresnadwipayana, tidak pernah terjadi permusuhan sesama anak bangsa. Persaudaraan warga dan persatuan nasional terpelihara dengan baik.
Namun, hadirnya orang asing, Arya Suman, yang mendompleng hidup di negara tersebut, bibit perpecahan bangsa tersemai. Kerukunan terkoyak hingga pada akhirnya terjadi perang saudara hebat yang disebut Bharatayuda.
Itu contoh buram sebuah bangsa yang remuk karena mengabaikan persatuan hanya karena kepentingan sesaat. Oleh karena itu, setiap komponen bangsa mesti sadar dan waspada jangan sampai terlena diadu domba sehingga hancur berkeping.
Memfitnah raja
Kresnadwipayana turun takhta ketika Astina dalam kondisi makmur. Negara aman, rakyat rukun dan sejahtera. Mantan penguasa itu pulang ke kampung halamannya, Pertapaan Retawu, di lereng Gunung Sapta Arga, dalam suasana hati ayem.
Raja penggantinya ialah putra kedua bergelar Prabu Pandu Dewanata. Rakyat menyambut dengan gembira dan berharap penerus Kresnadwipayana ini mampu membawa Astina kian maju. Pemimpin berwatak kesatria ini memiliki modal lahir dan batin yang hebat.
Pandu menjawab amanah dengan baik. Selain melanjutkan pembangunan di segala bidang, Raja juga memiliki perhatian serius terhadap dunia internasional. Kerap membantu negara lain yang bermasalah dengan tujuan terciptanya stabilitas jagat.
Pamor Pandu terdengar hingga ke pelosok marcapada . Tidak sedikit bangsa lain menjalin persahabatan. Pun banyak pemimpin yang meguru (belajar). Di antaranya Raja Pringgondani Prabu Tremboko. Saking dekatnya, mereka seperti saudara.
Tanpa disadari Pandu, ada politikus di ring satu yang melakukan gerakan bawah tanah merongrong kekuasaannya. Orang itu bernama Arya Suman dari Plasajenar, adik Gendari, istri Drestarastra. Target Suman, Pandu tersingkir dari singgasana.
Taktiknya tidak langsung ke sasaran utama. Suman terlebih dulu menggarap Patih Gandamana. Lewat kelincahan lidahnya, Suman berhasil meyakinkan Raja bahwa Gandamana membangkang. Tangan kanan Pandu itu akhirnya terjungkal dari kursi patih.
Setelah itu, Pandu diadu domba dengan Tremboko. Lagi-lagi dengan memfitnah. Kedua raja yang sudah seperti kakak beradik itu diprovokasi sehingga menjadi saling membenci dan berperang yang mengakibatkan mereka sama-sama mati.
Singgasana Astina kosong. Saat itu kelima putra Pandu, yaitu Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen dan Pinten masih kecil. Para sentana dan pepunden Resi Bhisma sepakat kendali pemerintahan untuk sementara di tangan Drestarastra, kakaknya Pandu.
Kebijakan itu menjadikan Suman leluasa beraksi. Langkah dan syahwat politiknya mendapat dukungan kakaknya, Gendari. Tujuan besarnya, Kurawa (putra dan putri Drestarastra-Gendari yang berjumlah seratus orang) berkuasa di Astina.
Terjadi polarisasi
Naiknya Drestarastra sebagai penguasa ad-interim membuat situasi politik tetap stabil. Pandawa dan Kurawa rukun. Bhisma, ahli waris sejati Astina, tergerak hati mencarikan guru menggembleng para cucunya itu sebagai pemimpin selanjutnya.
Di kalangan bawah pun tidak ada gejolak apa-apa. Masyarakat adem-ayem dan persatuan terjaga. Mereka memandang peristiwa di tingkat elite itu dinamika politik biasa. Tidak ada yang mampu mengendus apa sesungguhnya yang terjadi.
Suman diam-diam terus bergerak, menata strategi dan bergerilya. Setiap ada kesempatan dimanfaatkan untuk membangun jalan lapang Kurawa merengkuh kekuasaan. Prinsipnya, Pandawa jangan sampai memimpin, harus disingkirkan.
Ketika Durna, guru Kurawa dan Pandawa, menggelar ujian praktik perang dengan memakai senjata, Suman memerintahkan Duryudana dan adik-adiknya menghabisi Pandawa. Dalihnya, jika Pandawa hidup dan berkuasa, Kurawa bakal sengsara.
Pandawa terperanjat ketika Kurawa serius berperang dengan menghunus segala senjata. Bratasena sadar dirinya beserta keempat saudaranya menjadi target, lalu maju dan mengamuk. Durna buru-buru menghentikan ujian sebelum jatuh korban.
Gagal pada upaya pertama, Suman mencari cara lain yang lebih kejam. Terjadilah pembakaran Pandawa hidup-hidup pada pagi buta yang terkenal dengan peristiwa Bale Sigalagala. Suman yakin Pandawa yang menginap di balai tersebut jadi abu.
Atas dasar itu, Suman menghasut Drestarastra agar memberikan kekuasaan Astina kepada Duryudana. Gendari pun merajuki suami. Tanpa informasi lengkap tentang kebenaran kabar Pandawa, Drestarastra menyerahkan takhta kepada putranya.
Kenyataannya, Pandawa masih segar bugar. Eloknya, Puntadewa dan adik-adiknya tidak membenci Kurawa. Mereka mengalah dan keluar istana Astina membangun tempat tinggal sendiri di Hutan Wanamarta yang kemudian berkembang menjadi Negara Amarta.
Peristiwa tersebut berdampak di kalangan bawah. Rakyat terbelah, terjadi polarisasi. Sebagian tetap tinggal di Astina dan mendukung Kurawa, yang lainnya mengikuti dan mengabdi kepada Pandawa. Sejak itu, bersemai perseteruan antara bala Pandawa dan Kurawa.
Terlalu mahal
Suman, yang kemudian kondang bernama Sengkuni, tidak berhenti sampai di situ. Kurawa terus dipupuk dan diracuni agar abadi memusuhi Pandawa yang tidak lain saudaranya sendiri. Namun, semua kelicikannya tidak pernah membuahkan hasil.
Pada akhirnya kodrat yang harus menghentikan kezaliman. Pecahlah Bharatayuda di padang Kurusetra. Dalam perang yang berlangsung 18 hari itu, Kurawa beserta antek-anteknya tumpes. Takhta Astina kembali kepada yang berhak, Pandawa.
Moral kisah ini, bila dikontekskan dengan situasi politik kini, hati-hati dengan kemungkinan adanya Sengkuni-Sengkuni bergentayangan di tengah-tengah kita. Waspada terhadap upaya adu domba dan memecah belah persatuan bangsa. Terlalu mahal taruhannya!





