JATENG.NASDEM.ID – Keterlibatan perempuan dalam politik di Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 keterwakilan perempuan di parlemen hanya 20,87 persen.
Meski angka ini meningkat di banding tahun 2015, namun angka ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dnegan banyaknya laki-laki yang berhasil menduduki kursi parlemen atau kursi pemerintahan lainnya.
Affirmative action lewat kuota minimal 30 persen caleg perempuan per parpol sejak tahun 2004 lalu kini patut dipertanyakan efektivitasnya. Artinya, partai politik perlu mengakomodasi perempuan bukan sekadar sebagai pemenuhan syarat administratif, namun juga sebagai upaya untuk memajukan perempuan.
“Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam dunia politik. Namun dengan banyaknya perempuan yang duduk di kursi legislatif maka berbagai kebijakan yang lebih responsif gender serta ramah anak dan perempuan akan tercipta,” terang Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem jateng Chairina Ulfah dalam acara Pendidikan Politik Perempuan yang bertema Mewujudkan Inklusifitas Politik yang Ramah Perempuan pada Sabtu (24/12).
Selain meningkatkan minat dan kesadaran para perempuan dalam berpolitik, acara ini juga bertujuan untuk memberikan bekal para bakal calon legislatif perempuan agar memiliki perspektif berkeadilan gender.
Partisipasi perempuan dalam politik merupakan salah satu indikator Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang menilai sejauh mana peran perempuan di dunia politik , pengambilan keputusan, dan ekonomi.
“Perlu perjuangan kolektif dari banyak perempuan untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak bagi para perempuan dan anak,” tegasnya.
Ramah Perempuan

Peningkatan keterpilihan perempuan ini tak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi bagi penguatan keterwakilan perempuan di Indonesia. Meski angkanya naik, namun presentasenya masih di bawah target planet 50/50 yang dicanangkan pemerintah dapat terwujud pada 2030 mendatang.
Zuhar Mahsun, politikus perempuan yang hadir dalam pendidikan politik perempuan ini mengatakan bahwa dalam politik, perempuan juga dihadapkan dengan berbagai tantangan lain.
“Kultur sosial, psikologis, dan ekonomi merupakan faktor terbersar yang menjadi hambatan perempuan yang ingin terjun dalam politik. Untuk itu perlu modal politik dan motivasi yang besar agar perempuan bisa survive di dunia politik,” terang Zuhar yang juga aktivis perempuan ini.
Namun begitu, Partai NasDem membuktikan sebagai partai yang sangat terbuka dan dan mendukung polittikus perempuan. Dari total 59 anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, 19 orang atau 32% adalah perempuan.
Tak hanya mengantarkan perempuan hingga ke kursi parlemen, Pakar Hukum tata Negara Atang Irawan mengatakan bahwa Partai NasDem juga menunjukkan dukungannya terhadap perempuan lewat undang-undang.
“Dukungan lain terhadap perempuan juga ditunjukkan dari sikap Partai NasDem adalah pengesahan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang sudah belasan tahun tak menemui titi temu. Saat ini Partai nasDem terus memperjuangkan RUU Masyarakat Adat dan RUU Perlundungan Pekerja Rumah Tangga yang isinya turut memperjuangkan kepentingan perempuan,” tegas Atang.
Kegiatan ini diikuti oleh 100 perempuan dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang sebagian besar telah mendaftarakan diri sebagai bakal calon legislatif pada Pamilu 2024 mendatang.

