JATENG.NASDEM.ID – Anggota Komisi III DPR RI Kak Eva Yuliana tak menilai Pemilu Serentak 2024 akan lebih banyak menyita perhatian pada gelaran pemilihan presiden dibanding pemilihan legislatif.
“Seolah-olah perhatian masyarakat dan media terpusat pada Pilpres. Wajar jika di beberapa tempat Pilpres jadi perhatian utama,” kata Kak Eva, Jumat (8/10).
Namun, sebenarnya masyarakat telah melek politik. Hal itu, ia alami saat mengikuti kontestasi Pileg 2019 lalu di daerah pemilihan Jawa Tengah 5. Menurutnya masyarakat makin cerdas dan melek politik.
“Di 2019 saya menemui masyarakat makin cerdas. Penting untuk mengenal para calon legislatif. Saat saya bertemu masyarakat di forum-forum, mereka menyampaikan uneg-unegnya terkait tugas-tugas pokok DPR RI hingga DPRD kota/kabupaten,” katanya menjelaskan.
Proses kampanye dan pertemuan langsung dengan masyarakat di daerah dijadikannya sebagai ajang untuk memberikan edukasi politik kepada masyarakat, terutama berkaitan dengan hak politik.
“Jika membandingkan dengan 2014 lalu, masyarakat lebih cerdas. Harapannya masyarakat pada Pemilu 2024 nanti lebih cerdas lagi sehingga bisa membagi Pilpres dan Pileg, dan masyarakat bisa meletakkan pilihan menjadi lebih cerdas,” kata Kak Eva yang juga menjabat Ketua DPD NasDem Kabupaten Sukoharjo ini.
Terlebih, Pemilu 2024 mendatang merupakan gelaran demokrasi yang berbeda dari sebelumnya mengingat di tahun tersebut akan digelar pula pemilihan kepala daerah. Artinya, perhatian penyelenggara dan masyarakat akan disibukkan dengan pemilu.
Hal ini pun menarik perhatian Kak Eva karena akam menjadi budaya baru dalam demokrasi. Meski begitu, hal ini juga akan membuat masyarakat lebih cerdas. Ia juga berharap agar UU Pemilu tak lagi ada revisi.
Menurut Kak Eva, Sisi Pemilu Serentak 2024 mengandung sebuah risiko yang sangat besar sehingga harus dipersiapkan sebaik mungkin, baik oleh pemerintah dan stakeholder untuk mempersiapkan masyarakat agar lebih aware terhadap gelaran pesta demokrasi mendatang.

