JATENG.NASDEM. ID – Konsolidasi pemantapan struktural NasDem Brebes digelar di kantor DPD Brebes, Sabtu (7/8). Hadir dalam rapat tersebut itu Kordapil 12 Kak Fajar Sigit, Sekretaris DPD Kak Dhofir H Tarwanto, dan Siber DPD Kak Yoko.
Rapat sengaja digelar terbatas karena dilangsungkan di masa PPKM sehingga pengurus tak diundang komplet. Namun, DPD optimistis pertemuan telah mewakili pengurus dan bisa melengkapi struktur sesuai jadwal yang telah ditetapkan DPW.
“Kita hari ini memasukkan pengurus perempuan untuk wilayah Brebes Selatan guna memenuhi kuota keterwakilan perempuan 30 perempuan,” kata Kak Fajar.
Revitalisasi yang dilakukan antara lain untuk penguatan Bappilu DPD Brebes
dan pemberdayaaan 30 persen perempuan. “Termasuk pembagian 3 wilayah agar tiap wilayah selatan, tengah, utara semua mempunyai keterwakilan,” kata Kak Dhofir menjelaskan.
Di samping revitalisasi, Kak Dhofir menambahkan DPD juga merevitalisasi sayap partai, kelengkapan struktur Garda Pemuda, Gemuruh, Garnita Malahayati agar lengkap seperti Tani NasDem. “Adapun perekrutan pengurus NasDem Brebes berdasarkan pertimbangan pengurus DPD dan beberapa aspek pendukung,” ujarnya.
Harapannya agar struktural DPD Brebes saat ini lebih kompak dan lebih solid guna mencapai target minimal 6 Kursi dewan legislatif dalam Pemilu 2024.
Dalam mencukupi kebutuhan rekrutmen di atas, tantangan yang dihadapi oleh partai politik tidaklah ringan. Dari segi waktu kadang dirasa mepet. Partai politik juga dituntut untuk menyiapkan calon-calon politisi yang baik, yang
memenuhi harapan publik.
Publik mengharapkan partai hadir dalam setiap aktivitas yang berdampak positif bagi masyarakat luas. Menurut Kak Fajar, tantangannya apakah parpol dapat menjalankan peran dan fungsinya yang dapat dirasakan oleh publik secara luas.
“Jangan sampai publik menganggap partai hanya hadir menjelang dan pada saat pemilihan umum. Secara organisasi,
perkembangan partai-partai politik di Indonesia juga belum begitu menggembirakan,” kata Kak Fajar
Partai masih dinilai minim membangun organisasi parpol yang mendekati ciri ideal seperti diulas oleh para ahli dalam teori- teori tentang partai politik. Alih-alih partai dapat menjalankan fungsi pendidikan politik, sebagai sarana komunikasi politik, sosialisasi politik, partisipasi politik, dan rekrutmen politik, partai-partai politik justru lebih asyik dengan perebutan kekuasaan dan kepentingan jangka pendek atau sesaat.
Upaya untuk mendorong
organisasi partai politik yang lebih moderen melalui terlembaganya mekanisme demokrasi internal partai yang mapan, transparansi, akuntabilitas, dan memiliki tanggungjawab etik, belum sepenuhnya menjadi agenda prioritas dalam reformasi kepartaian di Indonesia.
“Era reformasi sebenarnya memberikan harapan perubahan ke arah yang
lebih baik. Namun dalam praktiknya, perkembangan partai politik seperti
mengalami kemunduran akibat kuatnya personifikasi figur kepemimpinan yang tersentralistik pada figur patron politik yang kuat yang mengakibatkan meluasnya praktik-praktik dinasti politik dalam proses rekrutmen, kandidatisasi, dan kaderisasi,” ia menambahkan.
Partai politik juga kurang mendorong keahlian dan kecakapan politik yang
memadai agar kader-kader politiknya siap terjun ke masyarakat dan menjadi
solusi atas berbagai persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu, antara lain sebagai akibat dari proses politik dan perebutan kekuasaan yang
lebih berorientasi jangka pendek, kental oleh kepentingan politik sesaat. Proses
kaderisasi dan rekrutmen juga belum mampu melahirkan kepemimpinan politik
yang ideal. (NJ27)


