JATENG.NASDEM.ID – Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengatakan saat ini, Indonesia tengah mempertimbangkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber energi terakhir yang bisa menggantikan atau mengurangi peran Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD).
Sugeng Suparwoto yang juga Ketua DPP NasDem Pemenangan Jawa III (Jateng dan DIY) mengatakan hal itu dalam perbincangan di CNBC Indonesia. ‘’PLTN skala kecil sudah semakin ekonomis untuk dikembangkan,’’ ujarnya, Kamis (29/7).
Kak Sugeng yang sebelum terjun ke panggung politik pernah memimpin unit usaha Surya Energi di lingkungan bisnis Media Group itu menambahkan investasi untuk mengembangkan PLTN mulanya memang cukup mahal karena ada rasio kapasitas minimal di mana idealnya sekitar 500 Mega Watt (MW) atau mendekati 1 Giga Watt (GW).
“Dulu investasi mahal karena ada rasio misal idealnya di atas 500 MW mendekati 1 GW baru ideal,” ujar suami Kakak Amelia Anggraini yang juga Ketua DPP NasDem bidang Perempuan dan Anak itu.
Akan tetapi saat ini dengan adanya teknologi baru dan generasi keempat, PLTN bisa menjadi lebih ekonomis meski hanya dengan kapasitas 1 MW sampai 2 MW. PLTN dengan kapasitas kecil menurutnya sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
“Sekarang justru teknologi baru dan generasi keempat bisa dengan 1-2 Mega Watt. PLTN reaktor kapasitas kecil penting untuk negara kepulauan kita,” ujarnya.
Lebih lanjut Sugeng yang pernah memimpin unit media di Media Group itu mengatakan, pemanfaatan PLTD berdampak buruk pada lingkungan dan membebani PT PLN (Persero) karena biaya pokok penyediaan (BPP) mahal, mencapai US$ 25 sen per kilo Watt hour (kWh). Sementara dengan teknologi nuklir, harga listriknya bisa hanya US$ 8 sen per kWh, sehingga ini menjadi menarik untuk dikembangkan.
“Diesel selain polutif juga bikin berdarah-darahnya PLN karena BPP-nya sudah US$ 25 sen, sedangkan dengan teknologi nuklir baru hanya US$ 8 sen,” paparnya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan RI akan membangun PLTN setelah 2035. Hal tersebut disampaikan Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Chrisnawan Anditya.
“Beyond 2035, time frame-nya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan energi nuklir,” paparnya dalam Bincang-Bincang Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Jumat (23/07) lalu.
Menurutnya, RI memiliki potensi dan sumber daya dalam pemanfaatan nuklir untuk kebutuhan pasokan listrik. Dia menyebut, berdasarkan laporan International Atomic Energy Agency (IAEA), dari 19 persyaratan membangun PLTN, tinggal tiga syarat lagi yang harus dipenuhi Indonesia.
“Kita memiliki potensi dan sumber daya. Dan berdasarkan laporan IAEA, dari 19 persyaratan, tinggal tiga persyaratan yang harus dipenuhi RI,” jelasnya.


