JATENG.NADEM.ID – Setelah menyisir desa/kelurahan yang belum kental warna politiknya, kini NasDem Temanggung mulai merangsek wilayah yang selama ini menjadi lumbung suara partai lain. Sabtu (26/6) malam kemarin, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan NasDem Temanggung Eko Budi Hartono disertai anggota DPRD Temanggung dari NasDem Kakak Umi Fadillah mengunjungi tokoh masyarakat Desa Gandurejo.
Menurut Eko Budi Hartono atau akrab disapa Kakak Tony, selama ini Desa Gandurejo adalah lumbung Partai Gokar di Temanggung.
‘’Pada 2019 lalu, NasDem hanya mampu menggondol 11 suara, padahal total pemilih yang nyoblos mencapai empat ribu. Harapannya pada 2024 nanti, kita dapat menggaet tiga sampai empat ratus, syukur-syukur bisa lebih,’’ ujarnya.
Karena itu, lanjut Kakak Tony, ia menggaet Bapak Sudarno yang merupakan mantan Kepala Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Temanggung.
‘’Beliau pada 2014 juga nyaleg, tetapi dari Golkar. Untuk saat ini, beliau bersedia kemballi berjuang bersama NasDem,’’ ujarnya.
Dalam pertemuan usai magrib itu, Pak Sudarno didampingi sejumlah tokoh Desa Gandurejo seperti Pak Marmoyo, Pak Misyadi, dan Pak Sakroni. Sedangkan dari NasDem, selain ditemani Kak Umi Fadilah yang merupakan istri Kak Toni, juga turut serta Kak Wahid.
NasDem Temanggung, termasuk salah satu DPD yang rajin menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, baik silaturahmi yang dilakukan oleh Ketua DPD Muhamad Sayid, maupun oleh Kakak Tony sendiri. Adakalanya, Kakak Sayid jalan bareng dengan Kakak Tony untuk bertemu sejumlah warga.
Menurut Kakak Tony, memperkuat bangun organisasi di tingkat kelurahan tidak bisa dilakukan secara hingar bingar dalam framing simulacra politik, namun sebaliknya penuh dengan kesederhanaan dan mengendap-endap agar tidak terendus oleh sindikasi politik.
‘’Kami melakukan operasi senyap dalam melakukan rekrutmen dan pembentukan pengurus di tingkat ranting. Caranya adalah dengan sistem getok tular. Misalnya di Kampung Purwodadi ini, secara pribadi saya hanya kenal sedikit warga. Kepada merekalah, saya minta tolong untuk mencari anggota baru yang tidak hanya dari rukun tetangga yang sama, namun lebih luas. Ujungnya, kami berhasil mengadakan pertemuan yang dihidiri oleh unsur dari lima rukun tetangga,’’ katanya.
Kakak Toni mengatakan hal itu uasi mengadakan pertemuan dengan warga lima rukun tetangga di rumah seorang warga, Kampung Purwosari, Desa Gondosuli, Temanggung, Sabtu kemarin. ‘’Di Desa Purwosari ini, pada Pileg 2014 kita berhasil meraup suara di tiga rukun tetangga. Insyaalah, pada 2024 nanti NasDem dapat mendulang suara penuh di lima rukun tetangga,’’ katanya optimistis.
Menurut Kakak Toni, membangun struktur di tingkat grassroot harus dilakukan dengan model pendekatan pribadi, hal ini karena terkait dengan soal keyakinan. ‘’Memang diperlukan waktu lebih lama untuk bisa meyakinkan warga terhadap sebuah partai politik, sehingga mereka bersedia bergabung,’’ katanya.
‘’Dalam proses peyakinan itu, akan lebih mudah dilakukan apabila kita menggandeng orang-orang yang memiliki pengaruh di kampung tersebut, sehingga sang tokoh bisa memberikan endorsement kepada warga,’’ Kak Toni menambahkan.
Beruntunglah, karena Kakak Toni saat ini sudah masuk usia pensiun sebagai aparat sipil negara (ASN). Sebelumnya Kakak Toni merupakan camat di beberapa wilayah di Temanggung.
‘’Latar belakang saya sebagai camat sangat membantu dalam pengembangan NasDem. Alahamdulillah, warga mengenal saya dengan tanpa ada catatan negatif, sehingga mereka bisa menerima silaturahmi yang sedang kami kembangkan,’’ katanya.
Namun, meskipun mantan camat, kata Kak Toni, tidak semua warga mengenalnya, ‘’Tetapi minimal saya mengenal sejumlah tokoh di setiap kelurahan, dan mereka bersedia membantu saya. Alhasil, kenalan-kenalan lama tersebut berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan NasDem dengan warga,’’ katanya.
Kakak Toni juga mengembangkan pendekatan model live in atau tinggal bersama warga di sebuah desa, yang ternyata efektif untuk menjaring warga untuk bersedia bergabung dengan partai NasDem.
‘’Inilah makanya, membentuk jaringan di tingkat bawah itu tidak bisa dilakukan dengan gemebyar, tapi dengan teknis perang gerilya, operasi senyap. Tiba-tiba satu kampung yang dulunya didominasi oleh warna politik lain, berubah menjadi lautan biru,’’ katanya bersemangat.


