Oleh : Much Taufiqillah Al Mufti
Sekretaris DPD NasDem Kota Semarang
BERUPAYA selalu berpikir baik, menurut kalangan kesehatan, merupakan jalan supaya terhindar akan terpapar Covid-19. Namun, akhir-akhir ini, upaya berpikir baik itu rupanya (di sebagian masyarakat) bergeser menjadi pengabaian. Menganggap Covid-19 tidak ada, bahkan meremehkan penularannya. Padahal saat ini di seluruh negeri tertatih-tatih menghadapi gelombang dahsyat penyebaran Covid-19 – terlebih setelah muncul kabar virus tersebut bermutasi.
Sedih, ketika saya mengomentari unggahan foto facebook seorang kawan berpose bersama keluarganya sambil menggendong anak di depan sebuah makam wali. Melihat kawan saya itu tidak mengenakan masker, saya mengomentarinya dengan membubuhkan sebuah kata “masker”. Ya, hanya kata “masker”, tanpa kalimat lain. Sebab, saya yakin ia paham, ia seorang akademisi. Namun, apa balasannya?
“Insyaallah, sudah aman di makam waliyullah,” katanya di kolom komentar.
Astaga! Tak hanya itu, ia juga menyematkan pada komentar saya dengan emoticon “tertawa”. Baik, saya memahami untuk tidak perlu sepaneng sekadar mengomentari foto. Namun komentar serta pembubuhan emoticon tersebut membuat saya menggelegak. Dengan yakin ia mengatakan aman dari Covid-19 saat berada di sekitar makam waliyullah, meski ia juga menyematkan kalimat “insyaallah”. Itu masih lumayan, artinya ia percaya akan takdir, dan tentu saja ia tak begitu yakin dengan apa yang ia katakan.
Baik, kalau ia mendefinisikan aman dari penularan Covid-19 ketika berada di makam waliyullah, mengapa pemerintah membatalkan ibadah haji untuk kali kedua? Padahal ibadah haji diselenggarakan di tanah suci yang dalam firman Allah itu dikatakan “aman” (Alqasas ayat 57). Di sana ada kabah yang pernah hendak pasukan gajah hancurkan, namun luluh lantah setelah serangan burung ababil. Kurang aman apa? Namun mengapa ibadah haji untuk kali kedua tetap dibatalkan?
Kalau pun dekat dengan makam waliyullah lantas terhindar dari Covid-19, lalu bagaimana tokoh spiritual – dalam hal ini seperti pemuka agama, kiai, bahkan pemimpin tarikat? Apakah mereka terlindungi dari paparan Covid-19? Tidak. Mereka orang-orang saleh yang kita muliakan juga terkena virus, bahkan sebagian berujung meninggal dunia. Virus ini nyata, bukan barang gaib, bukan mistik, meski tak kasatmata.
Lantas, apakah dengan membatalkan ibadah haji untuk kali kedua itu dan menjaga jarak bahkan dengan orang saleh sekalipun akan berakibat melumpuhnya keimanan kita? Tidak. Justru, keimanan kita pada saat ini sedang diuji seberapa kuat?
Menurut saya, Covid-19 bisa jadi terus ada, sebab melihat perkembangannya yang punya potensi bermutasi. “Obat”-nya pun belum ditemukan sampai saat ini, padahal Covid-19 telah menyebar sejak kurang-lebih setahun. Bahkan orang yang telah divaksin dua kali tidak terlepas dari kemungkinan terserang. Maka, solusi bagi penderita Covid-19 bukan mengobatinya melainkan isolasi hingga si penderita dinyatakan negatif. Sungguh, ini virus yang tak dapat diabaikan begitu saja.
Rem Darurat!
Membaca perkembangan kasus harian Covid-19 per-24 Juni 2021 dengan jumlah 20,574 kasus ini, sangat melonjak signifikan dibanding sehari sebelumnya 15,308 kasus. Belum lagi kondisi ketersediaan dan kemampuan rumah sakit kian berkurang, dari total 82,000 ketersediaan tempat tidur secara nasional, 57,000 tempat tidur telah terisi. Tenaga medis pun kian kelimpungan. Tak pelak, sebagian rumah sakit membuka lowongan tenaga kontrak perawat, seperti di RSINU Demak.
Kondisi ini seperti awal Covid-19 merangsek seluruh negeri, dan kali ini lebih parah! Sebab, anggaran serta tenaga kita telah banyak terhisap. Total anggaran penanganan Covid-19 di tahun 2021 saja mencapai Rp 130,03 triliun, anggaran yang setara dengan empat proyek MRT!
Pemerintah menghidupkan kembali PPKM mikro serta melakukan percepatan vaksinasi. Dua usaha itu saja tidak cukup. Menurut epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menyikapi perkembangan kasus Covid-19 termutakhir. Selain penambahan alkes di rumah sakit, juga percepatan pelacakan sebaran virus. Ketika banyak ditemukan sebaran positive rate, maka pra-kondisi itu semakin baik menghentikan laju penularan.
Opsi lain, seperti melakukan penguncian juga patut dipertimbangkan oleh pemerintah. Sebab, tidak cukup hanya memperketat mobilitas warga, penambahan alkes, dan pelacakan virus. Virus ini harus benar-benar ditangani serius, tak hanya sekadar melakukan pengetatan mobilitas, tapi juga perlu menghentikan mobilitas itu sejenak. Meski konsekuensi logisnya ekonomi mandek, tapi apakah sebanding dengan 56 ribu lebih nyawa melayang?
Kalau pun ingin melakakukan PPKM mikro, maka kebijakan sebelumnya perlu evaluasi. Sebab, penerapannya di lapangan terkesan formalitas belaka. Seperti di tingkat akar rumput, masyarakat kampung memblokade gang-gang mereka setiap pukul 21:00 dan dibuka kembali sekitar pukul 06:00 pagi. Lantas, apakah pada jam-jam itu virus berhenti beroperasi? Atau pada jam malam tersebut si virus sedang ganas-ganasnya? O, tidak. Virus ini justru menggila saat siang, saat portal-portal gang itu dibuka.
India pernah melakukan penguncian dan berhasil menekan laju penularan Covid-19. India menganggap diri mereka sedang berperang, sebagaimana melawan kolonialisme – namun kali ini dalam bentuk virus. Meski kemudian India sempat lena dan melakukan pelonggaran sehingga terjadilah lonjakan kasus sekitar 400 ribu dalam sehari. Peristiwa yang kita kenal “Tsunami Covid-19”. Nah, kita bangsa Indonesia jangan kan kalah, benar-benar berperang saja belum. Kita masih terlalu banyak kompromi, padahal kita tahu virus Covid-19 ini tak pernah mau diajak ke meja perundingan.


