JATENG.NASDEM.ID – NasDem Surakarta terus bergerak membentuk dan melengkapi struktur kepengurusan di tingkat DPRt menyusul telah terbentuknya pengurus cabang di semua kecamatan.
‘’Alhamdulillah kita sudah mendapatkan SK dari DPW untuk seluruh pengurus tingkat cabang atau kecamatan, ujar Ketua DPD NasDem Surakarta Pardiman, Kamis (17/6) siang, melalui percakapan tertulis.
Menurut Pardiman, rampungnya pembentukan DPC memberikan energi bagi NasDem Surakarta untuk bekerja lebih lanjut. Ia mengatakan bahwa wilayahnya mencakup lima kecamatan.
“Meskipun demikian, tantangan yang harus kami hadapi ketika membentuk kepengurusan ranting cukuplah besar. Maklum Solo adalah tempat lahir Presiden Joko Widodo yang kader PDIP, dan yang saat ini menjabat Walikota Solo adalah anaknya Pak Jokowi. Jadi Solo komplit abangnya (PDIP),’’ ujarnya.
Pardiman yang juga seorang pengacara kondang tersebut menjelaskan dengan terbentuknya secara lengkap lima pengurus cabang di lima kecamatan Surakarta, maka menumbuhkan keyakinan bahwa NasDem Surakarta bisa melengkapinya dengan membentuk pengurus ranting.
Keyakinan itu makin membuncah ketika NasDem Surakarta tidak berada dalam posisi terjelek dalam pengumpulan e-KTA. ‘’Capaian anggota e-KTA NasDem Kota Surakarta per hari (Kamis) ini adalah 639 dengan presentasi 22.78 persen, atau urutan ke 19 se-Jateng berdasar persentasi dari target,” katanya.
Secara administrasi, Kota Surakarta terbagi menjadi lima kecamatan dan 54 kelurahan. Kelima kecamatan yaitu, Banjarsari, Jebres, Laweyan, Serengan, dan Pasar Kliwon. Kesemua kecamatan telah terbentuk pengurus cabang dengan tujuh orang pengurus.
Sedangkan untuk pengurus di tingkat desa atau DPRt sedang dalam proses penyusunan. ‘’Pengurus di tingkat DPC sudah mendapatkan surat penetapan dari DPW, sehingga secara administrasi sudah tidak ada masalah, sekarang sedang kami upayakan untuk membentuk pengurus di tingkat ranting,’’ katanya.
Dalam rangka membentuk pengurus ranting di 54 kelurahan itulah, lanjut Pardiman, pihaknya menempuh berbagai cara. Salah satunya adalah mendirikan gardu atau pusat komando. ‘’Kondisi masyarakat yang syarat dengan nilai-nilai kompetisi inilah yang mengharuskan kami untuk bekerja secara diam-diam,” katanya.
Ia menambahkan, “Ada satu atau dua kelurahan yang warna politiknya tidak terlalu kental, maka kami berani membangun posko atau gardu secara terang benderang. Namun sebagian besar, telah memiliki warna politik sendiri, karena itu kami harus bermain secara gerilya,’’ ujarnya.
Pardiman menyadari bahwa menggerakkan kader-kader yang sudah ada untuk membentuk jaringan atau pos-pos komando, membutuhkan dukungan biaya yang tidak sedikit. ‘’Hal ini merupakan salah satu masalah yang kami hadapi. Karena DPD Surakarta belum mempunyai sumber pendanaan yang tetap. Selain itu, sampai saat ini juga belum memiliki kantor sekretariat sendiri,’’ ia menjelaskan.
Hingga saat ini, NasDem Surakarta meski belum memiliki keterwakilan di DPRD Kota dan Provinsi tetapi terwakili di tingkat nasional. ‘’Kami bersyukur bersama Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten yang tergabung di Dapil V DPR RI memiliki satu orang wakil, yaitu Kakak Eva Juliana,’’ ujarnya.
Menurut Pardiman, Kakak Eva Juliana telah memberikan kontribusi nyata terhadap kehidupan NasDem Surakarta. ‘’Kakak Eva sangat perhatian, kami ucapkan terimakasih. Namun, demi memenangkan NasDem di 2024 dengan target mendapatkan kursi di DPRD Kota minimal lima kursi, atau seluruh dapil terisi, NasDem Surakarta memerlukan energi yang lebih besar,’’ katanya menekankan.


