JATENG.NASDEM.ID – Sabtu (7/8) malam kemarin, suasana rumah Kordapil 12 NasDem Jateng Kak Fajar tampak sepi. Sekilas, tak ada aktivitas. Semua pintu tertutup. Meski tampak sepi dari luar, ternyata sejumlah orang sedang meriung di belakang. Tepatnya di dapur. Ada yang mengupas bawang, mengiris cabai, memotong daging ayam, dan mencuci beras.
“Kami mau memasak rica-rica ayam, sambel goreng kentang,” kata Kak Yani istri Kak Fajar kepada jateng.nasdem.id yang ikut nimbrung di acara masak-masak itu.
Kakak Yani bersama sejumlah orang sedang menyiapkan makanan nasi bungkus yang di Tegal populer dengan nama nasi Ponggol. Makanan itu akan dibagikan kepada masyarakat di sekitar Slawi dan sekitarnya. Menurut Kak Yani, aktivitasnya sudah dimulai sejak kemarin pagi belanja bahan di pasar. Semua tim berbagi tugas ada yang ke pasar untuk belanja bahan, di dapur untuk membantu memasak, membungkus makanan, dan membagikan nasi.
“Jadi semua anggota kebagian tugas. Dan tugasnya giliran,” Kak Yani menjelaskan.
Mereka hanya sekitar 2-4 orang. Meski sedikit dan dalam ruangan, mereka pun mematuhi protokol kesehatan: memakai masker dan menjaga jarak. Ketika mau keluar untuk beli sesuatu, mereka tak lupa cuci tangan ketika sudah kembali lagi. “Harus patuhi protokol kesehatan,” kata Kak Yani menekankan.
Awalnya pembagian nasi bungkus itu mereka lakukan saat bulan puasa. Membagikan nasi bungkus kepada masyarakat tak mampu yang mereka jumpai di jalan. Setelah puasa usai, Kak Fajar memutuskan untuk terus melanjutkan aksi berbagi nasi bungkus. Mengingat situasi saat ini
memasuki masa-masa pandemi Covid-19 dan banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Lalu kami putuskan untuk melanjutkan aksi itu selama masa Covid-19,” kata Kak Yani sambil membungkus nasi.
Aksi pembagian nasi bungkus itu dilakukan seminggu sekali, setiapn Minggu subuh. Dalam membagikan nasi dikhususkan kepada masyarakat yang paling terdampak pandemi. Sepeti tukang becak, tukang parkir, pemulung, dan orang-orang yang tetap bekerja di jalan selama Covid-19. “Para pekerja informal yang kami temui di jalan,” Kak Yani menambahkan.
Apa yang dilakukan, kata Kak Fajar, adalah bentuk nyata bagaimana manusia harus saling membantu di masa pandemi. Solidaritas sesama masyarakat, dalam membantu sesama di masa pandemi Covid-19, tidaklah memandang suku dan agama, karena semua agama mengajarkan perdamaian dan saling menolong.
“Di masa pandemi ini kita tetap bisa bersolidaritas walaupun kita berbeda iman atau kepercayaan. Malah kalau bersolidaritas lintas iman, kita bisa saling membantu dan meringankan,” Kata Fajar sambil memasukkan nasi bungkus ke dalam plastik besar untuk dibagikan.
Jarum jam sudah menunjuk di angka setengah 5 pagi. Azan subuh juga barusan berkumandang. Kak Fajar bersama tim pun menjalankan salat subuh sebelum bergerak membagikan nasi bungkus.
Setiap minggu, Kak Fajar membagikan sekitar 100 nasi bungkus kepada masyarakat terdampak Covid-19. Jalur yang mereka lalui yakni dimulai dari rumah dinas Bupati Tegal, SMA 1 Slawi, Ruko Slawi dan terus menelusuri jalan. Berhenti setiap kali melihat tukang parkir atau tukang becak, didekati dan diberikan 1 atau 2 nasi bungkus.
Mereka yang menerima tampak tersenyum lega sambil menyampaikan terima kasih. Yanto misalnya, tukang becak yang mangkal di depan SMA 1 Slawi. Dia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dengan menelangkupkan kedua tangannya.
Yanto mengaku, sebungkus nasi yang dia terima mampu meringankan bebannya. Apalagi sebagai tukang becak, penghasilannya menurun di masa pandemi. Kadang dapat penumpang, kadang juga tidak. “Bagi saya sangat membantu, terima kasih, mas,” kata Yanto usai menerima nasi bungkus
Kak Fajar mengatakan bersama istri akan terus berusaha untuk melakukan gerakan nasi bungkus setiap minggu. “Kami ingin tetap membantu dan bersolidaritas,” katanya tanpa maksud untuk dipuji. (NJ27)


