18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Belajar dari Kumbakarna

Ono Sarwono

Kader NasDem

DALAM rangka sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Pendapa Walikota Surakarta (8/11).

Pergelaran yang sekaligus untuk memperingati dan memeriahkan Hari Wayang Nasional itu mengambil lakon tentang kepahlawanan bertitel Prawira Kusuma Bangsa. Kisah tersebut dibawakan dalang muda Ki Amar Pradopo dari Surakarta.

Benang merah cerita ini menggambarkan kiprah raksasa Kumbakarna membela negaranya yang di ambang kehancuran karena diserbu bala tentara wanara. Ia mengorbankan jiwa dan raganya demi mempertahankan Tanah Air, Alengka.

Sayang keluarga

Kumbakarna adalah paradoks, gergasi (buta) tapi berwatak kesatria. Ia memang bertolak belakang dengan golongan raksasa lain yang pada umumnya angkara murka, bengis, dan kanibal. Hatinya pun bersih dan jiwa kemanusiaannya tinggi.

Dari sisi fisik, Kumbakarna gambaran buta yang ‘sempurna’. Tubuhnya gede bak bukit, raut muka merah, mata nanar, gigi seperti gergaji baja dengan taring runcing seperti belati, dan rambut gimbal panjang menjuntai. Suaranya besar menggelegar.

Kodratnya Kumbakarna terlahir demikian itu. Padahal ayahnya, Wisrawa, seorang resi tampan yang kondang dari Pertapaan Hargajembangan. Ibunya, Sukesi, putri kedaton Alengka yang cantik jelita dan ketika muda banyak pemuda tergila-gila.

Dalam keluarga, Kumbakarna memiliki kakak bernama Rahwana yang kemudian  amat terkenal dengan nama Dasamuka. Adiknya dua, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Selain itu, masih memiliki satu saudara laki lain ibu bernama Danapati.

Ketika masih kecil dan remaja, Kumbakarna tinggal bersama saudara kandung di istana Alengka. Setelah dewasa tinggal di Kesatrian Pangleburgangsa. Ia memiliki istri Bathari Aswani dan berputra dua, Kumbakumba dan Aswanikumba.

Kumbakarna sangat sayang kepada semua saudaranya. Sebagai generasi penerus, keempatnya berjuang demi Alengka yang lebih makmur. Ia pun mendukung penuh Rahwana menjadi raja menggantikan kakeknya, Prabu Sumali, yang lengser.

Pada awal kepemimpinannya, Dasamuka yang didampingi patih Prahasta selalu melibatkan ketiga adiknya dalam setiap mengambil keputusan. Ini untuk menjaga kerukunan keluarga mengingat itulah wasiat yang diwanti-wanti oleh sang kakek.

Dasamuka memang yang menjadi penguasa, tapi tidak boleh bertindak sesuka hati dan meninggalkan adik-adiknya. Keempat anak Wisrawa-Sukesi memiliki hak dan tanggung jawab yang sama terhadap maju-mundur atau ‘putih-hitamnya’ Alengka.

Seiring berjalannya waktu, Dasamuka muncul egoismenya. Puncaknya ketika tega menculik Sinta, istri Rama Regawa, saat sedang lelana brata (laku prihatin) di Hutan Dandaka. Putri Mantili yang amat ayu itu akan dijadikan istri yang kesekian.

Menentang Dasamuka

Dasamuka menyatakan Sinta adalah titisan Bathari Sri Widawati yang menjamin kemakmuran negara. Itulah dasar keinginannya memiliki Sinta yang ditempatkan di Taman Argasoka yang indahnya tidak kalah dengan taman-taman di Kahyangan.

Namun, apapun alasannya, Kumbakarna tidak setuju dan menolak tindakan sang kakak dan bahkan dinilainya hina. Ia tak ingin martabat Alengka dinodai dengan tindakan tak bermoral pemimpinnya. Sinta harus dikembalikan kepada Rama.

Di situlah awal keretakan Dasamuka dan Kumbakarna. Penolakan juga diutarakan Gunawan yang menyarankan agar Sinta secepatnya dipulangkan ke Rama dan meminta maaf. Kenapa demikian, Rama adalah titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan jagat.

Apalagi, istana Alengka baru saja dibakar Anoman, duta Rama untuk memastikan keberadaan Sinta. Peristiwa itu juga sebagai sinyal bagi Dasamuka jika tetap kukuh menyembunyikan Sinta. Alengka terancam hancur lebur bila tidak segera bertobat.

Sikap kedua adiknya itu membuat Dasamuka murka. Kumbakarna dan Gunawan dipersilakan minggat bila tidak sejalan dengan dirinya. Pada akhirnya, keduanya adiknya itu benar-benar pergi meninggalkan Dasamuka yang

Kumbakarna menyepi menenangkan diri dengan bertapa di lereng Gunung Gohkarna. Sedangkan Gunawan menyebarang mengabdi kepada Rama. Tinggal Sarpakenaka yang bertahan di Alengka dan menemani hari-hari Dasamuka.

Akibat Sinta tak dikembalikan, Rama bersama adik, Leksmana, dibantu Raja Goa Kiskenda Narpati Sugriwa yang berbala ribuan wanara menyerbu Alengka. Tujuannya menjemput Sinta sekaligus menghancurkan keangkaramurkaan.

Dasamuka kewalahan menghadapi gempuran Rama. Senapati-senapati unggulan bergelimpangan di medan perang. Sarpakenaka pun menjadi korban. Dalam situasi kritis, Dasamuka ingat Kumbakarna dan memerintahkan Indrajit menjemputnya.

Betapa gusarnya Kumbakarna ketika dibangunkan Indrajit, anak Dasamuka, dari tapanya. Apalagi setelah diberi tahu bahwa dua anaknya yang masih ingusan, Kumbakumba dan Aswanikumba, mati di medan laga membela uaknya.

Kumbakarna bergegas menemui Dasamuka di istana. Di sana ia menegaskan lagi sikapnya yang tidak pernah berubah, Sinta harus segera dikembalikan. Jika tidak, Alengka seisinya bakal hancur lebur. Dasamuka dengan keras tetap menolaknya.

Namun, sebagai anak bangsa Kumbakarna menyatakan dirinya siap terjun ke palagan menghadapi Rama. Namun, pengorbanannya itu bukan untuk membela Dasamuka melainkan mempertahankan negara, tumpah darahnya yang dicintai.

Tak terbilang prajurit wanara pendukung Rama mati akibat amukan Kumbakarna. Tetapi pada akhirnya, Kumbakarna gugur terkena panah Goawijaya yang dilepaskan Rama. Kematiannya mendapat banyak simpati berkat jiwa kesatria yang luhur.

Berjiwa patriotik

Para dewa di Kahyangan ramai-ramai turun ke marcapada ‘melayat’ gugurnya Kumbakarna. Ini gambaran penghormatan terhadap titah yang teguh berada pada jalan keutamaan dan mengentengkan nyawanya untuk membela tanah air.

Dalam imajinasi KGPAA Mangkunegara IV, Kumbakarna adalah salah satu contoh pahlawan yang pantas diteladani. Hal itu beliau tulis dalam tembang macapat pupuh Dhandhanggula yang tertuang dalam karyanya yang monumental, Serat Tripama.    

Dalam perspektif dunia Barat, Kumbakarna itu memiliki sikap Right or wrong is my country. Sedangkan dalam konteks kebangsaan, Kumbakarna adalah anak bangsa yang patriotik, rela dan ikhlas berkorban demi mempertahankan Tanah Air. ***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top