Semarang – DPW Partai NasDem Provinsi Jawa Tengah mengadakan kegiatan pelatihan feminisme anggota legislatif perempuan NasDem Jateng. Diawali dengan pembukaan, Prianto selaku wakil dari DPW Partai NasDem menyampaikan terimakasihnya kepada seluruh narasumber, fasilitator dan peserta yang hadir dalam acara tersebut, kemudian sesuai dengan arahan Ketua DPW NasDem Jateng Lestari Moerdijat, bahwa tujuan utama dari agenda ini selain memperkuat kapasitas peserta diharapkan mampu diaplikasikan ketika membuat kebijakan bisa selaras dengan SDGs dan menggunakan prinsip-prinsip feminisme Pancasila.
Kegiatan yang berlangsung pagi hingga sore ini di isi oleh bebepa narasumber yang ahli di bidang keilmuanya masing-masing, salah satunya adalah Eva Sundari yang memaparkan tentang feminisme Pancasila. Ia Mengatakan bahwa, mengapa kita penting untuk menyematkan Pancasila dalam istilah Feminisme, diantaranya adalah karena Pancasila merupakan Ideologi dan sumber segala sumber yang muaranya adalah untuk cita-cita kemakmuran bersama (sosialis) bukan hanya untuk individu (liberal) dan itu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bung Karno sebagai Presiden pertama Indonesia.
Perempuan Indonesia juga memiliki sejarah panjang perjuangan untuk bahu membahu ikut mengusir penjajah hingga meraih kemerdekaan.
“Secara sejarah, perempuan berperan penting untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, mulai dari pemimpin pasukan perang, perajut bendera, buruh, bahkan sampai para germo pada saat itu semuanya jadi satu untuk ikut membantu berjuang melawan penjajah demi meraih kemerdekaan, inilah yang menjadi dasar kenapa kita perlu menambah Pancasila sehingga menjadi Feminisme Pancasila, karena ada unsur Nasionalisme disitu, Sabtu (15/2).
Pada kesempatan tersebut ia juga menambahkan yang membedakan feminisme pancasila dengan feminisme liberal, radikal dan feminisme-feminisme lain yang dianut oleh barat karena ada pancasila sebagai pembeda, yaitu feminisme yang mencari jalan tengah, sehingga ia tidak memiliki tujuan individualis sebagaimana feminisme liberal, tidak juga sosialis yang sama sekali tidak mementingkan kepemilikan pribadi, atau bahkan radikal yang sama sekali menganggap laki-laki adalah sumber segala masalah, maka dalam feminisme ini sama sekali tidak butuh laki-laki.
lebih lanjut lagi beliau mencontohkan bahwa Feminisme Pancasila sebagai jalan tengah adalah kolaborasi antara sosialisme dan liberalisme yang oleh Bung Karno sebagai Non Blok. Tidak seperti Turki yang sekuler dan Pakistan yang berbasis pada agama. Begitu kata bung karno.
mengutip penjelasn Bung Karno Eva juga menjelaskan tentang pancasila perspektif kesetaraan gender, bahwa makna dari bendera yang berwarna merah adalah simbol darah perempuan yang bermakna darah merah menstruasi dan putih sebagai darah laki-laki yang beruwujud sperma. keduanya harus saling kolaborasi tidak menafikan salah satunya sehingga dapat berfungsi untuk reproduksi, produksi dan subjek kehidupan.
Eva juga menambahkan tentang makna sila dalam pancasila yang memiliki perfpektif adil gender yang terdapat pada sila kedua, yaitu rantai dengan wujud kotak dan bulat yang saling terkait dan tidak putus yang bermnakna bahwa laki-laki dan perempuan harus saling kolaborasi dan tidak boleh terputus satu dengan yang lainya, yang demikian itu merupakan falsafah keadilan gender perspektif Feminisme Pancasila.
Seluruh kegiatan ini berlangsung khidmat karena nampak seluruh peserta yang antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir.

