Ono Sarwono (Kader NasDem)
“KANG (kakang), beberapa hari lalu di Amarta gayeng ya?” tanya cantrik kepada sohibnya, Gareng, Petruk, dan Bagong, yang mampir di pondoknya.
“Maksudmu apa, trik (cantrik)?” jawab Gareng.
“Saya dengar kabar dalam acara sebuah partai ada seorang seniman menyerang dua calon pemimpin lewat pantun. Di sisi lain, ia menyanjung calon pemimpin yang diusung partai tersebut,” jelas Cantrik.
“Ooo… itu. Begitulah di tahun politik,” ujar Gareng.
“Persoalannya bukan itu, Kang Gareng. Seniman itu mestinya berkarya seni. Jangan jadi partisan,” sergah Bagong.
“Loh, pantun itu kan juga karya seni. Lalu, apa salahnya seniman partisan?” kata Gareng.
“Karya seni kok begitu!” gerutu Bagong sembari terkekeh dan membanting kopiahnya ke lantai.
Pada malam itu, Gareng, Petruk, dan Bagong bersilaturahim kepada Cantrik di tempat tinggalnya di kompleks Pertapaan Retawu di Sapta Arga. Keakraban antara tuan rumah dan tamu terjalin dan terpelihara sangat lama.
Panakawan itu biasa memilih menyingkir dan mengobrol bersama cantrik setiap bendaranya, Arjuna, yang didampingi Semar, sedang mendapat wejangan dan atau wedharan (ajaran) ilmu dari kakeknya, Begawan Abiyasa, di ruang tengah pendapa.
Petruk, setelah menyeruput wedang jahe, mengatakan bahwa berpolitik itu hak setiap warga, pun mendukung pemimpin pilihannya. Hanya, ketika orasi politik itu dikatakan sebagai sebuah karya seni, itu yang mesti dikritisi.
“Jangan angel-angel (sulit-sulit), Kang. Jelasnya bagaimana?” tanya cantrik.
Menurut Petruk, seni itu indah. Jadi, manakala seni itu untuk menyindir, bahkan menyerang atau menjatuhkan pihak lain sekali pun, tidak akan menimbulkan ketidaksenangan atau kebencian dari pihak yang menjadi sasaran.
Kritik berseni, paparnya, tidak pernah menggores luka. Kenapa demikian? Sesuai dengan fitrahnya, seni itu indah dan membahagiakan. “Sekeras apapun pesan yang disampaikan, bila lewat seni akan terasa nikmat serta menenteramkan.”
“Tapi, maaf Kang, seniman dalam acara partai itu menegaskan bahwa apa yang disampaikan merupakan karya seni. Bagaimana itu?” tanya cantrik lagi.
Bagong nyeletuk, “Menurut saya, itu jelas bukan seni. Tapi, memang seni itu ada yang baik dan ada pula yang buruk, ada yang tingkat tinggi ada pula seni yang bercita rasa asor (rendah).”
“Begitu ya, Kang,” kata cantrik. “Eh, seni itu apa sih, Kang?”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kutip Gareng dengan cekatan, seni itu keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya). Seni itu juga berarti karya yang diciptakan dengan keahlian luar biasa.”
“Beri contoh, Kang!” pinta Bagong.
Obrolan rakyat kecil itu semakin hangat. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat lubang angin di atas pintu dan jendela pondok tak membuat mereka kehilangan gairah. Belalang dan jangkerik di ladang pun seperti ikut menimbrung dengan bernyanyi silih berganti.
Sesekali dari pohon randu raksasa yang menjulang, terdengar samar-samar senandung burung hantu. Lampu di ruangan kadang seperti berkedip-kedip sehingga malam terasa tintrim (mencekam). Namun, semuanya itu tak mengganggu nikmatnya bercengkerama.
Setelah berpikir sejenak, Gareng lalu mengatakan, satu contoh seni sederhana tapi bernilai tinggi ialah tembang Kudangan gubahan mendiang maestro dalang wayang kulit Ki Narto Sabdo. Tembang ini kaya tafsir, satu di antaranya politis, merupakan harapan kepada pemimpin.
“Saya kira Petruk yang wasis (pintar) menjelaskan ini,” tambah Gareng.
“Weh…yang ngomong kan kamu, Kang,” kata Petruk.
“Jelaskan saja Kang. Cantrik biar tambah pintar juga,” ujar Bagong.
“Betul…betul, Kang,” saut cantrik.
Petruk menjelaskan, sejauh pengetahuannya, tembang Kudangan itu sesungguhnya harapan Ki Narto Sabdo kepada salah satu waranggana asuhannya, Ngatirah. Itu tampak pada lirik tembang yang ber-sandi asma (nama rahasia), yaitu kata setiap awal lirik merupakan nama kedua seniman luar biasa tersebut.
Adapun lirik tembang Kudangan ialah:
Kinudang-kudang tansah bisa leladi, Narbuka rasa tentrem angayomi, Tata-susila dadi tepa-tuladha, Sababe dhek-iku sarawungan kudu, Dadi srana murih guna kaya luwih, Ngawruhi luhuring kabudayan, Tinulad sakehing bangsa manca, Rahayu ngrebda angembang ngrembaka.
(Digadang-gadang selalu bisa mengabdi, Menggugah rasa tenteram mengayomi, Sopan-santun dan etika menjadi suri teladan, Sebab itu jadi keharusan pergaulan, Jadi sarana agar lebih makmur, Menjaga luhurnya budaya, Menjadi contoh semua bangsa lain, Selamat sejahtera terus tumbuh berkembang).
Menurut Petruk, salah satu ciri karya seni tinggi itu juga mampu mengundang banyak ‘tafsir’ itu tadi. Dengan makna yang terkandung dalam tembang Kudangan, ini bisa juga memunculkan tafsir sebagai sebuah harapan kepada pemimpin.
Bagong menyela, “Jadi, karya seni itu ada standarnya. Jika tidak demikian, apapun itu bukan karya seni. Begitu ya, Kang?”
“Begini Gong (Bagong). Seni itu soal rasa. Saya kira, semua orang bisa menilai sebuah karya itu merupakan seni atau bukan,” jelas Petruk.
Lebih lanjut Petruk mengatakan, sebuah karya seni, katakanlah pantun, bila tidak memiliki atau mengandung nilai seni bisa menjelma menjadi propaganda. Parahnya lagi hanyalah provokasi. “Jangan memaksakan seni turun derajat gara-gara kepentingan politik.”
Udara dingin terasa mencapai puncaknya. Tapi, ayam jago alas berkokok bersaut-sautan tanda datangnya pagi. Panakawan dan cantrik menyudahi obrolan mereka dan kemudian bergegas bersiap melaksanakan sembahyang awal hari. ***


