18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Parenting ala Kunti Talibrata

Ono Sarwono (Kader NasDem)

AKSI brutal Mario Dandy Satriyo terhadap seorang remaja kembali menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan moral anak. Bukan hanya Mario, banyak terjadi kekerasan yang dilakukan anak-anak, seperti klithih, akibat tak mengenal moral.

Pihak yang paling bertanggung jawab terhadap moral anak ialah ayah dan ibunya. Bila orangtua mengabaikan tugas mulia itu dalam rumah tangga, di situlah awal buram masa depan anak yang akan berimbas pada hancurnya peradaban bangsa.

Dalam cerita wayang, Kunti Talibrata menjadi contoh bagaimana seorang ibu (orangtua) mengasuh dan mendidik putra-putranya. Tiga anak kandung dan dua putra tirinya yang dikenal dengan sebutan Pandawa menjadi para kesatria hebat.

Kehilangan suami

Merunut kisahnya, Kunti seperti digariskan sebagai wanita penuh ujian. Ketika gadis, menanggung malu mengandung ‘benih’ Bathara Surya akibat sesuatu yang tak diketahuinya. Setelah anak lahir, ia harus berpisah dengan darah dagingnya itu.

Pasca peristiwa punya anak tanpa nikah, Kunti, putri kedaton Mandura, dipinang Pandu, putra Raja Astina Prabu Kresnadwipayana. Namun, Kunti bukanlah satu-satunya pendamping Pandu. Masih ada wanita lain, yaitu Madrim dari Mandaraka.

Dari lubuk hati paling dalam tentu ada ganjalan karena dibanding-bandingkan, tetapi Kunti legawa dimadu. Baginya, menjadi istri merupakan pengabdian suci terhadap suami yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja.

Kunti menikmati hari-hari bahagianya bersama sang suami setelah lahir tiga buah hati mereka, yakni Puntadewa, Bratasena, dan Permadi. Madrim pun melahirkan dua anak kembar, Tangsen-Pinten. Mereka hidup rukun di istana yang megah.

Sayang, kebahagiaannya tergerus akibat Pandu meninggal dunia dalam Perang Pamuksa melawan muridnya, Raja Pringgondani Prabu Tremboko. Madrim yang tidak mampu menahan sedih atas kepergian sang suami kemudian menyusul mati.

Sungguh berat Kunti menghadapi kenyataan tersebut. Kepedihan hatinya sulit digambarkan. Beruntung, pada saat-saat kesedihan memuncak, ia ingat piwulang (ajaran) hidup gurunya, Resi Druwasa, ketika masih tinggal di istana Mandura.

Inti dari ilmu yang didapat ialah bahwa hidup itu menjalani kodrat-Nya. Apapun yang terjadi mesti dihadapi dan dijalani dengan sabar dan tawakal. Kesedihan yang berlarut-larut justru akan mengganggu keikhlasan menekuni hidup.

Lagi-lagi Kunti harus tulus hati rela menghadapi kepaitan hidup. Jalan terjal yang kini mesti dititi ialah mengasuh, membimbing, dan membesarkan anak-anak, tiga putra kandung dan anak tiri kembar, sebagai orangtua tunggal (single parent).

Di saat bayang kesedihan belum sepenuhnya hilang, cobaan datang lagi. Takhta Astina, hak anaknya, diambil alih Kurawa, putra-putri kakak ipar, Drestarastra-Gendari. Sulungnya, Kurupati, menjadi raja bergelar Prabu Duryudana.

Bratasena marah dan berusaha merebut kembali takhta. Namun, niat tersebut digugurkan Kunti. Putranya dihaluskan hatinya, diingatkan agar tidak berebut kekuasaan dengan saudara. Kekuasaan itu bukan segala-galanya, fana.

Hidup di hutan

Setelah merampas takhta, Pandawa tidak menduga jika Kurawa membidik nyawa mereka. Ini demi melanggengkan kekuasaan karena jika putra Pandu masih hidup dianggap membahayakan. Ini terjadi dalam lakon dramatis Bale Sigala-gala.

Pandawa dan ibunya yang menginap di sebuah balai dibakar Puracona, berandal yang dibayar Kurawa. Beruntung, mereka selamat. Lagi-lagi Kunti menasihati putra-putranya agar tidak dendam kepada Kurawa yang menjadi biang kerok.

Tidak sampai di situ, Pandawa tersusir dari istana Astina. Mereka menggelandang, pergi tanpa tempat tujuan jelas. Dalam penderitaan itu, Kunti tetap berada di sisi anak-anaknya untuk terus menanamkan akhlak dalam-dalam.

Dalam episode ngulandara (berpindah-pindah) itu Pandawa sempat nebeng di rumah demang Ijrapa di Dusun Manahilan. Tuan rumah mengungkapkan, warga sedang tercekam karena bakal dimangsa Baka, raksasa kanibal penguasa Giripura.

Kunti memerintahkan Pandawa menolong warga agar terlepas dari ketakutan. Singkat cerita Baka mati di tangan Bratasena. Masyarakat Manahilan kembali menikmati hidup tenteram tanpa gangguan.

Atas dorongan sang bunda, Pandawa membangun tempat tinggal di Hutan Wanamarta yang masih dalam kekuasaan Astina atas palilah (izin) Drestarastra. Seiring berjalannya waktu, wilayah itu berkembang menjadi negara Amarta.

Ternyata, meski sudah hidup mandiri, Pandawa tetap tidak aman. Mereka terus menjadi target pembunuhan Kurawa lewat berbagai cara. Skenario terakhir lewat permainan dadu, strategi keji penuh tipu muslihat.

Akibat kalah main dadu, Pandawa tidak hanya kehilangan Amarta, tetapi harus hidup terlunta-lunta di Hutan Kamyaka belasan tahun lamanya. Kurawa yakin dengan segala keterbatasannya, Pandawa bakal mati konyol di tengah belantara.

Tapi mimpi-mimpi Kurawa gagal. Mereka lupa bila Pandawa memiliki seorang ibu luar biasa, yang mendidik putra-putranya untuk senantiasa mencari nilai kemuliaan dari setiap lelakonnya. Maka, Pandawa tetap selamat dan bahkan mendapat berkah.

Keluarga inti

Kunti ialah panduan Pandawa menjadi kesatria memanik-ing jagat, mutiaranya makhluk marcapada. Di tengah derita bertubi-tubi, Kunti istikamah berlambaran kasih sayang menggulawentah anak-anaknya berada di jalur laku utama.

Dalam dunia pakeliran, atas kemilau dan keindahan pribadinya, Kunti disebut-sebut sebagai seorang istri dan ibu yang berhati kumala, perempuan yang suci trilaksita—ucapan, pikiran, dan hatinya.

Kisah ini memberikan contoh bahwa membangun moral anak mesti diawali dari lingkungan keluarga inti. Orangtua bukan hanya menyuapi makan-minum anak tetapi jauh lebih penting mendulangnya berakhlak mulia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top