Ono Sarwono (Kader NasDem)
SALAH satu isu politik yang terus menggelinding di ruang publik adalah koalisi. Selain ‘pernik-pernik’ koalisi dalam pemerintahan, juga rencana sejumlah parpol membentuk koalisi untuk menghadapi pilpres pada 2024.
Sederhananya, yang dimaksud koalisi itu ialah kerja sama sejumlah partai yang terikat semacam konsensus untuk kepentingan tertentu. Kedudukan partai dalam koalisi sama (equal), tidak ada yang lebih atau kurang daripada lainnya.
Jadi, rohnya tidak boleh ada yang merasa paling penting dan dominan sehingga berhak mengatur atau memaksakan kehendak agar pihak lain tunduk atau menuruti. Moralnya semangat bergotong-royong mencapai tujuan bersama.
Rahasia dewa bocor
Menilik dunia pakeliran, kisah tentang koalisi terceritakan dalam sejumlah lakon. Di antaranya ketika era Kurawa memusuhi dan berusaha membasmi Pandawa dalam upaya mempertahankan takhta Astina yang direbut secara inskontitusional.
Awal koalisi mulai dibangun gara-gara rahasia Kahyangan bocor ke marcapada, yaitu skenario dewa tentang bakal terjadinya Bharatayuda, yakni perang Kurawa melawan Pandawa di medan Kurusetra.
Berita itu menyentak penduduk bumi. Saudara baku-bunuh. Perang sesama darah daging Abiyasa, wong suci dan mantan raja agung Astina yang dihormati semua makhluk. Ironisnya lagi, itu sumbernya persoalan warisan (kekuasaan).
Di tengah penggalangan koalisi, Kurawa bergerilya ngrempeli (mengurangi) kekuatan Pandawa. Tidak sekali kelima putra mendiang Raja Astina Prabu Pandudewanata itu dibidik nyawanya. Selain upaya bawah tanah yang diotaki Sengkuni, juga lewat sraya (bantuan) pihak lain.
Tapi, semua langkah keji Kurawa gagal. Sebaliknya, setiap ujian yang menimpa Pandawa justru meningkatkan kualitas pribadi atau jiwa kesatria serta keperwiraan mereka. Ini karena Pandawa istikamah menjalani lelakon-lelakonnya sebagai laku.
Misalnya, jebakan maut yang disutradarai Sengkuni dalam kisah Balesigalagala. Pandawa bersama sang bunda, Kunti, yang menginap di sebuah balai dibakar pada malam dini hari. Mereka selamat berkat pertolongan dewa.
Kemudian, permainan dadu yang lagi-lagi diarsiteki Sengkuni. Pandawa kalah dan kehilangan semua yang dimiliki, termasuk istana Amarta. Puntadewa dan keempat adiknya masih harus hidup di Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan menyamar satu tahun.
Eloknya, setiap peristiwa buruk yang menimpa malah menjadi berkah. Ini karena ibarat peribahasa sambil menyelam minum air, Pandawa melakoni setiap persoalan hidup untuk menggembleng diri. Muaranya, mereka menjadi kesatria berkualitas.
Contohnya, ketika ngulandara (terlunta-lunta) di belantara Kamyaka, panengah Pandawa, Arjuna, memanfaatkan dengan bertapa. Laku prihatinnya diterima dewa dan mendapat anugerah pusaka sangat ampuh berupa panah pasopati.
Koalisi Keutamaan
Dengan semakin dekatnya ‘jadwal’ Bharatayuda, Kurawa miris karena merasa koalisinya belum kuat. Menurut saran paranpara Durna, koalisi Kurawa tak akan terkalahkan bila bisa menggandeng Kresna, raja Dwarawati.
Duryudana, pemimpin Kurawa, setuju dan meminta bantuan kakak ipar, Baladewa, membujuk Kresna, adiknya, agar bergabung Kurawa. Tapi kemudian Duryudana gagal fokus, memilih berkoalisi dengan seribu raja daripada Kresna seorang diri.
Logika Duryudana, Kurawa bersama puluhan ribu prajurit koalisi pasti menang melawan Pandawa yang hanya didukung Kresna. Koalisi yang dikomandani Kurawa dinamakan Koalisi Pestapora, gabungan para pemburu nikmat duniawi.
Durna menyayangkan pilihan Duryudana. Keputusan bodoh. Tidak tahu siapa sejatinya Kresna, yakni titisan Bathara Wisnu, dewa penegak keadilan jagat. Dari sinilah Durna sejak awal meramal bahwa Kurawa bakal tumpes.
Sebaliknya, Pandawa selain dibotohi Kresna, mereka juga membangun koalisi ramping yang sangat solid. Namanya Koalisi Keutamaan. Dipilihnya nama itu dilatarbelakangi keyakinan bahwa nilai hidup adalah akhlak mulia (laku utama).
Negara yang bergabung dengan Koalisi Keutamaan itu adalah Wiratha, Pancala, Pringgondani, Lesanpura, dan Dwarawati. Anggota koalisi ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Koalisi Pestapora yang gemuk dan bermodal besar.
Satu hal menarik dalam Koalisi Keutamaan ialah persamaan persepsi bahwa hidup itu yang diutamakan perilaku utama. Ini yang diperjuangkan agar dunia damai sehingga semua penghuni menikmati hidup ayem-tenteram.
Pandawa memang ‘jantungnya’ koalisi, tapi praktiknya kesetaraan. Tidak ada yang paling daripada lainnya. Koalisi dibangun dengan asa kebersamaan. Tanggung jawab semua anggota sama dan kepemimpinannya bersifat kolektif kolegial.
Dalam kultur Jawa, koalisi demikian itu bercita rasa madsinamadan danadinayan. Maknanya, kerja sama dan bersinergi dalam semangat keguyub-rukunan dengan saling menghargai, menghomati, menguatkan, dan tidak saling mengungguli.
Dengan dua koalisi yang saling berseberangan itu, maka sejatinya Bharatayuda itu bukan sekadar Pandawa melawan Kurawa melainkan perangnya (nafsu) keutamaan kontra kazaliman.
Tujuan bersama
Pandawa (Koalisi Keutamaan) akhirnya memenangkan Bharatayuda. Koalisi Pestapora pimpinan Kurawa yang gemuk dan bermodal besar ternyata rapuh. Mereka tumbang akibat tidak kompak, anggotanya punya tujuan masing-masing.
Itu berbeda dengan koalisi pimpinan Pandawa yang menjunjung soliditas dan semangat kebersamaan. Koalisi Keutamaan dibangun bukan semata untuk kemenangan Pandawa melainkan demi tegaknya nilai-nilai keadaban.
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah di atas bahwa koalisi yang baik ialah keselarasan seluruh anggotanya, yang ber-madsinamadan danadinayan sehingga tercipta harmonisasi. Hasrat koalisi adalah mencapai tujuan bersama.





