18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Kesambet

Ono Sarwono (Kader NasDem)

EMHA Ainun Nadjib mengaku kesambet ketika mengatai Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Firaun (raja zalim). Itulah celoteh Cak Nun, panggilannya, kenapa dirinya sampai mengeluarkan pernyataan kontroversial bin irasional tersebut.

Dalam masyarakat Jawa, kasambet itu istilah bagi seseorang yang ketempelan atau mendadak diganggu atau kerasukan dedemit (roh jahat). Biasanya badannya adem panas, meracau, ndleming atau ngomyang (melantur), hingga pingsan.

Kunti Talibrata, dalam cerita wayang, pernah kesambet ketika mentalnya sedang tidak stabil akibat memikirkan nasib putra-putranya (Pandawa) yang tiada jeda dirundung cobaan. Sepenggal kisah seorang ibu yang menjadi single parent.

Terusir dari Astina

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Begitu juga Kunti alias Prita, sekar kedaton Mandura yang dipersunting Raja Astina Prabu Pandu Dewanata. Wanita terhormat ini tidak mengira jika hampir sepanjang hayatnya menjadi berbalut keprihatinan.

Sebagai permaisuri, Kunti wajib melahirkan generasi penerus raja. Tapi, prosesnya tidak mulus sehingga mesti memohon bantuan dewa. Maka, lahirlah tiga putra ‘saham’ dewa, yaitu Puntadewa, Bratasena, dan Arjuna.

Kunti bukan satu-satunya istri Pandu. Sang suami masih membagi cintanya kepada Madrim dari Mandaraka. Prita memang legawa dimadu, tapi dari lubuk hati paling dalam tiada seorang perempuan pun yang nyaman dibanding-bandingkan.

Di tengah kebahagiaan memiliki momongan, Kunti ditinggal suami selamanya. Pandu mangkat tidak lama setelah anak kembarnya dari rahim Madrim lahir. Goncangan hatinya makin menjadi ketika Madrim menyusul suami ke alam baka.

Sejak saat itu Kunti menjadi orangtua tunggal (single parent). Selain sendirian membesarkan ketiga anak kandung, juga masih harus menyusui anak kembar laki-laki, Tangsen dan Pinten, putra wanita madunya.

Di kala hati Kunti lerem (tenang) setelah menyadari bahwa apa yang terjadi adalah kodrat, cobaan datang lagi. Takhta Astina, hak anaknya, dirampas Kurawa, putra-putri kakak iparnya, Drestarastra-Gendari, yang diotaki Sengkuni.

Tidak sampai di situ, Pandawa terus menjadi bulan-bulanan Kurawa yang bengis sejak dibimbing Sengkuni. Mulai dari lakon Pendadaran Siswa Sokalima hingga peristiwa Balesigalagala yang menjadikan Pandawa terusir dari istana Astina.

Kunti terus mendampingi anak-anaknya yang memikul berbagai ujian. Hatinya teriris-iris tetapi tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan putra-putranya. Kelima putranya dibesarkan hatinya untuk tetap tabah menjalani kepahitan hidup.

Kerasukan Jin Kalika

Waktu terus berjalan. Pandawa membangun rumah sendiri di Hutan Wanamarta yang kemudian berkembang menjadi istana megah. Bahkan, berubah menjadi negara makmur yang disebut Amarta alias Indraprastha.

Walaupun sudah memiliki negara sendiri, Pandawa tetap diincar nyawanya oleh Kurawa demi mengamankan kekuasaaan Duryudana atas Astina hingga tujuh keturunan. Pada suatu ketika dikirimlah dua raksasa bayaran, Kalanjaya dan Kalantaka, dengan misi menyantap Pandawa.

Peristiwa ini membuat Kunti lagi-lagi sedih. Sekuat apapun hati seorang ibu, pasti tetap murung ketika melihat derita anak-anaknya yang tiada habis-habisnya. Kunti seperti kehilangan kendali diri sehingga keluar istana dan pergi tanpa tujuan.

Dalam kegalauannya, Bathari Durga mendadak datang menghampiri. Penguasa Kahyangan Setragandamayit, kerajaan makhluk halus, itu bersedia membantu Kunti dengan syarat menyerahkan Pinten alias Sadewa.

Kunti menolak tawaran tersebut. Tapi tiba-tiba kondisinya makin parah akibat kemurungan akut. Kesadarannya menjadi terganggu alias linglung. Pada saat itulah, jin Kalika, utusan Durga, marasuki raganya.

Dalam kendali Kalika, Kunti kembali ke istana Amarta. Pandawa lega saat ibunda yang hilang kembali pulang. Tapi mereka tidak mengerti ketika Kunti segera berlalu lagi dengan menggandeng Sadewa tanpa penjelasan.

Ibu dan sang anak itu berjalan jauh hingga sampai di Hutan Dandangmangore. Di sana Kunti menyerahkan Sadewa kepada Durga yang telah menunggu. Bungsu Pandawa itu kemudian diminta meruwat Durga.

Sadewa bingung karena sadar tidak memiliki kemampuan tersebut. Tiba-tiba datang sinar dari langit masuk ke raganya. Mendadak Sadewa berubah bercahaya berwajah Bhatara Manikmaya, raja Kahyangan Jonggring Saloka.

Kemudian Sadewa meruwat Durga yang semula berwajah raksasa berubah menjadi cantik jelita seperti sediakala dengan nama Bathari Uma. Uma adalah istri Bathara Guru yang terkena kutukan pascadrama persetubuhan terlarang di atas lautan.

Setelah ruwatan, Guru mengejawantah dan memberi gelar Sudamala kepada Sadewa. Sudamala dari kata suda yang berarti mengurangi atau menghilangkan, dan mala yang artinya penyakit. Maknanya, sang pembersih dosa dan kesalahan.

Sejenak setelah Guru dan Uma kembali ke kahyangan, Sadewa mencari Kunti dan membebaskan dari belenggu jin Kalika. Kalanjaya dan Kalantaka pun diperangi hingga badhar (ke ujud asli) menjadi Bathara Citraganda dan Bathara Citrasena.

Keblondrok

Bila melihat situasi sosial kini, rasanya banyak yang kena ‘kutukan’. Ada saja yang seenaknya sendiri mengata-ngatai, menghujat atau memfitnah orang lain, bahkan kepada sang pemimpin sekalipun. Mereka selayaknya diruwat oleh ‘sudamala’.

Berkaca kisah Kunti, pernyataan Cak Nun yang menyebut dirinya kesambet mengundang tanya. Benarkah saat itu ia sedang tidak eling sehingga makhluk halus manjing (masuk) dalam raganya? Kenyataannya ketika itu Cak Nun sedang berkonsentrasi penuh berceramah di depan jemaah.

Menurut ‘ilmu titen’, sekuat apapun manusia mengendalikan lidahnya, bila dalam hati dan pikirannya mengendap sesuatu, maka pada suatu saat dalam bawah sadar, itulah yang keluar dari mulutnya. Itulah yang disebut keblondrok (kelepasan).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top