JATENG.NASDEM.ID – Bakal Calon Legislatif DPR RI Dapil 6 (Kabupaten Mahgelang, Kota Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo) dari Partai NasDem, Adriansyah Halim memberikan bantuan berupa paket sembako kepada Yayasan Dzikrul Ghofilin yang berada di Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah pada Rabu (16/11).
Kegiatan yang dilakukan bersama Komunitas Sedulur Adriansyah Halim dan Aliansi Anies Indonesia tersebut dilakukan sebagai bentuk bakti sosial untuk memeriahkan hari ulang tahun Partai Nasdem yang ke-11.
Dalam kesempatan tersebut diserahkan berupa bantuan paket sembako sebagai bentuk perhatian dan semangat gotong royong dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa.
Adriansyah Halim mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Yayasan Dzikrul Ghofilin sebagai bentuk apresiasi terhadap pengasuh yang dengan kesukarelaannya telah bersedia menampung, mengajari dan mengobati orang dengan gangguan jiwa.
“Ini luar biasa sekali, bahkan jarang dijumpai sosok seperti Ibu Utiyah ini yang mendedikasikan hidupnya untuk menampung orang dengan gangguan jiwa yang tidak sedikit orang justru menjauhinya” Jelas Adriansyah disela sela tinjauannya.
Pria yang akrab disapa kaka Adrian tersebut juga menyempatkan untuk meninjau langsung kondisi pesantren dan berkomunikasi langsung dengan orang dengan gangguan jiwa.
“Kalau melihat di dalam kondisinya sudah memprihatinkan dan sudah saatnya pemerintah hadir untuk menyediakan fasilitas yang memadai, apalagi ibu Utiyah ini mengasuh ratusan orang dengan gangguan jiwa,” imbuhnya.
Pihaknya juga meminta kepada seluruh element masyarakat dan pemerintah untuk jangan membiarkan pengasuh Ponpes Dzikrul Ghofilin menanggung beban seorang diri. “Satu kata, jangan biarkan bu Utiyah jalan sendirian, kehadiran berbagai pihak tentunya sangat dinantikan beliau,” tutupnya.
Sementara itu, Pengasuh Yayasan Ponpes Dzikrul Ghofilin, Utiyah merasa sangat senang mendapat kunjungan dari para tokoh politik yang ada. Saat ini pihaknya mengasuh 130 santri baik putra maupun putri dengan gangguan jiwa.
“Sangat senang sekali mas adanya kunjungan kunjungan seperti ini karena sebenarnya saya sendiri juga bingung mau ngomong sama siapa, karena saya orang bodoh, bisa dibilang sampah masyarakat jadi harapan kami kita bisa diperhatikan, kami ini kan sampah masyarakat tolonglah biar bisa menjadi mutiara mutiara di tengah masyarakat,” terangnya.
Bukan tanpa alasan, awal mula mendirikan pesantren tersebut diawali karena Utiyah sendiri pernah menderita gangguan jiwa, setelah mampu mengendalikan diri sebagai bentuk rasa syukur ia mendirikannya.
Meski santri dengan gangguan jiwa terus keluar masuk, namun Utiyah mengakui masih banyak kekurangan di pesantren tersebut, seperti halnya ketersediaan klinik kesehatan, tempat rehabilitasi dan juga ketersediaan bahan pangan yang masih kurang dari nilai gizi.
“Kayak tadi yang kita lihat itu kan kondisinya memprihatinkan kayak mau roboh, saya pengen punya gedung yang layak untuk disinggahi sehingga mereka bisa merasakan hak hidup seperti orang normal biasa,” imbuhnya.


