18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Salah Kamar

Ditulis oleh: Ono Sarwono (Kader NasDem)

BELUM lama ini ada sebuah artikel menggelitik beredar di ruang publik. Benang merahnya, Anies Rasyid Baswedan, disebut salah kamar, berada dalam (didukung) kelompok intoleran, kala memperebutkan jabatan Gubernur DKI Jaya.

Lalu, langkah Partai NasDem mengusung Anies sebagai capres pada Pilpres 2024 yang dideklarasikan belum lama ini sekaligus diasumsikan menarik Anies keluar dari kamar yang salah tersebut. Dengan kata lain, NasDem mengembalikan Anies ke jati dirinya sebagai tokoh toleran dan nasionalis.

Dalam cerita wayang, tokoh yang berada di kamar salah ialah Karna Basusena karena bergabung dengan Kurawa. Hanya saja atau bedanya, Karna emoh ketika dibujuk Sri Bathara Kresna agar keluar dari kelompok zalim tersebut hingga akhirnya tamat riwayatnya dalam Bharatayuda.

Berguru Ramaparasu

Karna meniti hidup lewat gemblengan dan perjuangan. Bukan hanya sebagai anak terbuang, ingin belajar pun tidak ada ruang. Tapi semua itu tidak membuatnya kehilangan elan menggeladi diri hingga menjadi kesatria yang disegani.

Kelahiran Karna ke dunia tidak dikehendaki keluarga. Eyangnya, Raja Mandura Prabu Kuntiboja, menganggapnya anak haram karena tidak jelas siapa ayahnya. Orok yang lahir dari rahim Kunti alias Prita itu lalu dilarung ke Sungai Gangga.

Menurut guru spiritual istana Mandura, Resi Druwasa, Kunti mengandung akibat kesembronoannya merapal aji kuntawekasing rasa yang membuat Bathara Surya merasa dipermainkan. Dewa tersebut kemudian menghukum dengan menanamkan ‘benih’ dalam perut Kunti.

Jabang bayi yang diberi nama Karna itu akhirnya ditemukan sepasang suami-istri, Adirata dan Nada, yang ketika itu sedang menjalani laku prihatin di pinggir sungai. Keduanya memohon kepada Sang Maha Pencipta agar diberikan anak.

Adirata yang tinggal di Kadipaten Petapralaya dikenal sebagai pembuat kereta sekaligus sais istana Astina. Ia biasa mengusiri kereta yang ditumpangi pangeran Drestarastra, putra sulung Raja Astina Prabu Kresnadwipayana alias Abiyasa.

Ketika menemukan Karna yang tergolek dalam kendaga, Adirata mendapati sang bayi mengenakan anting surya kundala serta baju perang suryakawaca pemberian Bathara Surya. Oleh karena itu, Adirata lalu memberikan nama anak angkatnya Basusena yang maknanya sang senapati.

Hari terus berganti, Karna tumbuh menjadi anak pandai nan tampan. Cita-citanya ingin menjadi kesatria. Untuk mewujudkan impiannya, Karna bermaksud ikut belajar kepada Durna, guru Kurawa dan Pandawa, para cucu Abiyasa.

Namun, harapannya kandas. Durna menolak karena menganggap status Karna sebagai sudra. Lebih dari itu, kontraknya sang dwija (guru) hanya memintarkan Kurawa dan Pandawa. Tentu saja Karna kecewa tapi hasratnya menjadi kesatria tetap membara.

Ditinggalkanlah Petapralaya untuk mencari ilmu. Karna kemudian diketahui nyantrik (menjadi siswa) Resi Ramaparasu di Pertapaan Sambiharja. Di sinilah karakternya terbentuk. Pun mahir menggunakan senjata, terutama menjemparing.

Saingi Permadi

Setelah katam menimba ilmu, Karna pamit kepada sang guru dan pulang menengok orangtua. Di tengah perjalanan ia mendengar kabar ada ujian praktek memainkan senjata bagi murid-murid Durna. Karna menunda kepulangannya dan berbaur dengan ribuan warga yang berbondong-bondong menonton.

Sorak-sorai membahana ketika Permadi, penengah Pandawa, selalu memanah tepat pada sasaran. Tidak ada target yang meleset dari bidikannya. Melihat itu, gereget Karna muncul ingin menyaingi Permadi yang dielukan-elukan publik.

Pada babak terakhir, Durna memasang target kecil berbentuk burung emprit di atas dahan pohon tinggi. Ketika Permadi sedang membidik, target mendadak hancur berkeping-keping tersambar anak panah yang tidak diketahui dari mana asalnya.

Kejadian itu terus terulang sehingga membuat Permadi naik pitam. Ia bergegas mencari gerangan yang mempermalukannya. Tidak sulit menemukannya karena Karna menghampiri dan mengaku dirinya yang memanah.

Pertemuan keduanya membuat banyak orang terganga karena ketampanannya nyaris sama. Seperti tidak memedulikan sekelilingnya, keduanya lalu bertengkar hingga berujung perkelahian. Durna lalu buru-buru melerainya.

Diam-diam Duryudana, sulung Kurawa, mengagumi kepiawaian Karna memanah. Setelah minta pertimbangan sang paman, Sengkuni, Karna dibujuk bergabung dengan Kurawa. Lelaki yang memikat hatinya itu menyatakan bersedia.

Demi memantapkan persahabatannya, ketika Duryudana menjadi raja Astina, Karna diberi kekuasaan Kadipaten Awangga. Putra sulung Kunti itu juga diangkat menjadi panglima perang dan sejak itu menjadi benteng rezim Kurawa .

Menjelang Bharatayuda, Sri Bathara Kresna (botoh Pandawa) menemui Karna dan membujuknya agar berpihak kepada Pandawa. Menurut titisan Bathara Wisnu itu, membela Kurawa keliru. Alasannya, Karna dan Pandawa saudara kandung, sama-sama anak Kunti.

Karna menolak karena sudah bersumpah membela rezim Kurawa sampai kapan pun. Ia sadar Kurawa bakal kalah dalam Bharatayuda dan dirinya menjadi korban. Namun, itu risiko yang mesti ditanggung karena tidak ingin dicap mencla-mencle.

Tamat riwayatnya

Pada akhirnya, Karna bertarung melawan adiknya sendiri lain ayah, Arjuna alias Permadi, di Kurusetra. Karna akhirnya gugur dalam peperangan yang disaksikan para dewa. Barangkali, ceritanya menjadi lain bila Karna menuruti ajakan Kresna.

Demikian kisah dramatis Karna. Kesatria yang salah kamar karena bergabung dengan kelompok jahat dan haus kekuasaan. Kekeliruan menempatkan ego yang akhirnya mengakibatkan karier politiknya hancur, bahkan tamat riwayatnya.

Hikmahnya, orang baik harus berada di tempat semestinya. Bukan hidup di tempat yang salah. Pun jangan dibiarkan terlena berada di area abu-abu sehingga bias. Kesatria harus ditempatkan sesuai dengan khittah (jati diri)-nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top