JATENG.NASDEM.ID – World Down Syndrome Day atau Hari Down Sindrom dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada Desember 2011 lalu. Kampanye Hari Down Sindrom Sedunia dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik tentang Down syndrome.
Tahun ini, peringatan Hari Down Syndrome sedunia yang ke-11 mengangkat tema kampanye berupa makna inklusifitas yaitu “What does inclusion mean?”.
Hal ini memungkinkan masyarakat mengisi pendapat masing-masing terhadap makna inklusifitas.
Pemerhati penyandang disabilitas yang salah satunya merupakan down symdrome, Kak Faiz Alauddien Reza Mardhika, memberikan perhatian khusus pada peringatan Hari Down Syndrome sedunia ini. Menurutnya, peringatan ini harus menjadi momen penghapusan diskriminasi yang selama ini rentan dialami oleh penyandang down syndrome.
“Pastinya, saya berharap hari ini bisa dimaknai kita bersama, dijadikan momentum untuk memberikan ruang gerak yang lebih leluasa pada adik-adik kita yang mengalami down syndrome dengan mematahkan stigma yang melekat pada anak-anak,” katanya.
Menurutnya sebagai bagian dari masyarakat, para penyandang disabilitas ini harus diperlakukan setara. Sedangkan masyarakat yang lainnya juga perlu untuk memenuhi hak penyandang down syndrome ini untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.
Dalam kesempatan ini, founder Ascendia Project yang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas ini juga memberikan apresiasi pada orang tua dari penyandang disabilitas.
“Mereka adalah orang tua terhebat. Membesarkan anak-anak istimewa ini adalah sebuah perjuangan bersama. Saya sangat mengapresiasi hal ini,” tegas Ketua DPD NasDem Kabupaten Kebumen ini.
Sementara itu, ia memaknai inklusifitas yang menjadi tema dari hari down syndrome tahun ini sebagai sebuah lingkungan di mana semua orang menjadi bagian sehingga semua orang dapat tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka.
Sebagai Negara yang menerapkan prinsip inklusifitas, Kak Reza tak memungkiri berbagai tantangan yang dihadapi. Termasuk perlunya upaya upaya penyadaran yang perlu dilakukan.
“Saya melihat beberapa tahun ini inklusifitas sudah mulai dibangun di sendi-sendi masyarakat. Saya sangat apresiasi,” tegasnya.
Namun begitu, inklusifitas ini merupakan pekerjaan rumah yang harus terus dikejar agar tak hanya menjadi tagline dan benar-benar dihayati dalam masyarakat. Perlu nilai toleransi, menghormati satu sama lain dari seluruh lapisan masyarakat termasuk merangkul kaum marginal.
“Seperti jargon SDG’s sat inI yaitu no one left behind, jadi jangan sampai ada satu orang pun tertinggal. Pastinya momentum ini diharapkan dapat dimaknai bersama agar para penyandang down synrom dapat menjadi bagian dari masyarakat yang utuh, memiliki kepercayaan diri yang cukup dengan cara masyarakat memberi support dan menciptakan lingkungan yang menyenangkan, kolektif, dan inklusif,” pungkasnya.

