JATENG.NASDEM.ID – Sekolah yang berada di daerah dengan status PPKM Level 1 dan 2 mulai menerapkan pendidikan tatap muka pada Senin (3/1) ini. Pelaksanaan PTM terbatas 100 persen hari ini tentu disambut baik oleh para orang tua/wali murid dan anak didik.
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan DPW NasDem Jawa Tengah Kak Linda Maharani mengatakan sebagai orang tua dan politikus NasDem, ia menyambut baik pelaksanaan PTM terbatas 100 persen ini.
Menurutnya, hal ini menjadi kesempatan bagi para murid dan pelaku pendidikan untuk mengejar ketertinggalan semasa pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan hampir dua tahun ini.
“Dulu PJJ bersama ortu sangat terbatas saat di rumah, karena orang tua tak berbasis sebagai pendidik. Dengan adanya PTM ini saya berharap meski jammya berkurang, saya berharap kualitas pendidikan anak ini kembali meningkat karena anak didik kembali dipegang gurunya,” ujar Kak Linda Senin siang.
Pelaksanaan PTM Terbatas 100 persen ini, kata Kak Linda, diharapkan membuat kualitas pendidikan di Indonesia makin meningkat. Namun, yang harus diperhatikan adalah proses belajar anak di sekolah ini harus didampingi secara ketat oleh para tenaga pendidik.
“Anak didik tetap harus didampingi secara ketat, tolong para pendidik, bu guru dan pak guru, anak-anak harus terus diingatkan agar penggunaan masker diperketat, membatasi konsumsi makanan di tempat umum, menjamin ketersediaan masker, dan sarana cuci tangan dnegan sabun atau handsanitizer” ia mengingatkan.
Jangan Bebani Anak dengan Tugas Menumpuk
Di masa pelaksanaan PTM terbatas ini, Kak Linda juga mengingatkan pentingnya membatasi tugas atau pekerjaan rumah untuk anak. PTM harus menjadi solusi, bukan malah menjadi masalah baru dengan bertambahnya tugas bagi anak.
“Saya berharap PTM ini adalah jalan agar anak-anak kita yang kemarin banyak berkurang jam belajar, kini mendapatkan pendampingan dari guru,” ujarnya.
Anak didik harus diberikan kesempatan untuk mendapatkan waktu yang cukup untuk beristirahat demi meningkatkan imunitas. Pelaksanaan jam pelajaran yang terlalu panjang juga harus menjadi perhatian atas risiko terjadinya penularan Covid-19.
Di samping itu, meski pihak sekolah sudah menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung pelaksanaan protokol kesehatan, sekolah juga harus memberikan kebebasan bagi orang tua yang tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti PTM.
“Jika ortu keberatan maka harus kita berikan hak untuk belajar di rumah. Orang tua harus diberi kesempatan. Proteksi ortu dan lingkungan ini juga bisa jadi akibat trauma terhadap pandemi,” ia menjelaskan.
Kak Linda menekankan bahwa yang terpenting dalam menjamin kesuksesan PTM ini adalah pengawasan pelaksanaan prokes pendidik dan anak didik. Dengan demikian, tetap terjaga dari penularan Covid-19 serta mendorong pelaksanaan vaksinasi.

