JATENG.NASDEM.ID – Perempun Indonesia di masa ke masa memiliki tantangan tersendiri. Namun, masalah kekerasan dan diskriminasi masih menjadi problem klasik yang terus membayangi perempuan baik di ruang publik maupun domestik.
Perempuan masa kini memang lebih terbuka saat ingin berkarier di ruang publik. Namun, mereka memiliki berbagai tantangan yang harus dilewati sehingga membuat perempuan selalu tersubordinasika.
Sejak lama perempuan dianggap sebagai orang kedua karena konstruksi sosial yang bersumber dari pemahaman sempit akan budaya dan agama.
Ketua Umum Garnita Malahayati Partai NasDem Kak Indira Chunda Thita menyebutkan bahwa Kehidupan sosial menularkan predikat ‘orang kedua’ yang tertanam kuat sepanjang sejarah manusia.
“Dibutuhkan sebuah keberanian untuk mendobrak konstruksi berpikir dikotomis. Yang selalu melihat perempuan sebagai pendamping, yang terus menempatkan perempuan sebagai obyek, bahkan industri melanggengkan tubuh perempuan sebagai komoditas,” ujar Kak Thita dalam pernyataan tertulisnya, Senin (27/12).
Pola pikir yang mengakar dan menjadi budaya masyarakat Indonesia ini menjadikan perempuan terus terkungkung dalam praktik patriarki. Konstruk sosial yang dibentuk oleh masyarakat ini sering kali dianggap sebagai kebernaran tunggal sehingga peran perempuan sebagai orang kedua terus langgeng.
Untuk itu, perlu penyadaran sosial serta keberanian perempuan untuk mendobrak dogma yang selama ini dipercaya oleh masyarakat. bahwa perempuan dapat sejajar dengan laki-laki dalam hal peran.
“Siklus primordial yang sering mengesampingkan diri dan perempuan perlu diputus mulai dari perempuan. Caranya? Percaya pada kompetensi diri, terlibat dalam dinamika sosial dan politik untuk memberi kebaruan paradigma berpikir dan bekerja,” tambah perempuan politikus ini.
Terlibat dalam politik adalah hal yang niscaya bagi perempuan agar dapat memperjuangkan kaumnya. Terlibat dalam pembangunan menjadikan perempuan memiliki peluang untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro perempuan.
Garnita membuka pintu seluas-luasnya bagi para perempuan untuk mengembangkan diri bahkan untuk saling berdaya dalam hal politik. Untuk itu, perlu saling dukung antarperempuan agar kesetaraan dapat terwujud.


