JATENG.NASDEM.ID – NasDem lewat Komisi VII DPR RI di bawah Ketua Komisi Kak Sugeng Suparwoto terus mendorong transmisi energi fosil ke energi baru terbarukan. Komisi VII DPR RI kini tengah menyoroti penggunaan energi fosil yang menghasilkan berbagai dampak negatif.
“Kita sedang memasuki transisi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Mengingat energi fosil terbatas, tapi juga polutif. Kita semua concern dan peduli pada climate change di mana kita sudah rasakan implikasinya,” kata Kak Sugeng Suparwoto dalam pernyataannya, dikutip Minggu (4/12).
Emisi karbon yang menjadi sebab perubahan iklim ini disebakan oleh energi fosil berupa minyak, gas, dan batubara. Selain menimbulkan dampak negatif, Kak Sugeng mengungkapkan bahwa energi fosil di indonesia makin terbatas.
“Minyak yang proven one (P1) hanya 2,5 miliar barel saja. Jika konsumsi tak kita kendalikan maka akan terus naik. Hari ini konsumsi BBM tiap harinya 1,4 juta barel, padahal lifting (produksi) minyak kita hanya 700 ribu barel. Defisitnya 700 ribu barel. Untuk itu impor BBM kita tiap harinya mencapai 700 ribu barel baik berupa produk BBM maupun berupa minyak mentah,” Ketua Pemenangan NasDem Jawa III ini membeberkan data.
Sementara itu, di bidang gas yang juga menjadi lahan garapan dari Komisi VII Kak Sugeng membeberkan bahwa produksi gas di Tanah Air terbilang lumayan. Indonesia menurutnya memiliki sumber daya gas dan produksi yang lumayan.
“Di gas kita agak lumayan, 40 persen kita ekspor, 60 persen kita manfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatan gas juga harus membangun infrastruktur gas berupa jaringan gas berupa pipa transmisi maupun jaringan untuk industri maupun rumah tangga,” katanya.
Namun begitu, selain memperhatikan penggunaannya, pemerintah perlu membangun storage gas alam yang ketersesiaannya terbilang melimpah ini.
NasDem, menurut Kak Sugeng, terus mendorong penggunaan gas yang minim emisi. Untuk itu penting untuk segera membahas dan mengesahkan RUU EBT sebagai jawaban terhadap penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
“Ini sangat tidak mudah karena kita dikepung kepentingan fosil dan migas batu bara. Jika kita sudah masuk ke EBT, apakah kita menghapuskan energi fosil? Tidak, yang kita tekan adalah emisinya!” ia memastikan.

