JATENG.NASDEM.ID – Melihat kemeriahan dan antusiasme para pengurus NasDem se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta pada Rakorwil akhir November lalu, menumbuhkan optimisme yang harus diwujudkan melalui kerja nyata para pengurus.
Rakorwil sebagai ajang evaluasi dan konsolidasi ini diharapkan dapat memantapkan langkah para pengurus NasDem di Jateng dan DIY. Meskipun pada kenyataanya, berjuang di Jateng dan DIY bukanlah hal yang mudah.
Fakta tersebut dikatakan Mahkamah Tinggi Partai NasDem Kak Saur Hutabarat. “Berjuang di Jateng dan DIY ini tak mudah, kita harus menerima kenyataan itu untuk tidak menganggap enteng. Ini kawasan yang berat secara politik,” ujar Kak Saur, dikutip Minggu (4/12).
Berdasar survei, 50 persen pemilih menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan keluarga. Selain itu, pilihan juga ditentukan secara turun-temurun. Sebagai partai yang masih ‘belia’, NasDem tentu mustahil untuk mencapai pemilih karena faktor turun temurun.
“Untuk turun-temurun tidak mungkin kita capai dalam 10 tahun,” Kak Saur menegaskan.
Untuk itu, jurnalis senior ini berpesan kepada para pengurus dan kader agar mereka tak berhenti memperjuangkan partai. “Perjuangan kita untuk memperjuangkan partai ini harus terus, tak boleh berhenti. Maka saya bilang, mau nggak kamu pakai identitas NasDem saat di tempat umum?” ia memberi tantangan.
Memakai atribut NasDem di tempat umum, selain sebagai wujud kecintaan pada partai, juga merupakan suatu bentuk memperkenalkan Partai NasDem pada masyarakat. Maka tak heran, dalam tiap kesempatan, lelaki yang akrab disapa opung ini tak segan untuk terus memperkenalkan NasDem pada masyarakat.
Selain mencintai partai secara sepenuhnya, perlu bagi para pengurus dan kader untuk meningkatkan sense of belonging (rasa memiliki). Hal ini akan memunculkan inisiatif untuk terus memperjuangkan partai ini.
“Kamu tak bisa mengusung presiden, jika partai tak bisa dipercaya, bagaimana kita bisa membangun bangsa untuk menjadi lebih baik dan Negara yang lebih baik?” kata Kak Saur menutup perbincangan dengan sebuah pertanyaan sebagai bahan refleksi.

