JATENG.NASDEM.ID – Sudah sebelas tahun Kak Muhammad Sayid berada di keluarga besar Partai NasDem Kabupaten Temanggung. Hal itu menjadikannya paham betul konstelasi politik yang ada di wilayah penghasil tembakau ini.
Perjalanan panjang sudah dilaluinya demi membesarkan partai. Menjadi Ketua DPD sejak awal Partai NasDem ini berdiri, sosok Kak Muhammad Sayid seolah seperti kamus hidup bagi banyak lintas generasi yang bergabung di NasDem Temanggung.
Gairah politik mengalir di tubuhnya sejak muda. Ia mulai mengenal dunia politik sejak SMA, kala itu ia menjabat sebagai Koordinator Desa PDI, di saat tidak banyak orang berani bergabung dengan partai selain Golkar di era Orde Baru.
Kepiwaian politik tampak melekat pada diri lelaki berumur 55 tahun ini, sehingga karier politiknya pun sempat moncer hingga menduduki Sekretaris PDIP pada tahun 1998-2010. Periode 1999-2004, Kak Sayid pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Temanggung dan menjabat Ketua Komisi A dan sekaligus Ketua Fraksi PDIP.
Perjalanan karier politiknya berubah saat Partai NasDem berdiri. Dia memutuskan untuk bergabung meski dalam keterbatasan, baik SMD maupun modal untuk menjalankan kegiatan partai. Kak Sayid menyadari bahwa tidak mudah untuk menjalankan partai baru yang belum dikenal.
“Suasana saat itu partai politik berada di titik terendah. Masyarakat banyak yang tidak percaya dengan partai dan terkesan jijik dengan politisi karena banyaknya kasus yang menjerat para politikus,” ujar Kak Sayid, saat berbincang dengan jateng.nasdem.id.
Alumnus jurusan Hubungan Inernasional, Fisipol UGM, itu bagai tak mengenal kata menyerah, perjuangannya terus berlanjut. Dengan merekrut teman-temannya yang dulu pernah aktif di partai, struktur kepengurusan DPD mulai dibentuk. Setiap hari Kak Sayid bersama pengurus terus terjun ke masyarakat untuk memperkenalkan partai ini.
“Kita sampaikan kepada masyarakat bahwa Partai NasDem berbeda dengan partai lainnya. Visi utama partai yang mengusung jargon Restorasi Indonesia terus kita sampaikan. Sulit memang pada awalnya, tapi kami terus bergerak,” ujar kak Sayid menekankan.
Perjuangannya membuahkan hasil. Pemilu pertama yang diikuti NasDem pada 2014 berhasil mendudukkan 4 orang kader menjadi anggota DPRD Kabupaten Temanggung. Ini capaian gemilang mengingat NasDem adalah pendatang baru.
Kak Sayid juga berhasil masuk kembali duduk di kursi DPRD Kabupaten Temanggung periode 2014-2019 lewat Partai NasDem. Berbagai program dikucurkan untuk masyarakat. Namun Pemilu 2019, Kak Sayid gagal dalam kontestasi pileg. Menurutnya, faktor pragmatisme dalam politik kini sangat terasa, baik dari aktor politik maupun masyarakatnya.
Ia mengkhawatirkan faktor transaksional itu akan menghancurkan tatanan demokrasi. “Jabatan publik seharusnya diisi oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas bagus jika ingin membangun demokrasi yang bagus. Tetapi realita yang ada, banyak orang yang sebetulnya tidak layak untuk menjadi wakil rakyat akhirnya bisa duduk sebagai anggota dewan karena kekuatan finansial. Ini mengerikan sekali,” tandas Kak Sayid dengan nada serius.
Ia menilai faktor transaksional itu nantinya membuat anggota dewan tidak memiliki kepedulian. Terlebih lagi, katanya, para petualang politik itu merasa sudah membeli tunai kepada masyarakat yang mendukungnya. Untuk itu Kak Sayid mengharapkan kader-kader Partai NasDem yang akan maju dalam kontestasi Pileg 2024 bisa memiliki integritas yang tinggi sehingga akan membawa kehormatan diri maupun partai.
“Keprihatinan yang selalu membayangi saya adalah haruskah urusan penyelenggaraan negara dengan pemerintahan terus-menerus diserahkan kepada para politisi yang tidak cakap dan tidak bertanggung jawab?” ia mempertanyakan.
“Untuk menjawab pertanyaan inilah yang memotivasi saya tidak pernah lelah untuk terus berjuang di jalur politik untuk membangun demokrasi yang adil dan bermartabat supaya rakyat bisa segera merasakan manfaat yang optimal dari keberadaan organisasi besar yang bernama state (negara),” ujarnya.
Di momentum satu dekade perjalanan Partai NasDem ini, Kak Sayid berharap NasDem makin bisa tampil dengan karakter dan performa politik kepartaian yg berbeda dengan partai-partai lain dalam manifestasi platform Restorasi Indonesia dan politik tanpa mahar. (NJ25)

