JATENG.NASDEM.ID – Anggota DPRD Kabupaten Banyumas Kak Djadjat Sudradjat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum yang digelar untuk mahasiswa FISIP Universitas Jenderal Sudirman (Unsoed), pada Senin lalu.
Sebagai mantan jurnalis, Kak Djadjat biasanya memberikan materi terkait jurnalistik. Namun kali ini, ia diminta untuk membagikan pengalaman politiknya di Partai NasDem. Menurut Andi, moderator kegiatan, ada beberapa pertimbangan kenapa NasDem dipilih. “Salah satunya karena partai ini dinilai fenomenal,” kata Andi, Rabu (27/10).
NasDem sebagai partai termuda tapi kenaikkan kursi DPR RI pada Pemilu 2019 paling banyak, yakni 24 orang dari 35 kursi hasil Pemilu 2014 menjadi 59 kursi pada Pemilu 2019. Capaian itu juga linier di Dapil 8 meliputi Banyumas dan Cilacap.
Hal itu ditegaskan Kak Djadjat. “Saya diminta berbicara tentang ‘Pengelolaan Kelembagaan dan Daya Saing Partai NasDem’, khususnya di Banyumas dan Cilacap. NasDem di wilayah ini pada Pemilu 2014 dinilai sebagai ‘Partai Yatim Piatu’, karena sama sekali tak menarik perhatian. Sebab hanya punya satu kursi DPRD di Kabupaten Banyumas,” kata Kak Djadjat kepada para peserta.
Namun begitu, Sekretaris DPD NasDem Banyumas ini menjelaskan bahwa NasDem memiliki tren positif pada pemilu 2019 lalu. Ia menjelaskan bahwa NasDem mampu menambah dua kursi dewan. Bahkan di Cilacap yang tadinya nol kursi, sekarang memiliki empat kursi.
Di dapil ini pula yang dulu tak punya anggota DPR RI dan DPRD Provinsi Jawa Tengah, kini masing-masing mempunyai satu kursi. Bahkan, Kak Sugeng Suparwoto mendapat posisi penting sebagai Ketua Komisi VII DPR RI.
“Saya lebih banyak bercerita dan ditanya tentang pengalaman. Pergulatan politik lokal untuk bisa meraih kursi. Ada satu kunci sederhana dan tradisional, yaitu bertemu dan menyapa dengan sebanyak mungkin orang. Intinya silaturahmi atau komunikasi. Butuh waktu tak sebentar tentu,” ia membeberkan strategi politik.
Di samping itu, Kak Djadjat menjelaskan bahwa pertarungan politik banyak dinilai perlu ongkos yang mahal. Namun, dengan modal sedikit ditambah dengan silaturahmi tanpa henti, sebenarnya bukan tak mungkin untuk meraih kursi.
Ia menerangkan bahwa dalam sistem pemilihan terbuka sekarang kekuatan utama pada figur caleg jika maju dalam kontestasi pemilu. Namun, tekad NasDem dengan politik gagasan, politik tanpa mahar, dan koalisi tanpa syarat justru berhasil mendapat tempat dan pengaruh di masyarakat.
“Saya mengajak mahasiswa mulai menimbang untuk menekuni politik praktis sejak dini. Terlebih mahasiswa ilmu politik mempunyai bekal pendidikan yang memadai. Jika para alumni Unsoed banyak yang terjun ke politik, ini bisa ikut memperkuat proses demokratisasi,” kata mantan jurnalis senior di Media Group itu.
Ia juga berharap bahwa kampus menjadi tempat untuk kembali mencari orang-orang terbaik, termasuk untuk kebutuhan politik.

