JATENG.NASDEM.ID – Majelis Permusyawaratan Rakyar (MPR) RI bekerjasama dengan Yayasan Gelora Serayu menggelar Sosialisasi Empat Pilar di Kabupaten Purbalingga pada Jumat (10/9) siang, Acara ini dihadiri oleh unsur pengurus DPD dan DPC NasDem Purbalingga dan berbagai unsur masyarakat.
Hadir sebagai pembicara yaitu Wakil Ketua MPR RI Kak Lestari Moerdijat, Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem Kak Amelia Anggraini, dan Anggota Departemen Kesehatan DPP Partai NasDem dr Faiz Alaudien Reza Mardhika.
Dalam penurutrannya, Kak Rerie, panggilan akrab kak Lestari, mengungkapkan data bahwa akibat pandemi Covid-19, angka pengangguran di Jawa Tengah per Februari 2021 naik 5,96 persen atau sebanyak 1,12 juta orang.
Purbalingga menjadi salah satu daerah yang terdampak, diketahui angka pengangguran naik 6,1 persen pada tahun 2020. Salah satu penyebebnya, 1.300 pekerja di Purbalingga mengalami PHK akibat pandemi.
Untuk itu, Kak Rerie mengajak pada masyarakat menyadari bahwa pandemi Covid ini bukan hanya berdampak pada kesehatan saja namun berbagai efek turunan yang dapat mengancam stabilitas Nasional.
Kak Rerie mengajak pada masyarakat untuk menjadikan pancasila dan UUD 1945 sebsgai jawaban untuk menghadapi pandemi. “Dalam kondisi seperti ini bagaimana kita menempatkan konsensus kebangsaan kita sebagai cara pandang, kita melihat Pancasila sebagai nilai-nilai yang luar biasa,” katanya kepada peserta.
Menurut survei, lanjut Kak Rerie, mayoritas masyarakat sudah memahami peran Pancasila untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa. “Mayoritas publik sudah memahami bahwa Pancasila dapat meyelamatkan kita. Gotong royong harus menjadi nilai yang harus kita perkokoh demi menghadapi pandemi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kak Amel dalam penuturannya menyajikan berbagai tantangan bangsa Indonesia yang kini tengah dihadapi seperti digitalisasi, globalisasi, dan juga masuknya berbagai ideologi asing. Untuk itu Kak Amel mengajak pada masyarakat untuk menjadikan Pancasila sebagai tameng untuk memperkuat jati diri bangsa.
“Mari kita menjalankan nilai-nilai Pancasila termasuk kebhinnekaan, toleransi, dan dalam aktivitas sehari-hari tanpa melihat ras dan suku. Dengan budaya gotong royong misalnya, budaya baik seperti ini salah satunya bisa membawa kita keluar dari pandemi seperti sekarang ini,” terangnya.
Kak Amel juga menyajikan berbagai tantangan bernegara yang berasal dari bangsa sendiri seperti priomordialisme dan isu SARA. “Revitalisasi nilai-nilai Pancasila. Tema tersebut sengaja diambil mengingat akhir-akhir ini kita sebagai bangsa yang bhinneka tunggal ika dalam Pancasila semakin mengalami degradasi dalam nilai nilai kehidupan berbangsa bernegara,” tambahnya.
Sosialisasi yang juga diikuti oleh para pemuda ini juga menghadirkan dr Reza, dokter muda yang juga menjadi representasi pemuda yang berkiprah di DPP Partai NasDem. Menurutnya, perlu adanya upaya untuk mengenal jati diri bangsa demi mendayagunakan seluruh potensi bangsa Indonesia dalam hubungannya untuk mencapai kepentingan Nasional.
Untuk itu, dr Reza, menekankan bahwa segala tantangan eksternal dalam berbangsa dan bernegara seperti globalisasi dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk membantu perkembangan sebuah negara.
“Namun hal ini dapat juga berdampak negatif jika masyarakat tidak memiliki wawasan kebangsaan yang cukup. Untuk itu, memperkuat wawasan kebangsaan adalah sebuah hal yang mutlak demi menumbuhkan rasa cinta tanah air pemuda Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi,” jelasnya.

