JATENG.NASDEM.ID – Sampah terutama plastik menjadi masalah kompleks di Indonesia. Selain belum adanya alternatif bungkus selain plastik yang murah dan ramah lingkungan, kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya juga belum menjadi budaya.
Banyaknya sampah plastik di aliran sungai hingga hutan bakau yang ada di Kabupaten Demak mengundang keprihatinan Sahabat Lestari. Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Sahabat Lestari Kabupaten Demak Ma’mun Charis.
Menurutnya permasalahan sampah plastik ini sudah begitu kompleks sehingga perlu kesadaran bersama untuk mengurainya. Namun, Sahabat Lestari tak berpangku tangan begitu saja, bergabung dengan aktivis peduli lingkungan dan Bank Sampah Lestari Alamku, mereka menyisir perairan di Demak.
“Rabu kemarin bersama dua komunitas tersebut kami melakukan aksi bersih sampah di muara sungai dan hutan mangrove yang terletak di Desa bedono, Kecamatan Sayung,” ujar kak Charis Kamis (5/8).
Kak Charis menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan demi menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu pihaknya juga berusaha menyadarkan masyarakat pesisir agar senantiasa peduli dengan lingkungan terutama memperhatikan cara pembuangan sampah.
Bukan tanpa alasan, ia berpesan pada warga pesisir bahwa sampah dapat mempengaruhi habitat ikan. “Lingkungan air yang bersih akan mengundang ikan untuk berdatangan dan bertahan hidup di sana sehingga lebih menguntungkan bagi nelayan. Ini otomatis bisa menambah ekonomi para nelayan,” katanya.
Bersama tiga pengurus Sahabat Lestari Demak lainnya, Kak Charis bergabung untuk memungut sampah yang kebanyakan berada di sekitar hutan bakau. Menurut pengamatannya, saat ini muara sungai di daerah tersebut sudah cukup bersih.
Namun begitu di wilayah hutan bakau, banyak sampah yang ditemukan akibat ombak yang datang. Sahabat Lestari, menurut Kak Charis rutin datang ke wilayah tersebut untuk melakukan bersih sampah sekaligus mendapingi komunitas bank Sampah Lestari Alamku.
Selain melakukan pendampingan, Sahabat Lestari Demak juga memberikan bantuan satu buah perahu kecil untuk mengangkut sampah. Warga sekitar mengakui bahwa berkat advokasi Sahabat Lestari, saat ini pendapatan masyarakat mulai meningkat.
“Saat ini mereka sudah bisa merasakan hasilnya. Sekarang ikannya sudah banyak jika dijaring dengan branjang karena airnya sudah bersih. Pendapatan orang yang ‘mbranjang’ bisa Rp 200-300 ribu per hari,” ia menjelaskan.
Bahkan pungutan sampah yang ditemukan dari bersih sampah tersebut juga bisa dipilah dan dijual kembali oleh komunitas Lestari Alamku. Meski disibukkan dengan kegiatan sosial akibat pandemi Covid-19, namun Kak Charis mengaku bahwa ia akan menyempatkan diri untuk terus mengadvokasi masalah sampah di daerah tersebut.
“Semoga agenda ini bisa menjadi contoh dan motivasi untuk warga pesisir lainnya sehingga sampah dari hulu hingga hilir bisa teratasi,” pungkasnya.

