18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Martin Heidegger dan Covid-19

Oleh : Much Taufiqillah Al Mufti
Sekretaris DPD NasDem Kota Semarang

PERIH, mendengar kabar duka bertubi-tubi dari saudara kita terpapar virus Covid-19. Sementara itu akibat penerapan protokol kesehatan dan PPKM darurat baru-baru ini membuat sumber ekonomi masyarakat tergerus. Pembatasan kegiatan sosial membuat masyarakat tidak bisa menjalankan roda ekonomi seperti sediakala.

Pencegahan virus yang membutuhkan modal besar, tetapi di satu sisi lumbung ekonomi bangsa kian terkikis. Sudah miliaran rupiah negara menggelontorkan dana untuk pencegahan dan keselamatan masyarakat, namun pandemi kian tak terbendung seiring mencuatnya varian baru. Pakar epidemiolog pun mengalkulasi bahwa pandemi bakalan berubah jadi endemi.

Angka kematian yang melejit dibanding tahun-tahun sebelumnya ini, menurut seorang kawan saya merupakan proses mengurangi jumlah manusia di bumi. Sungguh, saya tak pernah berpikir bahkan mau mengira segila itu. Kematian itu tetaplah duka yang harus dirayakan dengan menundukkan kepala dan menengadahkan tangan, memohon pada Sang Kuasa.

Seruan mengheningkan cipta pada 10 Juli 2021 dari Menteri Agama RI Gus Yaqut adalah momen layat nasional, memberikan doa kepada seluruh arwah dan berharap keselamatan atas masyarakat bangsa.

Menyoal kematian yang menjadi kabar sehari-hari, bahkan oleh seorang penyair Joko Pinurbo ia menyebut dalam puisinya, Juli 2021, hari-hariku terbuat dari innalillahi. Makna innalillahi dalam liris puisi itu menggambarkan perjalanan manusia yang dari tiada menuju tiada. Makna innalillahi yang sungguh dalam itu, sudah terlalu sering kita dengar, melalui TOA masjid, media sosial, dan dari lisan tetangga.

Namun, sungguh ironi bila ungkapan innalillahi berakhir sebatas ungkapan, bahkan sebatas stiker di WA-WA grup yang dangkal. Seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger pernah menyoal kematian. Bagi filsuf eksistensialis ini, kematian itu terbelah menjadi dua: off-liven dan sterben. Off-liven berarti mati dari kehidupan secara fisiologis, sementara sterben itu konsep-konsep tentang kematian.

Semua manusia pasti akan mengalami kematian, di saat tubuh kian menua, dan penyakit mulai berdatangan, atau tanpa pra-syarat itu kematian bisa tiba-tiba. Nah, itu yang dimaksud dengan pengertian off-liven, istilah Heidegger untuk menggambarkan manusia tak ada yang abadi, hidup selamanya. Kematian pasti akan menghampiri dengan sendirinya.

Di sisi lain, setiap manusia tahu bahwa mereka akan mati, sehingga mereka dalam laku kehidupannya merencanakan dan mempersiapkan bekal kematiannya kelak. Mereka berbuat kebaikan supaya kelak dikenang sebagai manusia berbudi luhur. Manusia yang ingin mati baik-baik atau yang merasa tak peduli dengan bagaimana nanti ia mati, adalah masuk dalam kategori sterben. Konsep tentang kematian.

Kabar kematian yang datang bertubi-tubi itu, bisa jadi membuat manusia tak perlu lagi mempersiapkan bagaimana kelak mereka mati. Sebab, kematian sungguh sangat dekat diri mereka – meski hubungan kedekatan kematian dengan manusia sudah pernah Imam Ghazali gambarkan. Bagaimana tidak begitu? Bayangkan, orang yang semula – kita anggap – sehat-sehat dan baik-baik saja bisa bisa meninggal.

Tetapi kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh jatuh pada pengertian off-liven. Kita harus memiliki semangat hidup, semangat juang, berujung dengan sterben, dan khusnul khotimah mengakhiri segalanya. Bahwa jumlah kematian di masa pandemi tak ubahnya saat masa koloni. Kita berperang melawan penjajah, meninggal dunia di medan perang merupakan sebuah kebanggaan. Dan kita hari ini berperang melawan Covid-19, saya yakin kita bisa melewatinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top