JATENG.MEDIA.ID – Bertempat di kediaman pribadi Kak Endah, NasDem Laweyan, Solo, mengadakan rapat koordinasi untuk membahas percepatan pembentukan struktur DPRt di 11 desa/kelurahan se-Kecamatan Laweyan.
Ketua DPC NaDem Laweyan, Kak Agus memimpin rapat yang dihadiri oleh Kordapil 7 Jateng Fauzi Bayu dan juga tuan rumah Kak Endah dalam kapasitasnya sebagai bendahara.
Menurut Fauzi Bayu, rapat tersebut memetakan kekuatan partai politik di masing-masing desa/kelurahan dengan mengacu hasil Pileg 2019 dan 2014. Di samping itu, rapat juga mengidentifikai orang-oang atau warga yang memiliki popularitas tinggi tetapi belum terafiliasi dengan partai politik manapun.
‘’Kami juga mendata politisi yang memiliki aseptabilitas tinggi, namun sedang galau dengan partai politiknya dan punya niat untuk pindah ke kapal lain,’’ ujarnya, Minggu (20/6).
Di Kecamatan Laweyan, lanjut Kak Fauzi Bayu atau sering disapa Kak Bayu, terbagi ke dalam 11 desa/kelurahan. ‘’Kami membuat matrik dari masing-masing desa/kelurahan dengan memasukan tiga atau empat orang yang nantinya akan bertugas sebagai leader dalam pembentukan pengurus ranting atau DPRt,’’ ujarnya.
Dalam matrik tersebut, juga sekaligus diidentifikasi tingkat popularitas dari masing-masing kader yang akan difungsikan sebagai leader. ‘’Misalnya, kita bahas nama si Badu. Pertama kita membuat resume tentang si Badu ini terkait dengan siapa, dan seberapa besar pengaruhnya di lapangan. Lantas kita membuat list, orang-orang yang menjadi follower si Badu ini, dengan menggunakan istilah di medsos, kita menentukan siapa pengikut dari si Badu, misalnya si Dodi. Setelah membuat itu, dilanjutkan juga dengan membuat daftar pengikut dari si Dodi.
Dengan membuat grafik pohon itu, akan diketahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing kader yang nantinya akan diijabah menjadi leader di tingkat kelurahan dengan tugas membentuk DPRt.
‘’Kalau hanya mencari orang yang mau terjun ngurusi politik, ya banyak. Namun yang kita cari adalah, warga yang mau terjun ke dunia politik sekaligus memiliki tiga atau empat jenjang agen di bawahnya dan harus menyebar dalam satu desa atau kelurahan,’’ ujar Bayu.
Komposisi Politik Surakarta
Komposisi perolehan kursi partai-partai politik dalam Pemilu 2019 telah mengubah peta politik di Kota Surakarta. PDI Perjuangan dengan 24 kursi menampilkan 13 anggota DPRD terpilih wajah baru, sedangkan sisanya incumbent atau petahana.
Dalam pemilu sebelumnya, partai ini menempatkan 15 kadernya di lembaga ini. Dua di antaranya tidak mencalonkan lagi yakni Bambang Wijayanto SH dan Willy Tandio WIbowo SH. Sedangkan dua yang lain-Marhaeni SE dan Sony Warsito AMd gagal masuk ke DPRD Kota Surakarta.
Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menempatkan lima kadernya duduk di DPRD. Dalam pemilu sebelumnya, partai ini hanya menempatkan empat kadernya. Dari empat kadernya tersebut, Ir Muhammad Rodhi terlipih menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Dapil V Jateng. Partai ini menduduki posisi kedua dalam perolehan kursi.
Partai Amanat Nasional (PAN) yang memperoleh jumlah suara lebih banyak menempati posisi ketiga dengan empat kursi. Empat kursi yang dimiliki PAN ini ada perubahan yang menempatiya. Dalam pemilu sebelumnya ditempati H Dedy Purnomo SH dan H Hami Mujadid Irsyad SAg, sekarang ditempati oleh Sugiyarsono dan Ahmad Sapari.
Lain lagi dengan Partai Golkar. Partai ini prolehan kursinya tetap empat tetapi terjadi perubahan personel. RM Kusraharjo mencalonkan diri ke tingkat provinsi dan posisi di DPRD Kota Surakarta diisi Taufiqurahman.
Adapun Partai Gerindra memperoleh tiga kursi, semuanya wajah baru. Kursi Tjatur Wardaningtias, S.Sos yang didapat dari Dapil Banjarsari hilang dan tergantikan dari Dapil Laweyan, Jebres, dan Dapil Banjarsari 2.
Partai Demokrat hanya berhasil menempatkan tiga kadernya, yang semula ada tujuh kursi di DPRD. Sedangkan Partai Hanura memperoleh satu kursi, demikian juga dengan PPP yang dalam periode sebelumnya tidak menempatkan kadernya di DPRD, kali ini mendapatkan satu kursi.


