JATENG.NASDEM.ID – Pembentukan DPRt memerlukan strategi khusus karena disamping melibatkan banyak personal juga harus berhubungan langsung dengan masyarakat. ‘’Di Klaten ini terbagi dalam 401 desa/kelurahan, jika satu ranting terdiri atas 55 pengurus, maka kami harus merekurt 22.055 kader,’’ ujar Koordinator Dapil Jateng 7 Fauzi Bayu, Rabu (16/), dalam percakapan tertulis.
Menurut Fauzi, saat ini NasDem Klaten sedang menyusun strategi dan rancangan implementasi untuk membangun struktur hingga DPRt.
‘’Alhamdulillah, Klaten telah merampungkan pembentukan di semua pengurus cabang yang berjumlah 26 DPC, saat ini sedang dalam proses verfikasi di DPW. Insyaalah tidak ada masalah yang berarti, sehingga segera mendapatkan pengesahan,’’ katanya.
Sambil menunggu proses pengesahan dan jadwal pelantikan DPC dari DPW dan DPP, ia menambahkan, NasDem Klaten mulai merancang untuk membentuk pengurus di tingkat ranting. ‘’Patokan kami deadline-nya adalah pada 31 Desember 2021, bersamaan dengan batas akhir pemenuhan target capaian e-KTA Klaten sebesar 22.257,’’ kata Fauzi Bayu yang akrab dipanggil Kakak Bayu.
Menurut Bayu, terhitung Juni ini masih tersisa waktu enam bulan untuk melakukan penguatan di tingkat ranting.
‘’Saya tidak mengatakan bisa atau tidak bisa. Karena apapun kondisinya, sudah ada perintah dari pengurus wilayah dan pusat untuk menyelesaikan pembentukan DPRt itu. Karena itu, tidak ada diskusi lain, kecuali membahas bagaimana meingimplementasikannya di lapangan,” katanya.
Berdasar hasil Pileg 2019, di Klaten terdapat 19 dari 50 anggota DPRD berasal dari PDIP. Bayu mejelaskan, hal itu sudah dapat dijadikan sebagai petunjuk atas preferensi politik masyarakat terhadap partai politik yang ada.
’Hampir 38 persen warga Klaten pada 2019 memilih PDIP atau caleg dari PDIP, jumlah itu mengalami kenaikan dibanding 2014 yang hanya kebagian 17 kursi,” katanya.
Preferensi politik masyarakat tersebut penting dalam rangka menyusun strategi pembentukan pengurus secara massal. ‘’Kalau mainnya petak umpet, takut mendapatkan serangan balik dari ‘lawan’ ya sampai ular punya ketiak juga belum akan selesai,” katanya berseloroh.
“Namun sebaliknya, jika dilakukan secara terbuka dalam kondisi politik yang sudah terdominasi salah satu kekuatan, ya pasti akan menimbulkan perkara lebih luas,’’ ujarnya menambahkan.
Karena itu, strategi yang akan digunakan adalah membuat pemetaan secara detail. ‘’Taruhlah 32 persen wilayah sudah dikuasai oleh satu kekuatan politik tertentu, artinya masih terbuka lebih enampuluh persen untuk dimainkan Karena itu, daerah-daerah yang warna politiknya belum kental, akan dibentuk kepengurusannya terlebih dahulu, baru setelah itu memikirkan wilayah yang sulit,’’ ujarnya.
Menurut Bayu, untuk wilayah yang sudah tersegmentasi politiknya secara ketat, maka siasat perang gerilya akan ditempuh. ‘’Jika dalam pemetaan wilayah itu ditemukan adanya dominasi dari partai politik tertentu, tidak hanya PDIP tetapi juga partai-partai lain, maka kami akan mencoba memainkannya dengan cara membangun sel di akar rumput. Cara ini pasti akan lebih memakan waktu, tetapi kami belum mendapatkan metode lain yang lebih efektif untuk menghadapi wilayah seperti itu,’’ katanya.
Fauzi Bayu selanjutnya menjelaskan, pihaknya juga akan membuat arah dasar yang akan ditempuh oleh kader NasDem Klaten dalam melakukan percepatan pembentukan pengurus di tingkat DPRt. ‘’Harus dirembug juga, personil-personil yang akan ngayahi masing-masing kecamatan. Para koordinator di setiap kecamatan itu bisa sekaligus ikut dalam kepengurusan tetapi juga berada di luar,” katanya.
“Namun yang pasti, ujung tombak di tingkat kecamatan itu adalah kader NasDem yang memiliki penguasaan mendetail baik peta politik maupun para panutan masyarakat,’’ katanya menekankan.
Karena dengan menguasai peta wilayah tersebut, memudahkan NasDem untuk bergerak mencari orang-oang yang memiliki popularitas dan aseptabilitas. ‘’Memang kedengarannya agak sombong, untuk wilayah kering-kerontang seperti di Klaten ini, kita masih mempertimbangkan aspek popularitas dan aseptabilitas dalam merekurt kader. Tetapi, hal ini harus dilakukan agar fungsionaris kita bukan orang yang sambang ndalan, atau orang-orang yang hanya dipungut dari jalan-jalan,’’ ujarnya.
Menurut Fauzi Bayu, wilayah Klaten terutama di dapil satu, sebenarnya menyimpan orang-orang yang sangat potensial. ‘’Umumnya mereka berpendidikan tinggi atau tamat SLTA. Mereka juga memiliki budaya baca yang tinggi sehingga kalau kita ajak ngobrol, bisa nyambung. Hanya saja, umumnya mereka, akan menjadi pendiam bila bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal,’’ katanya.
Menghadapi karakter orang Klaten yang sangat berhati-hati dalam menerima pemikiran atau orang-orang baru dilingkungannya, maka mencari tokoh-tokoh setempat sebagai endoser sangatlah penting.


