JATENG.NASDEM.ID- ‘’Silahkan kakak-kakak pengurus Boyolali berdiri,’’ ujar Wasekjen DPP NasDem Deddy Ramanta ketika menjadi moderotor dalam Konsolidasi DPP, DPW dan DPC NasDem se-Solo Raya di Hotel Brother, Sukaharjo beberapa waktu lalu.
“Lho kok cuma lima orang. Saya ulangi lagi, mohon kakak-kakak dari Boyolali berdiri,” yang disambut dengan suara lantang dari belakang, “Cuma ini kakak, Boyolali siap lima orang,” ujar Taufiqqurohman.
Lima orang pengurus Boyolali itu sebenarnya sangat tidak ideal, karena sebenarnya, untuk pengurus kabupaten saja melibatkan setidaknya 20 personil. Belum lagi untuk DPC minimal delapan orang.
“Di Boyolali terbagi atas 22 kecamatan, tetapi belum ada strukturnya,” ujar Sekretaris DPW NasDem Jateng Ali Mansyur.
Menurut lelaki yang akrab disapa Kakak Taufiq ini, masyarakat Boyolali memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain. “Belum lagi, ada satu partai yang menguasai panggung politik. Jadi ruang gerak kami benar-benar terhimpit,’’ ujarnya.
Pada Pileg 2019 lalu, dari 45 anggota DPRD, PDIP menyabet 35 kursi atau 77 persen, sedangkan sisanya dibagi-bagi ke Golkar (4 kursi), PKS (3 kursi), Gerindra (1 kursi), PKB (2 kursi).
“Merah kentel, kita dapat telur,’’ kelakar Taufiq.
Bila dibandingkan Pileg 2014, PDIP berhasil menambah perbendaharaan kursi sebanyak 10 buah yang semula hanya miliki 25 anggota. Nyaris semua partai kehilangan kursi kecuali PKB yang tetap bertahan dengan dua kursi. Golkar berada di posisi kedua dengan empat kursi, turun dua kursi dari sebelumnya enam anggota.
Selanjutnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turun satu kursi. dari semula empat kursi pada periode lalu, kini hanya mendapatan tiga kursi. Partai Gerindra yang sebelumnya mendapat empat kursi, kini hanya memperopeh satu anggota saja.
Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat, jika dalam periode 2014-2019 mendapatkan 3 kursi untuk PAN dan satu kursi untuk Partai Demokrat, dari hasil Pemilu 2019 ini, kedua parpol tersebut kehilangan kursi untuk DPRD Boyolali.
Menurut Taufiq, bila mencermati hasil Pileg 2019, maka medan laga di Boyolali itu sebenarnya didominasi oleh partai yang berideologi nasionalis.
“Buktinya kursi PKS berkurang sedangkan PAN kehilangan seluruh anggotanya. Hanya PKB yang bertahan dengan dua kursi,’’ ujarnya.
Bahkan tidak semua partai berhaluan nasional dapat menuai panen, ‘’Gerindra dan Golkar susut. Pileg 2019 dapat disebut panggungnya PDIP,’’ katanya.
Bila dilihat dari aspek pemerataan, Pileg 2014 lebih memberikan rasa keadilan bagi partai politik. PDIP dapat menambah sepuluh kursi di 2019, itu artinya, mengambil kursi milik partai politik lainnya, sebab jumlah anggota DPRD-nya tetap sama, yaitu 45 orang.
‘’Ya kalau ada yang tambah, secara otomatis harus ada yang merelakan kursinya diambil,’’ ujarnya.
Untuk itu, bila NasDem ingin kebagian kursi pada Pileg 2024 maka harus mulai menentukan daerah gerilya.
“Boyolali terbagi dalam lima dapil, sepertinya untuk bertarung di dapil satu masih cukup terbuka,’’ ujar Taufiq.
Menurut Wakil Sekjen Partai NasDem, Jakfar Sidik, untuk saat ini jangan berfikir dulu soal peperangan di Pileg 2024.
Fokus kita adalah memperkuat struktur dulu. Semua kecamatan harus ada pengurusnya, selanjutnya dilengkapi untuk mengisi struktur DPD. Memang, untuk Boyolali ini harus melalui jalan terjal,” tandasnya.
