Jajarannya juga kerap menerima aduan dari masyarakat yang tidak mendapat kamar meskipun bukan masa endemik penyakit tertentu.
Tak hanya itu, karena lokasi parkir berdekatan dengan bangsal maka asap knalpot kendaraan ikut masuk ke ruang layanan kesehatan tersebut. Kondisi ini diperparah dengan sirkulasi udara yang kurang nyaman di area rumah sakit plat merah tersebut.
“Lokasi RSUD Kartini saat ini juga bercampur dengan lingkungan pemukiman penduduk. Karena lahan sempit maka imbasnya pada kenyamanan pasien dan paramedis. Tapi memang harus ada kajian tanpa meninggalkan kebutuhan yang mendesak saat ini. Yang pasti harus ada langkah antisipasi bertambahnya jumlah penduduk seiring kian banyaknya rumah di Jepara,” tandas Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Jepara ini.
Pengelola RSUD Kartini Jepara tak keberatan dengan wacana pembangunan rumah sakit baru yang digulirkan jajaran Komisi C DPRD setempat.
Direktur RSUD Kartini Jepara, Dwi Susilowati mengatakan, pihaknya tak mempermasalahkan jika memang harus direlokasi ke tempat baru.
Hanya saja lokasi baru tersebut harus representatif baik dari sisi luas maupun kemudahan aksesnya.
“Sepakat relokasi. Tapi mencari tanah luas di atas 5 ribu meter persegi dengan akses yang mudah juga tidak mudah,” katanya, kepada RMOLJateng, Selasa (18/2).
Namun jika relokasi tidak mendapat tanah yang representatif, dia mengusulkan opsi lain. Meliputi tambahan lokasi baru tersebut digunakan untuk pengembangan unggulan berbagai pelayanan kesehatan. Seperti pelayanan jantung, rehabilitasi medik, ortopedi (bedah tulang) hingga pelayanan jiwa.
“Jadi yang ada sekarang jadi RSUD induk besar tapi punya berbagai layanan kesehatan tambahan di tempat baru,” ujarnya. (RMOLJateng.com)

