Adanya tudingan bahwa partai politik menjadi “penyumbang” kader yang korup dan bermasalah, menjadi keprihatinan banyak pihak di negeri ini. Parpol dipandang negatif, hanya memburu kekuasaan belaka, tanpa memberi pendidikan politik yang memadai bagi rakyat.
Keprihatinan tentang buruknya kualitas kader, ditambah dengan memudarnya semangat kebangsaan dan nasionalisme sebagai dampak dari Pilkada DKI yang sangat kental dengan politisasi SARA, menjadi latarbelakang didirikannya Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem.
Gubernur ABN IGK Manila mengatakan, ABN didirikan sebagai pusat pendidikan dan latihan bela negara untuk membentuk para kader partai yang memiliki sikap patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Para kader dibekali pendidikan karakter, wawasan kepartaian dan wawasan kebangsaan. Ketiga simpul ini diharapkan menghasilkan satu kesatuan yang kuat dalam kepribadian kader-kader Partai NasDem.
“Kader Partai NasDem yang sudah lulus dari sini harus, cerdas militan dan terampil serta memiliki loyalitas, kepatuhan dan kerja keras,” kata IGK Manila saat menerima kunjungan pimpinan dan perwakilan media massa asal Jateng di Kantor ABN, Pancoran, Jakarta, akhir pekan lalu.
Deputi I Bidang Akademik Ahmad Baidowi menambahkan, struktur kurikulum dalam program pendidikan ABN menitikberatkan pengembangan aspek kepribadian, kepartaian dan kebangsaan. Aspek kepribadian sebanyak 14 mata kuliah (MK). Aspek kepartaian 17 MK. Dan aspek kebangsaan 18 MK. Total mata kuliah yang ditempuh 48 MK selama empat bulan. Mereka menjalani pendidikan lima hari dalam seminggu dengan waktu efektif 8 jam per hari. Saat ini, ABN NasDem sudah mencetak 12 angkatan yang berasal dari 34 provinsi dari berbagai latar belakang pendidikan.
“Kami membatasi latar belakang pendidikan kader minimal Diploma 2, sehat jasmani dan rohani,” tegas Ahmad Baidowi.
ABN juga menyelenggarakan kursus singkat selama seminggu. Masuk Rabu, pulang Minggu. Program mingguan ini menghabiskan 58 MK. Kursus singkat telah diikuti oleh kader partai dari Jawa, meliputi Jabar dan Jateng masing-masing 5 angkatan, , DIY 1 angkatan dan DKI jakarta 3 angkatan.
“Dalam ABN, para kader diajari program asset based community development, bagaimana cara mereka mengimplementasikan janji-janji selama kampanye. Untuk menghindari, agar jangan sekadar pepesan kosong, janji kosong belaka,” ujar Baidowi.
Sayangnya, ABN tak memberi materi khusus tentang antikorupsi. Baidowi berkilah bahwa korupsi terjadi karena sistem yang bobrok dan kotor.
“Orangnya bersih, tapi karena sistemnya bobrok dan koruptif, maka orang itu mudah terjerat korupsi. Maka, kami mencetak kader berkualitas dan berkarakter, agar kelak mampu mengubah sistem politik yang bersih, jauh dari praktik politik uang dan politik transaksional,” tegasnya.
Kendati dipimpin IGK Manila yang jenderal purnawirawan berbintang dua dan Kolonel purnawirawan Eusibio Rebelo sebagai sekretaris utama, namun ABN NasDem menepis anggapan bahwa lembaga tersebut berbau militeristik.
“Yang jelas ini bukan kampus militer, tapi kampus bela negara. Yang betul, untuk pembentukan karakter dan disiplin, kami belajar dari yang diterapkan akademi militer. Harus diakui, pembentukan mental, disiplin, dan karakter itu yang terbaik yang dilakukan akademi militer, dan kami mengadopsinya,” ujar Eusibio Rebelo.
Penerapan disiplin, kata Belo, adalah dimulai dari bangun pagi hingga tidur malam. Ada apel pagi, latihan baris-berbaris, hingga pemberlakuan jam malam.
“Seluruh biaya pendidikan gratis, bahkan para kader kami berikan uang saku selama pendidikan. Kami pun menyewakan hotel untuk menginap kader wanita. Karena asrama di dalam kampus hanya untuk pria, maka wanita harus ditempatkan di luar kampus,” ujar Sandra, Staf Bagian Rumah Tangga.
Ketua Mahkamah Partai NasDem Saur Hutabarat mengungkapkan, sebagai partai modern dan terbuka, NasDem benar-benar ingin terbuka pada siapa saja. “Kami ingin menjadi partai yang terbuka dalam arti yang sebenarnya. Tak ada yang kami tutup-tutupi. Semuanya kami buka, agar rakyat mengetahui siapa kami dan apa saja yang sudah dan akan kami kerjakan,” ujar politisi yang juga wartawan senior ini.
Apa yang dilakukan Partai NasDem, bisa menjadi contoh bagi parpol lain. Mereka bisa belajar bagaimana membekali kadernya dengan pendidikan politik yang memadai, serta membekali mereka dengan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan.
Presiden Jokowi dalam sambutan saat membuka ABN setahun silam memuji berbagai fasilitas yang dimiliki ABN. “Saya senang sekali tadi melihat fasilitas yang ada di Akademi Bela Negara ini. Saya lihat toiletnya, kamar kecilnya sekelas bintang empat atau bintang lima.” Selain itu, fasilitas perpustakaan juga menjadi perhatian Jokowi. Ruang tersebut dianggap sebagai tempat yang modern dalam menyediakan jendela ilmu dunia.
“Perpustakaannya sangat modern, ruang kelasnya modern, inilah contoh Indonesia masa depan. Artinya, Akademi Bela Negara ini ingin menyiapkan kader bangsa melihat Indonesia ke depan, betul-betul disiapkan. Jangan sampai kita persiapkan kader bangsa masa depan dengan fasilitas seadanya. Ini membangun karakter bangsa,” ujar Jokowi.
SUMBER: http://sp.beritasatu.com/home/belajar-patriotisme-dan-nasionalisme-dari-sekolah-kader-partai-nasdem/123619


