JATENG.NASDEM.ID — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Jawa Tengah melalui Bidang Perempuan dan Anak menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film Anak-anak Bambu bersama sekitar 200 siswa-siswi SD Islam Permata Sari, Jl. Duwet No. 237, Tambangan, Kec. Mijen, Kota Semarang, Rabu (19/8/2026). Kegiatan berlangsung di XXI DP Mall Semarang.
Acara tersebut dihadiri Bendahara DPW Partai NasDem Jawa Tengah, Prianto A. Suryono. Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPW Partai NasDem Jawa Tengah, Udani Puji Lestari serta pengurus lainnya. Para siswa mengikuti kegiatan bersama guru dan staf sekolah dalam satu rombongan dari SD Islam Permata Sari menuju lokasi pemutaran film.
Nobar film Anak-anak Bambu ini tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan bagi para siswa, tetapi juga membawa pesan edukatif mengenai persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan, serta pentingnya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.
Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPW Partai NasDem Jawa Tengah, Udani Puji Lestari, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mempererat kebersamaan dan membangun kedekatan dengan anak-anak melalui kegiatan yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman baru.
“Tujuannya tentunya untuk mempererat kebersamaan, kedekatan kita dengan anak-anak. Pesertanya sekitar 200 siswa dari SD Islam Permata Sari, Semarang,” ujar Udani.
Menurut Udani, pemilihan film Anak-anak Bambu juga didasarkan pada pesan yang terkandung di dalam cerita. Film tersebut mengangkat kisah anak-anak dengan nilai persahabatan dan kekeluargaan, termasuk bagaimana mereka menghadapi sebuah perpisahan.
“Film ini bagus. Anak-anak Bambu, karya dari Dian Sunil Prasnowo dengan produser Elma Tiana. Secara sinopsisnya itu tentang persahabatan, tentang kekeluargaan, terus juga ada merelakan perpisahan,” katanya.
Film Anak-anak Bambu sendiri menggambarkan kehidupan anak-anak yang dihadapkan pada dinamika persahabatan, keluarga, dan lingkungan di sekitar mereka. Cerita berkembang ketika hubungan antartokoh diuji oleh keadaan dan pilihan orang-orang dewasa, termasuk persinggungan antara kepentingan ekonomi dengan keberadaan budaya lokal.
Sedikit spoiler, salah satu pesan penting yang muncul dalam film tersebut adalah tentang bagaimana anak-anak belajar menerima perubahan dan menghadapi perpisahan dengan orang maupun lingkungan yang mereka sayangi. Konflik dalam cerita juga memperlihatkan bagaimana kepentingan bisnis dapat berbenturan dengan upaya mempertahankan nilai dan budaya lokal.
Bagi Udani, pesan tersebut relevan untuk dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ia berharap pengalaman menonton film tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran dan cerita yang kemudian dibawa pulang untuk dibagikan kepada orang tua.
“Harapannya ketika anak-anak nanti nonton ini, karena film ini bagus, bisa menjadi pengalaman baru yang nanti bisa diceritakan ke orang tua di rumah,” ungkapnya.
Antusiasme para siswa terlihat sejak keberangkatan dari sekolah hingga tiba di lokasi pemutaran film. Sekitar 200 siswa datang secara bersama-sama menggunakan bus dari sekolah. Para guru dan staf SD Islam Permata Sari juga turut mendampingi kegiatan tersebut
“Antusiasmenya luar biasa. Tadi murid-murid itu sekitar 200 orang, datang satu rombongan, naik bus dari sekolah ke sini. Kayaknya happy banget. Ketika berkumpul di sini sampai mereka masuk, antusias banget, guru-gurunya juga ikut,” kata Udani.
Kepala SD Islam Permata Sari, Wastrini, S.Pd.I., turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan para siswa menunjukkan antusiasme tinggi sejak keberangkatan hingga selesai menyaksikan film.
“Antusiasme anak-anak dari SD Islam Permata Sari sangat luar biasa. Tidak ada satu anak pun yang izin hari ini. Dari keberangkatan sampai tadi melihat film itu sangat-sangat senang anak-anak,” ujar Wastrini.
Menurut Wastrini, film Anak-anak Bambu juga memiliki keterkaitan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini. Ia menilai pesan mengenai persinggungan kepentingan bisnis dengan budaya lokal menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan.
“Film itu memang menceritakan kehidupan sekarang, bahwasanya bisnis itu lebih diutamakan daripada budaya lokal. Jadi menurut saya film itu sangat-sangat relevan dengan kehidupan sekarang yang kita alami, terutama di bangsa Indonesia,” tuturnya.
Selain memberikan hiburan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk memperoleh pengalaman baru di luar lingkungan sekolah. Pesan mengenai persahabatan, keluarga, menerima perpisahan, serta menjaga budaya lokal menjadi nilai yang dapat mereka refleksikan setelah menyaksikan film.
Udani menambahkan, kegiatan serupa diharapkan tidak hanya dilaksanakan di Kota Semarang. Bidang Perempuan dan Anak DPW Partai NasDem Jawa Tengah berencana membawa kegiatan tersebut ke sejumlah kota dan kabupaten lain di Jawa Tengah.
“Ini mungkin pertama kali kami dari Bidang Perempuan dan Anak melakukan kegiatan seperti ini di Kota Semarang. Next, insyaallah kita pasti akan ke kota-kota ataupun ke kabupaten yang ada di Jawa Tengah,” kata Udani.
Melalui kegiatan nobar Anak-anak Bambu, DPW Partai NasDem Jawa Tengah berharap dapat menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memberikan pengalaman positif dan nilai pendidikan bagi anak-anak. Kebersamaan antara siswa, guru, dan penyelenggara diharapkan turut memperkuat pesan bahwa pendidikan karakter dapat disampaikan melalui berbagai cara, termasuk melalui karya film.

