18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Raja Berjiwa Demokrat

Ono Sarwono

Kader NasDem

JATENG.NASDEM.ID — ADA kekeliruan, bahkan ketersesatan persepsi tentang hakikat kepemimpinan di negeri ini. Kita menganut sistem demokrasi tetapi praktiknya bergaya feodalis. Setiap pemimpin merasa dirinya sebagai raja sehingga berhak bertindak apa saja.

Barangkali persepsi rancu itu terbangun karena kita masih mempertahankan frasa-frasa feodalisme dan kultur warisan kolonial. Misalnya, pemimpin itu penguasa, kantor dan tempat tinggalnya di istana, warga negara adalah rakyat, bertemu dikatakan sowan. Intinya pemimpin dimulia-muliakan.

Maka, akibat merasa dirinya raja, sikapnya menjadi adigang, adigung, adiguna dan cenderung otoriter. Maka tak aneh bila ada yang tak senang atau tidak sejalan dengan keinginannya dipersilakan minggat. Kritik dianggap aksi mbalela (makar) sehingga harus ditertibkan.

Sikap yang demikian itu tentu bertentangan dengan nilai dan prinsip demokrasi. Pemimpin itu dipilih atau diberi mandat oleh warga sebagai pemilik kedaulatan negara untuk periode tertentu. Jadi, pemimpin itu hanya mengemban amanah bukan pemilik kekuasaan.

Hal itu justru kebalikan dengan salah satu kisah dalam dunia wayang. Fitrahnya, pemimpinnya adalah raja yang tentu saja feodalis. Tapi penguasa tersebut berjiwa demokrat, jauh dari sikap sapa sira sapa ingsun (otoriter), padahal ‘konstitusinya’ memberikan hak bertindak sesukanya.

Raja yang berwatak kerakyatan itu bernama Drupada, penguasa Negara Pancala.  Pribadinya lembut dan santun tapi tegas. Dengan gaya kepemimpinannya seperti itu rakyat merasa diutamakan sehingga memiliki mimpi dan harapan hidup makmur sejahtera.

Diamanahi takhta

Syahdan, di Kampung Hargajambangan di Negara Atasangin, ada keluarga kecil dan hidup sederhana. Keluarga itu terdiri dari ayah dan ibu serta seorang anak bernama Sucitra. Meskipun anak dusun, lelaki muda itu bercita-cita tinggi.

Ia memiliki adik sepupu seumuran bernama Bambang Kumbayana. Keduanya pernah berguru kepada Begawan Ramaparasu di Pertapaan Dewasana. Bukan hanya ilmu kebatinan (spiritual) yang didapat, tetapi juga kemampuan perang.

Setelah dewasa, Sucitra pamit kepada orang tuanya untuk mencari pengalaman hidup dengan mengabdi kepada Raja Astina Prabu Pandudewanata. Kecerdasan dan pribadinya yang baik membuat sang raja terkesan hingga menganggapnya seperti saudara sendiri.

Pada suatu ketika, Pandu menyuruh Sucitra mengikuti sayembara perang tanding di Negara Pancala. Siapa yang mampu mengalahkan pangeran Gandamana berhak memboyong Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini.

Pandu mengerti kesaktian Gandamana. Sucitra tidak bakal menang apabila tidak memiliki piandel (pusaka) yang ampuh. Oleh karena itu, Pandu meminjamkan salah satu pusakanya berupa sumping yang membuat Sucitra sakti mandraguna.

Berpuluh peserta sayembara tumbang di gelanggang perang. Tidak ada satu pun yang berhasil. Jangankan mengalahkan, mengimbangi Gandamana pun tidak ada yang mampu. Kesatria tampan dan gagah itu terlalu tangguh bagi lawan-lawannya.

Tibalah giliran Sucitra menjajal. Sejujurnya dalam hatinya ciut menghadapi putra mahkota Pancala tersebut. Tapi karena dibekingi Pandu, muncul keberanian. Singkat cerita Gandamana mengaku kalah setelah tahu bahwa Sucitra ternyata utusan Pandu, orang yang dikagumi.

Dengan demikian Sucitra berhak menikahi Gandawati. Keberuntungannya tidak sampai di situ, ia mendapat ‘durian runtuh’, diangkat menjadi raja pasca-wafatnya Prabu Gandabayu. Kesempatan itu didapat karena Gandamana menolak berkuasa dan ingin mengabdi kepada Pandu.

Sucitra naik takhta bergelar Prabu Drupada. Namun, ia tidak bersedia mengenakan pakaian kebesaran raja, termasuk kuluk sebagai simbol penguasa tertinggi. Ia tetap hanya mengenakan pakaian biasa yang dimaknainya sebagai lambang kerakyatan.

Bukan hanya dalam berpakaian, tingkah lakunya pun santun dan bersahaja serta tak berjarak dengan rakyat. Gaya berpidatonya pun lembut dan tak hanya berisi janji-janji belaka (omon-omon). Drupada juga sederhana dan berhemat, tidak obral menggunakan anggaran negara.

Satu lagi keunikan Drupada. Meskipun penguasa tunggal, tidak sewenang-wenang mengambil langkah dan kebijakan. Patih Drestaketu dan para nayaka praja lain selalu dilibatkan. Gandamana yang sudah menjadi warangka dalem (patih) di Astina pun, masih dimintai izin dan pendapat.

Sikap mulia lain Drupada adalah kesadarannya bahwa takhta untuk rakyat. Ilmu ini didapat dari kepemimpinan Pandu. Oleh karena itu, rakyat menjadi subyek utama pembangunan. Bukan pembangunan yang diakali sebagai siasat memperkuat citra diri demi melanggengkan kekuasaan.

Konsekuensinya, Drupada tak jengah bila ada protes dari rakyat, sekeras apapun. Setiap aksi unjuk rasa di alun-alun ditemui dan didengar pesannya. Ini juga cara untuk mengetahui kemurnian suara nurani rakyat karena bisikan para nayaka praja di kiri-kanannya kerap bias, asal raja senang.

Dengan cara demikian itu, semua program pembangunan didukung rakyat sehingga berjalan lancar dan sukses. Budaya gotong-royong pun tumbuh subur di setiap sendi kehidupan masyarakat. Persatuan nasional semakin kuat dan negara berjaya.

Negara kondang

Pada akhirnya Pancala menjadi negara kondang. Meski tak sebesar Astina, berkat kepemimpinan Drupada, rakyat hidup makmur dan sejahera. Drupada merasa lega bahwa amanah (takhta) yang dititipkan sang mertua dapat dikelolanya dengan baik.

Keberhasilan Drupada memimpin Pancala berbuah berkah lain. Putri pertamanya, Drupadi, dipinang sulung Pandawa yang menjadi Raja Amarta Prabu Puntadewa. Putri kedua, Srikandi, dinikahi panengah Pandawa, Arjuna, yang dikenal sebagai kesatria lelenanging jagat.

Demikian sekelumit kisah kepemimpinan Drupada. Raja berwatak demokrat. Ia sungguh-sungguh mengejawantahkan jiwa kerakyatannya dalam setiap program pembangunan, bukan menikmati hegemoni kekuasaan demi kepuasan diri.

Nilai dari kisah di atas adalah pemimpin yang mengembam amanah dengan penuh kejujuran dan keikhlasan sesuai dengan sumpah jabatannya. Dan sukses pemimpin itu diukur dari tercapainya kesejahteraan seluruh warga negara. ***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top