JATENG.NASDEM.ID — Enam mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro melaksanakan kunjungan akademik ke Kantor DPW Partai NasDem Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di lantai 3 kantor DPW Partai NasDem Jawa Tengah tersebut menjadi bagian dari mata kuliah Lembaga dan Proses Pemerintahan di Indonesia.
Kunjungan akademik itu disambut oleh dua pengurus DPW Partai NasDem Jawa Tengah, yakni Ali Mansur HD dan Aidris Saputro. Agenda yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu berlangsung dengan hangat dan interaktif.
Dalam pemaparannya, Ali Mansur HD menjelaskan sejarah lahirnya Partai NasDem yang berawal dari organisasi masyarakat Nasional Demokrat. Menurutnya, gerakan tersebut lahir dari kegelisahan terhadap praktik demokrasi yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan rakyat.
“Manifesto NasDem menolak demokrasi yang hanya merumitkan tata cara pemerintahan tanpa memperdulikan kesejahteraan umum, menolak demokrasi yang hanya melakukan rutinitas kekuasaan, serta menolak demokrasi tanpa orientasi publik,” ujar Ali Mansur.
Ali Mansur juga memaparkan proses panjang verifikasi partai politik hingga akhirnya Partai NasDem resmi lolos sebagai partai politik pada 11 November 2011. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Partai NasDem.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung perkembangan elektoral Partai NasDem sejak pertama kali mengikuti pemilu. Pada Pemilu 2014, Partai NasDem sebagai partai baru berhasil memperoleh 36 kursi DPR RI, kemudian meningkat menjadi 59 kursi pada Pemilu 2019 dan 69 kursi pada Pemilu 2024.
Menurutnya, Partai NasDem berasaskan Pancasila dengan ciri gerakan perubahan dan restorasi Indonesia. Adapun visi partai adalah mewujudkan Indonesia yang merdeka sebagai negara bangsa yang berdaulat secara ekonomi dan bermartabat secara budaya.
Selain membahas sejarah partai, Ali Mansur juga menyoroti persoalan pendidikan politik dan praktik politik uang di Indonesia. Ia menyebut perubahan sistem pemilu berbasis suara terbanyak sejak 2009 menjadi salah satu faktor meningkatnya praktik money politics.
“Dulu pembiayaan politik lebih banyak untuk kampanye dan saksi. Setelah sistem suara terbanyak diterapkan, praktik serangan fajar mulai marak,” katanya.
Sementara itu, Aidris Saputro menjelaskan komitmen Partai NasDem terhadap pemberdayaan perempuan dalam politik. Menurutnya, perempuan di Partai NasDem tidak hanya ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan didorong menjadi figur yang mandiri dan memiliki kompetensi politik.
Ia menyebut Partai NasDem secara rutin mengadakan Akademi Perempuan NasDem melalui forum nasional daring untuk meningkatkan kapasitas kader perempuan di berbagai daerah.
Dalam sesi wawancara, salah satu mahasiswa HI Undip, Diandra Giovani Hayansari Ahmadi, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memahami secara langsung proses politik dan kelembagaan partai di Indonesia.
“Melalui observasi langsung ini kami jadi memahami proses politik secara lebih nyata. Tadi juga dijelaskan mengenai pendidikan perempuan di Partai NasDem yang ternyata berkaitan erat dengan isu politik internasional dan hubungan internasional itu sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan DPW Partai NasDem Jawa Tengah kepada rombongan mahasiswa.
“Kami disambut dengan hangat dan sangat berkesan. Semoga NasDem ke depan semakin eksis di masyarakat dan mampu mencapai visi manifesto Nasional Demokrat,” katanya.

