18Tube.tv is a free hosting service for porn videos. You can create your verified user account to upload porn videos to our website in several different formats. 18tube Every porn video you upload will be processed in up to 5 working days. You can also use our embed code to share our porn videos on other websites. On 18Tube.tv you’ll also find exclusive porn productions shot by ourselves. Surf around each of our categorized sex sections and choose your favorite one: amateur porn videos, anal, big ass, blonde, brunette, etc. You will also find gay and transsexual porn videos in their corresponding sections on our website. Watching porn videos is completely free!

Pemimpin Impulsif

Ono Sarwono

JATENG.NASDEM.ID — DALAM sejarahnya, Negara Astina memiliki pemimpin yang berbeda-beda gaya dan wataknya. Misalnya Sentanu, dikenal cekatan dan penuh perhitungan. Kresna Dwipayana, arif dan sangat hati-hati. Pandu Dewanata lemah lembut namun tegas.

Selain itu, Astina juga pernah dipimpin oleh raja yang impulsif dan grusa-grusu, artinya terburu-buru atau gegabah. Tabiatnya pun keras kepala, ngamukan (emosional), dan anti-kritik sehingga cenderung otoriter. Raja bebal bin ahistoris itu bernama Duryudana.

Akibat gaya kepemimpinan demikian, rezim Duryudana beserta Kabinet Kurawa-nya tidak mendapat dukungan rakyat dan akhirnya ditamatkan oleh ‘revolusi’ yang dipimpin Pandawa. Astina kemudian kembali dipimpin raja yang berwatak mulia.

Tak memenuhi syarat

Munculnya Duryudana sebagai pemimpin adalah anomali. Pasca-wafatnya Prabu Pandu Dewanata, yang berhak nglungsur keprabon (mewarisi takhta seharusnya putranya (Pandawa), yaitu Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Namun, lewat akal culas Sengkuni yang menabrak paugeran (konstitusi), Duryudana duduk di singgasana raja. Padahal, sulung Kurawa itu tidak punya kapabilitas memimpin negara besar yang didirikan oleh para leluhur dengan cita-cita luhur.

Duryudana memang tidak pernah digadang-gadang menjadi raja karena bukan ahli waris takhta Astina. Hanya karena ambisi ibunya (Gendari), Sengkuni nekat ‘berkreasi’ dan berhasil mengantarkan keponakannya itu menjadi penguasa.

Dalam tradisi istana, bakal raja itu umumnya menyandang predikat putra mahkota. Sejak dini digembleng lahir-batin, dibekali berbagai ilmu perang dan kenegaraan. Biasanya juga disyaratkan kasinungan (mendapat) wahyu sebagai pertanda telah mengantongi ‘sertifikat’ dari dewa.

Jadi, Duryudana itu tidak memenuhi persyaratan apa pun. Dalam keluarga istana, ia memang cucu Kresna Dwipayana, mantan raja Astina, sama seperti Pandawa. Namun, putra Drestarastra (kakak Pandu) itu tidak selayaknya menjadi raja.

Faktanya Duryudana sudah telanjur dinobatkan sebagai raja oleh bapaknya sendiri yang memegang kendali kekuasaan sementara sepeninggal Pandu. Inilah kodrat buruk Astina karena dipimpin oleh sosok yang benar-benar ‘grade’ rendah.

Sesepuh Astina, Resi Bhisma, tidak ingin negara terpuruk. Maka ia bersedia mendampingi Duryudana. Selain itu, dalam kabinet ikut serta Begawan Durna yang diharapkan bersama-sama membimbing agar pemerintahannya baik.

Ternyata dalam perjalanannya, Duryudana tak pernah menerima saran dan nasihat Bhisma dan Durna. Padahal, pendapat serta pertimbangan dua paranpara tersebut selalu mengedepankan laku utama, kemanusiaan, dan kepentingan rakyat.

Duryudana hanya menuruti naluri kirinya yang impulsif. Karena itu, tak aneh bila setiap langkah dan kebijakannya selalu tergesa-gesa, tanpa pertimbangan matang. Padahal keputusan raja berdampak besar bagi negara, bahkan kekuasaannya sendiri.

Salah pilih

Salah satu keputusan fatal karena ke-grusa-grusu-annya ketika memilih Kresna atau seribu raja dengan semua bala tentaranya menjelang meletusnya Bharatayuda. Pada saat itu Kresna menjadi rebutan Pandawa dan Kurawa.

Sebelum mengambil keputusan, Durna menasihati Duryudana agar berpikir masak-masak. Pada akhirnya, seribu raja yang dipilih karena alasan besarnya kekuatan. Perhitungannya, Pandawa yang hanya dibotohi satu orang, Kresna, pasti kalah.

Betapa kecewanya Durna. Hikmatnya, Kresna itu titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan jagat. Siapa saja yang didukungnya pasti akan menang perang. Tapi Durna malah dianggap bodoh karena dinilai tidak bisa berpikir strategis.

Duryudana kian mantap dengan pilihannya karena didukung Sengkuni. Selama memerintah, Sengkuni satu-satunya nayaka praja yang didengar. Maka tidak aneh pula bila ada yang berpendapat bahwa pemerintahannya dijalankan atas bisikan antek asing itu.

Seperti diketahui, Sengkuni yang memiliki nama muda Arya Suman berada di Astina karena mengikuti kakaknya, Gendari, yang diperistri Drestarastra. Aslinya ia warga negara Plasajenar. Karena pengaruh kakak ipar, Sengkuni mendapat tempat di lingkaran istana.

Selama Duryudana berkuasa, kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela di segala bidang pemerintahan. Semua program yang dilabeli untuk kesejahteraan rakyat kenyataannya hanya menguntungkan keluarga Kurawa dan kroni-kroninya.

Anggaran negara yang sebagian besar dikumpulkan dari pajak rakyat digunakan dengan seenaknya untuk kepentingan rezim. Kekayaan negara yang berupa hutan dan berbagai sumber daya alam dijarah gerombolan elite yang berkongkalingkong dengan penguasa.

Dalam hubungan internasional, Duryudana lebih suka menjalin persahabatan dengan para raja yang berhaluan bengis. Mereka adalah para penguasa yang pada akhirnya hanya ingin mengambil kekayaan alam Astina yang seharusnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Akibat kesewenang-wenangan Duryudana mengelola kekuasaan, terjadi protes rakyat di mana-mana. Namun semua dibungkam dengan kekerasan. Perlakuan itulah yang membuat rakyat kemudian bersatu dan menggulirkan gerakan pergantian rezim zalim.

Pada bagian lain, Pandawa yang hidup terlunta-lunta dan terus menjadi target pembunuhan Kurawa, mendengar gejolak politik di Astina. Kresna pun mendorong Pandawa bahwa telah tiba waktunya untuk mengambil langkah.

Kepada lima adik sepupunya itu, Kresna membeberkan bahwa para dewa telah mengizinkan Pandawa mengakhiri rezim Kurawa. Skenario jalannya perang tertulis dalam Kitab Jitabsara yang sudah berada dalam genggamannya.

Rezim zalim lenyap

Maka, setelah merampungkan laku prihatin di Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan hidup menyamar setahun di Wiratha, Pandawa memulai gerakan radikal bertitel Bharatayuda. Mereka didukung rakyat Astina yang selama ini sengsara.

Hanya dalam waktu 18 hari gerakan itu membuahkan hasil. Rezim Kurawa lenyap hingga ke akar-akarnya. Pandawa kembali mendapakan haknya sebagai ahli waris takhta Astina. Puntadewa dinobatkan sebagai raja baru bergelar Prabu Kalimataya.

Demikianlah cerita singkat tentang negara besar dan kaya raya Astina yang dalam perjalanannya pernah mengalami era keterpurukan ketika rezim Kurawa berkuasa. Duryudana tercatat sebagai raja terburuk dalam sejarah Astina. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top